Iran Tegaskan Inggris Ikut Agresi Jika Izinkan AS Gunakan Pangkalan Militer


 Iran Tegaskan Inggris Ikut Agresi Jika Izinkan AS Gunakan Pangkalan Militer Menlu Iran Abbas Araghchi. (Teheran Times)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Ketegangan geopolitik kembali memanas setelah Iran secara terbuka memperingatkan Inggris terkait perannya dalam konflik yang melibatkan Amerika Serikat.

Pemerintah Iran menilai keputusan Inggris yang mengizinkan Amerika Serikat menggunakan pangkalan militernya sebagai bentuk keterlibatan langsung dalam agresi. Pernyataan tegas ini disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Iran, Seyyed Abbas Araghchi, dalam percakapan telepon dengan pejabat Inggris.

Araghchi menegaskan bahwa langkah tersebut tidak bisa dianggap netral. Ia bahkan menyebutnya sebagai tindakan yang akan “tercatat dalam sejarah hubungan kedua negara.”

Selain itu, Iran juga mengkritik sikap Inggris yang dinilai “negatif dan bias” dalam merespons konflik yang sedang berlangsung. Teheran pun mendesak London untuk menghentikan segala bentuk kerja sama militer dengan Amerika Serikat.

Di sisi lain, pemerintah Inggris memberikan klarifikasi. Mereka menyatakan tidak terlibat dalam serangan awal terhadap Iran.

Namun, Inggris mengakui telah memberikan izin terbatas kepada AS untuk menggunakan pangkalan militer mereka dalam konteks pertahanan.

Pernyataan resmi dari Downing Street menegaskan bahwa langkah tersebut dilakukan sebagai respons terhadap ancaman yang dianggap mendesak, sekaligus sebagai upaya membuka kembali jalur diplomasi.

“Kami tidak berpartisipasi dalam serangan awal, dan kami tidak akan terlibat dalam perang yang lebih luas,” demikian pernyataan pemerintah Inggris.

Meski begitu, kebijakan ini tetap menuai tekanan, termasuk dari Presiden AS Donald Trump yang secara terbuka mengkritik Inggris karena dinilai kurang terlibat dalam konflik tersebut.

Perdana Menteri Inggris, Sir Keir Starmer, tetap pada pendiriannya. Ia menegaskan bahwa semua keputusan diambil demi kepentingan nasional Inggris.

Di tengah ketegangan tersebut, konflik juga berdampak luas pada stabilitas global, khususnya sektor energi. Jalur strategis Selat Hormuz—yang menjadi salah satu rute utama distribusi minyak dunia—mengalami penurunan drastis aktivitas kapal.

Iran bahkan mengancam akan menyerang kapal tertentu menggunakan drone dan rudal, yang semakin memperburuk situasi.

Dikutip dari BBC, penurunan lalu lintas di Selat Hormuz telah memicu lonjakan harga minyak dan gas secara signifikan, sekaligus mengguncang pasar keuangan global.

Kondisi ini membuat tekanan ekonomi semakin terasa, termasuk pada biaya hidup masyarakat di berbagai negara.Merespons situasi tersebut, Inggris menyatakan tengah berkoordinasi dengan sekutu internasional untuk merumuskan langkah kolektif guna membuka kembali jalur pelayaran tersebut.

Namun di dalam negeri, pemerintah Inggris juga menghadapi kritik. Partai Hijau Inggris dan Wales mendesak agar izin penggunaan pangkalan militer oleh AS dicabut.

Mereka menilai kebijakan tersebut berpotensi menyeret Inggris lebih jauh ke dalam konflik yang dianggap tidak sah.

Tak hanya itu, para anggota parlemen juga meminta transparansi pemerintah, termasuk terkait dampak serangan terhadap warga sipil Iran.

Di tengah kompleksitas konflik ini, satu hal menjadi jelas: ketegangan antara Iran, Inggris, dan Amerika Serikat bukan hanya soal militer, tetapi juga menyangkut stabilitas global yang lebih luas.

Dan selama jalur diplomasi belum menemukan titik terang, dunia masih harus bersiap menghadapi dampak yang lebih besar.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru