Jepang Lepas 20 Persen Cadangan Minyak Akibat Gangguan Pasokan Timur Tengah


 Jepang Lepas 20 Persen Cadangan Minyak Akibat Gangguan Pasokan Timur Tengah Jepang Lepas 20 Persen Cadangan Minyak Akibat Gangguan Pasokan Timur Tengah. (Pixabay)

JAKARTA, ARAHKITA.COM - Jepang mengambil langkah darurat dengan melepaskan sebagian cadangan minyak nasional di tengah terganggunya pasokan dari Timur Tengah.

Pemerintah Jepang akan mulai menjual minyak dari cadangan nasionalnya pada 26 Maret setelah pengiriman minyak mentah dari kawasan Timur Tengah menurun tajam akibat penutupan Selat Hormuz secara de facto.

Sebanyak sekitar 53 juta barel minyak, setara konsumsi domestik selama satu bulan, akan dilepas ke pasar melalui empat pedagang grosir utama berdasarkan kontrak yang telah dinegosiasikan.

Keputusan ini, dilansir Asahi Shimbun, diumumkan dalam pertemuan para menteri Kabinet yang membahas situasi Timur Tengah pada 24 Maret.

Volume tersebut setara dengan sekitar 20 persen dari total cadangan nasional Jepang yang mencakup 146 hari konsumsi domestik per 21 Maret.

Presiden Asosiasi Perminyakan Jepang, Shunichi Kito, menyatakan pemerintah diharapkan segera mempertimbangkan pelepasan tambahan jika kondisi belum membaik.

Langkah ini menjadi pelepasan kedua cadangan minyak nasional Jepang berdasarkan undang-undang yang berlaku, setelah sebelumnya dilakukan saat merespons invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.

Distribusi minyak akan dilakukan secara bertahap dari 11 dari 20 fasilitas penyimpanan, termasuk di Hokkaido dan Prefektur Kagoshima, menggunakan kapal tanker dan jaringan pipa menuju kilang.

Minyak tersebut akan dijual dengan harga sebelum lonjakan yang dipicu meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, dengan potensi pendapatan mencapai sekitar 540 miliar yen atau sekitar 3,4 miliar dolar AS.

Selain cadangan nasional, Jepang juga akan melepaskan minyak dari tangki sektor swasta yang disewakan kepada perusahaan energi dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Kuwait.

Dalam skema penimbunan bersama, fasilitas di Kagoshima dan Okinawa biasanya digunakan sebagai basis distribusi untuk pasar Asia, namun dalam kondisi darurat Jepang memiliki prioritas akses terhadap pasokan tersebut.

Dari cadangan sektor swasta yang setara dengan enam hari konsumsi domestik, minyak sebanyak lima hari akan dilepas ke pasar.

Pemerintah juga telah menurunkan kewajiban cadangan minimum bagi pedagang minyak dari 70 hari menjadi 55 hari sejak 16 Maret, sehingga memungkinkan pelepasan tambahan setara 15 hari konsumsi.

Secara keseluruhan, pelepasan dari cadangan nasional dan sektor swasta diperkirakan mencapai sekitar 90 juta barel atau setara hampir 50 hari kebutuhan domestik.

Di sisi lain, Jepang juga berupaya mencari jalur distribusi alternatif untuk menghindari Selat Hormuz. Beberapa kapal tanker dari Uni Emirat Arab dan Arab Saudi diperkirakan tiba di Jepang pada akhir Maret atau setelahnya.

Namun, volume pasokan dari jalur alternatif diperkirakan tetap terbatas.

Pemerintah bersama Asosiasi Perminyakan Jepang juga tengah mempertimbangkan peningkatan impor minyak dari Amerika Serikat, meski pengiriman baru diperkirakan tiba pada Juni atau setelahnya.

Editor : Lintang Rowe

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru