Paus Leo XIV mengatakan konflik di Timur Tengah itu 'mengerikan' dan Yesus tidak boleh digunakan untuk membenarkan perang. (Foto: Anadolu/Getty Images/The Guardian)
VATIKAN, ARAHKITA.COM – Pesan kuat dan penuh makna disampaikan Paus Leo XIV dalam Misa Minggu Palma di Lapangan Santo Petrus. Di hadapan puluhan ribu umat, Paus menegaskan satu hal yang menggema: Tuhan tidak mendengarkan doa para pemimpin yang melancarkan perang.
Pernyataan ini sontak menjadi sorotan dunia. Banyak pihak menilai, pesan tersebut merupakan kritik tersirat terhadap kebijakan Amerika Serikat, terutama di tengah meningkatnya ketegangan militer di Timur Tengah.
Mengutip laporan The Guardian dan Vatican News, Paus Leo XIV menekankan bahwa Yesus adalah “Raja Damai” yang menolak segala bentuk kekerasan.
“Yesus tidak dapat digunakan untuk membenarkan perang. Ia tidak mendengarkan doa-doa orang yang berperang, tetapi menolaknya,” tegas Paus.
Pesan Damai di Tengah Ancaman Perang
Baca juga:
ASEAN Desak AS dan Iran Tahan Eskalasi, Khawatir Upaya Perdamaian Timur Tengah Gagal TotalPernyataan Paus muncul di saat situasi global sedang memanas. Ribuan pasukan Amerika Serikat dilaporkan telah dikerahkan ke kawasan Timur Tengah, memicu kekhawatiran akan konflik yang lebih luas, khususnya melibatkan Iran dan Israel.
Tak hanya itu, kontroversi juga muncul setelah Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, menyampaikan doa yang mengandung seruan kekerasan terhadap musuh yang dianggap “tidak pantas mendapat belas kasihan”.
Baca juga:
Iran Terima Usulan Mediator, Tegaskan Jalur Diplomatik Tetap Berjalan di Tengah Konflik dengan ASDalam konteks inilah, pesan Paus terasa semakin relevan—bahkan tajam.
Ia mengutip Kitab Yesaya: “Meskipun kamu banyak berdoa, Aku tidak akan mendengarkan: tanganmu penuh dengan darah.”
Pesan tersebut bukan sekadar refleksi spiritual, tetapi juga kritik moral terhadap penggunaan agama untuk membenarkan perang.
Yesus Tidak Membalas Kekerasan
Dalam homilinya, Paus Leo XIV mengajak umat merenungkan jalan Yesus saat menghadapi penderitaan.
Alih-alih melawan, Yesus memilih jalan damai—bahkan ketika nyawa-Nya terancam.
“Ia tetap teguh dalam kelembutan ketika yang lain membangkitkan kekerasan,” ungkap Paus, dikutip dari Vatican News.
Ketika seorang murid mengangkat pedang untuk melindungi-Nya, Yesus justru memerintahkan untuk menghentikannya. Sebuah pesan yang jelas: kekerasan tidak pernah menjadi jalan Tuhan.
Agama Bukan Alat Legitimasi Perang
Paus Leo XIV juga menyoroti fenomena berbahaya yang kerap terjadi dalam konflik global: penggunaan agama sebagai pembenaran kekerasan.
Menurutnya, hal ini justru bertentangan dengan inti ajaran iman itu sendiri.
“Yesus mengungkapkan wajah Allah yang lembut, yang selalu menolak kekerasan.”
Pesan ini menjadi pengingat penting, terutama ketika para pemimpin dunia membawa narasi religius dalam keputusan militer mereka.
Dunia yang Terluka dan Seruan Rekonsiliasi
Lebih jauh, Paus Leo XIV mengungkapkan keprihatinannya atas penderitaan manusia di berbagai belahan dunia akibat perang.Ia mengajak seluruh umat untuk tidak menutup mata terhadap luka kemanusiaan yang terus terjadi.
“Penderitaan mereka menyentuh hati nurani kita semua.”
Paus pun menyerukan doa kepada “Pangeran Damai” agar membuka jalan menuju rekonsiliasi dan perdamaian sejati.
Momentum Minggu Palma: Refleksi dan Harapan
Minggu Palma menandai awal Pekan Suci dalam tradisi Kristen—sebuah momen refleksi atas penderitaan, kematian, dan kebangkitan Yesus.
Di tengah suasana dunia yang diliputi konflik, pesan Paus Leo XIV menjadi pengingat kuat bahwa damai bukan sekadar harapan, tetapi pilihan yang harus diperjuangkan.
Ia menutup dengan seruan penuh harap:
“Letakkan senjatamu. Ingatlah bahwa kalian adalah saudara dan saudari.”