Kamis, 17 September 2026

Pesan Paskah Paus Leo XIV: Kasih Mengalahkan Kebencian dan Meruntuhkan Kekuasaan


 Pesan Paskah Paus Leo XIV: Kasih Mengalahkan Kebencian dan Meruntuhkan Kekuasaan Paus Leo berarak memasuki Basilika Santo Petrus (@Vatican Media)

VATICAN CITY, ARAHKITA.COM – Perayaan Misa Malam Paskah di Basilika Santo Petrus tahun ini membawa pesan kuat tentang harapan dan kasih. Paus Leo XIV menegaskan bahwa Paskah bukan sekadar perayaan kebangkitan, tetapi juga momen untuk mengalahkan kebencian dan memulihkan kehidupan.

Dalam homilinya pada Sabtu (4/4/2026), Paus mengingatkan bahwa di tengah dunia yang penuh konflik, Tuhan menjawab kekerasan bukan dengan balasan serupa, melainkan dengan kasih yang menyatukan.

“Allah menanggapi kekerasan dosa yang memecah belah dengan kekuatan kasih yang memulihkan kehidupan,” ujar Paus.

Paskah: Lebih dari Sekadar Peristiwa Sejarah

Paus Leo XIV menjelaskan bahwa makna Paskah tidak berhenti pada kebangkitan Yesus saja. Peristiwa ini merupakan bagian dari perjalanan panjang “sejarah keselamatan” yang terus berlangsung sepanjang zaman.

Melalui bacaan Kitab Suci dalam liturgi, umat diajak menelusuri jejak kasih Tuhan—dari penciptaan dunia, pembebasan bangsa Israel dari Mesir, hingga pelayanan para rasul.

Benang merah dari seluruh kisah ini jelas: kasih Tuhan selalu hadir untuk memulihkan, bukan menghancurkan.

Kasih yang Melampaui Kematian

Dalam refleksinya tentang Injil, Paus mengangkat kisah dua Maria yang datang ke makam Yesus. Saat batu besar terguling akibat gempa, mereka menyaksikan sesuatu yang lebih besar dari sekadar peristiwa fisik.

Paus menegaskan bahwa kebangkitan Kristus adalah bukti bahwa kasih Tuhan tidak bisa dikalahkan—bahkan oleh kematian sekalipun.

Menurutnya, manusia mungkin mampu menghancurkan tubuh, tetapi kehidupan yang berasal dari kasih ilahi tidak akan pernah bisa dipenjarakan oleh kubur.

Menghadapi Dunia yang Terluka

Di bagian akhir homilinya, Paus Leo XIV menyoroti realitas dunia saat ini yang masih dipenuhi berbagai “kubur” modern—mulai dari ketakutan, egoisme, hingga kebencian.

Ia juga menyinggung persoalan global seperti perang, ketidakadilan, dan keterasingan antarbangsa yang masih menjadi tantangan nyata.

Namun, Paus mengajak umat untuk tidak menyerah pada situasi tersebut.

Alih-alih terjebak dalam keputusasaan, umat diajak meneladani para santo dan terus berkomitmen menghadirkan kasih dalam kehidupan sehari-hari dikutip dari Vatican News.

Harapan Paskah untuk Dunia

Paskah, menurut Paus, adalah panggilan untuk bertindak. Bukan hanya merayakan, tetapi juga menghadirkan damai di tengah dunia yang rapuh.

Ia berharap semangat Paskah mampu menumbuhkan harmoni dan perdamaian—bukan hanya dalam lingkup pribadi, tetapi juga di seluruh dunia.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru