Seorang penjual menjual serat nabati di sebuah pasar di Khartoum, Sudan, 5 Februari 2026. ANTARA/Xinhua/Mohamed Khidir
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Konflik bersenjata di Sudan kini memasuki tahun keempat, dengan dampak yang semakin meluas dan menghancurkan berbagai aspek kehidupan masyarakat. Pertempuran antara Angkatan Bersenjata Sudan dan kelompok paramiliter Pasukan Pendukung Cepat terus memicu krisis kemanusiaan yang disebut sebagai salah satu yang terbesar di dunia saat ini.
Data terbaru dari berbagai organisasi internasional yang dikutipMinggu (19/4/2026) menunjukkan bahwa korban jiwa terus bertambah. Kementerian Kesehatan Sudan mencatat sekitar 33.000 kematian, meski angka sebenarnya diperkirakan lebih tinggi karena keterbatasan akses data di wilayah konflik.
Dampak perang juga terlihat dari tingginya angka pengungsi. Menurut Organisasi Internasional untuk Migrasi, jumlah pengungsi internal sempat mencapai lebih dari 11 juta orang pada awal 2025 dan kini masih berada di kisaran 9 juta orang.
Selain itu, sekitar 3,9 juta warga Sudan mengungsi ke negara-negara tetangga seperti Mesir, Chad, Libya, Sudan Selatan, Uganda, dan Ethiopia, menciptakan tekanan baru bagi kawasan tersebut.
Baca juga:
Sekutu Eropa Menjauh dari Dewan Perdamaian Trump, KTT Washington Dibayangi Skeptisisme GlobalKrisis kemanusiaan di Sudan semakin memburuk dengan dua dari tiga penduduk membutuhkan bantuan untuk bertahan hidup. Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan menyebut kondisi ini sebagai krisis terbesar secara global saat ini.
Anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan. UNICEF melaporkan sedikitnya 4,2 juta anak berisiko mengalami malnutrisi, sementara lebih dari 8 juta lainnya kehilangan akses pendidikan.
Situasi kelaparan juga semakin mengkhawatirkan. Laporan Klasifikasi Fase Ketahanan Pangan Terpadu mengonfirmasi adanya kondisi kelaparan di wilayah El Fasher (Darfur Utara) dan Kadugli (Kordofan Selatan), dengan jutaan orang lainnya berada di ambang krisis serupa.
Di sektor kesehatan, Organisasi Kesehatan Dunia mencatat sekitar 37 persen fasilitas kesehatan tidak lagi beroperasi. Akibatnya, lebih dari 21 juta warga membutuhkan layanan kesehatan di tengah keterbatasan yang parah.
Dari sisi ekonomi, situasi tidak kalah memprihatinkan. Lebih dari 5 juta orang kehilangan mata pencaharian, dan lebih dari 70 persen penduduk kini hidup di bawah garis kemiskinan, menurut laporan organisasi buruh internasional.
Perang yang berkepanjangan ini tidak hanya menghancurkan infrastruktur dan ekonomi, tetapi juga mengancam masa depan generasi muda Sudan. Tanpa solusi politik yang konkret, krisis diperkirakan akan terus memburuk dan berdampak luas, baik di dalam negeri maupun kawasan sekitarnya.