Sejumlah orang beraktivitas di depan Kantor Urusan Ekonomi dan Pasar Kota Weimar, di negara bagian Thüringen, Jerman, Jumat (3/7/2026). (ANTARA/Katriana)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Tekanan terhadap ekonomi Jerman semakin nyata. Hampir 5.000 perusahaan dinyatakan bangkrut hanya dalam kurun tiga bulan terakhir. Angka ini menjadi yang tertinggi untuk periode kuartal kedua sejak lebih dari dua dekade terakhir dan memperlihatkan bahwa pemulihan ekonomi negara tersebut masih menghadapi tantangan berat.
Data terbaru dari Halle Institute for Economic Research (IWH) menunjukkan sebanyak 4.996 kebangkrutan korporasi terjadi sepanjang kuartal II 2026. Jumlah tersebut meningkat 9 persen dibandingkan kuartal pertama dan menjadi rekor tertinggi untuk periode April–Juni sejak tahun 2005.
Dalam laporannya yang dirilis Kamis (9/7/2026), IWH menyebut lonjakan kebangkrutan terjadi di hampir seluruh sektor utama perekonomian, mulai dari konstruksi, perdagangan, hingga industri perhotelan.
Situasi juga semakin memburuk pada Juni 2026. Sepanjang bulan tersebut tercatat 1.702 kasus kebangkrutan, naik sekitar 20 persen dibandingkan Juni tahun lalu.
Bahkan, angka itu mencapai sekitar 80 persen lebih tinggi dibandingkan rata-rata bulan Juni pada periode sebelum pandemi, yakni antara 2016 hingga 2019.Kepala Riset Kebangkrutan IWH, Steffen Mueller, menilai kondisi ini menunjukkan tekanan ekonomi yang semakin meluas.
"Situasinya serius. Kebangkrutan memengaruhi perekonomian di berbagai lini. Banyak sektor dan wilayah yang menderita. Pada kuartal ketiga kita harus bersiap menghadapi peningkatan jumlah kebangkrutan yang lebih tinggi dibanding tahun lalu," ujarnya.
Rekor Kebangkrutan Berlanjut
Sebelumnya, kuartal pertama 2026 juga telah mencatat jumlah kebangkrutan tertinggi dalam 21 tahun terakhir. Artinya, tren peningkatan kebangkrutan berlangsung selama dua kuartal berturut-turut.
Fenomena ini memperkuat sinyal bahwa dunia usaha di Jerman masih menghadapi tekanan besar meski berbagai upaya pemulihan ekonomi terus dilakukan.
Data dari Kantor Statistik Federal Jerman (Destatis) juga menunjukkan tren serupa. Pada Agustus 2025, lembaga tersebut melaporkan peningkatan pengajuan kebangkrutan, terutama berasal dari sektor transportasi dan pergudangan, disusul konstruksi serta perhotelan dilansir Antara.
Harga Energi Masih Menjadi Beban
Selama tiga tahun terakhir, ekonomi Jerman mengalami stagnasi. Salah satu penyebab utama adalah lonjakan biaya energi setelah terhentinya pasokan gas dari Rusia, yang meningkatkan biaya produksi bagi industri dan menekan daya saing perusahaan.
Kondisi tersebut, ditambah lemahnya permintaan dan tingginya biaya operasional, membuat semakin banyak perusahaan kesulitan bertahan hingga akhirnya mengajukan kebangkrutan.
Dengan tren yang masih meningkat, para peneliti memperkirakan tekanan terhadap dunia usaha Jerman belum akan mereda dalam waktu dekat. Bahkan, kuartal ketiga 2026 diperkirakan berpotensi mencatat angka kebangkrutan yang lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.