Presiden Iran Serukan Semua Pihak Tahan Diri, Ketegangan dengan AS Kian Memanas


 Presiden Iran Serukan Semua Pihak Tahan Diri, Ketegangan dengan AS Kian Memanas Arsip foto - Presiden Iran Masoud Pezeshkian. /ANTARA/Anadolu/py.

TEHERAN, ARAHKITA.COM – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat setelah kedua negara saling melancarkan serangan dalam beberapa hari terakhir. Di tengah situasi yang semakin memanas, Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengajak seluruh pihak untuk menahan diri agar konflik tidak berkembang menjadi krisis yang lebih luas.

Pezeshkian menegaskan bahwa upaya diplomasi harus tetap menjadi prioritas. Menurutnya, menjaga gencatan senjata dan mencegah meluasnya konflik merupakan langkah penting demi menjaga stabilitas kawasan Timur Tengah.

Dalam percakapan melalui sambungan telepon dengan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, Pezeshkian juga menyinggung adanya upaya dari Amerika Serikat dan Israel yang dinilai dapat mengganggu proses stabilisasi di kawasan.

"Adalah wajar untuk mengharapkan bahwa pihak-pihak lain juga mematuhi komitmen mereka dan menahan diri dari posisi atau tindakan yang akan merusak kepercayaan dan menyulitkan proses diplomatik," ujar Pezeshkian, sebagaimana dikutip dalam pernyataan resmi kantor Presiden Iran dilansir Antara.

Sementara itu, pada Rabu (8/7/2026) malam, Amerika Serikat kembali melancarkan serangan ke wilayah Iran. Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan operasi tersebut dilakukan sebagai respons atas tindakan Iran terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.

Iran kemudian membalas dengan menyerang sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di Bahrain dan Kuwait. Pemerintah Iran juga menuduh Washington telah melanggar nota kesepahaman (MoU) mengenai penghentian permusuhan.

Situasi semakin memanas setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa gencatan senjata antara Washington dan Teheran tidak lagi berlaku. Pernyataan tersebut memunculkan kekhawatiran baru mengenai potensi meluasnya konflik di kawasan yang selama ini menjadi salah satu titik paling sensitif dalam geopolitik dunia.

Para pengamat menilai perkembangan beberapa hari ke depan akan sangat menentukan arah hubungan kedua negara, sekaligus berdampak terhadap stabilitas keamanan dan ekonomi global, terutama jalur perdagangan energi di Timur Tengah.

 

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru