Roket Jepang H2A berhasil diluncurkan untuk yang ke-50 kali dari Pusat Antariksa Tanegashima di Prefektur Kagoshima, Jepang, Minggu (29/6/2025). ANTARA FOTO/Xinhua/Yue Chenxing/agr.
TOKYO, ARAHKITA.COM – Jepang semakin serius mengejar teknologi antariksa yang lebih efisien. Badan Eksplorasi Antariksa Jepang (Japan Aerospace Exploration Agency/JAXA) sukses menguji prototipe roket yang dapat digunakan kembali (reusable rocket), sebuah teknologi yang diyakini mampu memangkas biaya peluncuran satelit secara signifikan di masa depan.
Keberhasilan ini menjadi tonggak penting bagi program antariksa Jepang. Jika selama ini roket umumnya hanya digunakan sekali, teknologi reusable memungkinkan satu roket dipakai berkali-kali sehingga biaya operasional dapat ditekan dan frekuensi peluncuran meningkat.
Pengujian dilakukan di fasilitas JAXA di Kota Noshiro, Prefektur Akita, Jepang timur laut, pada Sabtu. Dalam uji tersebut, roket RV-X berhasil terbang hingga ketinggian sekitar 11 meter, bergerak secara horizontal sejauh kurang lebih 16 meter, lalu mendarat dengan selamat menggunakan empat kaki pendaratannya. Seluruh proses penerbangan berlangsung sekitar 40 detik.
Baca juga:
Korea Selatan Luncurkan Satelit Observasi Bumi Baru, Perkuat Pemantauan Iklim dan Bencana"Uji terbang berjalan dengan baik. Saya merasa lega," ujar Manajer Proyek Takashi Ito dalam konferensi pers yang digelar secara daring.
Teknologi roket reusable bukanlah hal baru di dunia. Perusahaan antariksa Amerika Serikat, SpaceX, telah lebih dulu membuktikan keberhasilannya melalui roket dua tingkat Falcon 9 yang mampu kembali mendarat setelah mengantarkan muatan ke luar angkasa. Keberhasilan tersebut membuat biaya peluncuran menjadi jauh lebih efisien.
Baca juga:
Korea Selatan Luncurkan Satelit Observasi Bumi Baru, Perkuat Pemantauan Iklim dan BencanaKini, JAXA berupaya mengembangkan kemampuan serupa. Data dari uji coba RV-X akan menjadi bekal dalam pengembangan kendaraan peluncur reusable Callisto, proyek kolaborasi Jepang, Prancis, dan Jerman.
Callisto dijadwalkan menjalani uji terbang pertamanya sebelum April tahun depan. Berbeda dengan RV-X, pengujian nanti akan dilakukan dari ketinggian yang lebih tinggi menggunakan mesin yang sama, sehingga menjadi tahapan penting menuju pengembangan roket reusable skala penuh.
Baca juga:
Korea Selatan Luncurkan Satelit Observasi Bumi Baru, Perkuat Pemantauan Iklim dan BencanaRoket RV-X sendiri memiliki panjang sekitar 7,3 meter dengan diameter sekitar 1,8 meter. Desainnya dilengkapi empat kaki pendaratan yang memungkinkan roket kembali mendarat secara stabil setelah penerbangan dikutip Antara.
Saat ini, Jepang masih mengandalkan roket H3 yang hanya dapat digunakan untuk satu kali peluncuran. Karena itu, pengembangan teknologi reusable menjadi prioritas agar biaya misi antariksa dapat ditekan sekaligus meningkatkan kemampuan Jepang meluncurkan satelit dalam jumlah lebih banyak.
Dorongan menuju teknologi roket reusable juga datang dari sektor swasta. Tahun lalu, Honda R&D Co., anak perusahaan Honda Motor Co., berhasil melakukan uji terbang roket reusable buatannya. Pencapaian tersebut menjadi keberhasilan pertama perusahaan swasta Jepang dalam mengembangkan teknologi roket yang dapat digunakan kembali.
Keberhasilan JAXA dan sektor swasta menunjukkan Jepang semakin serius membangun ekosistem industri antariksa yang lebih kompetitif, efisien, dan siap bersaing di era baru eksplorasi luar angkasa.