Selasa, 27 Januari 2026

Atasi Penurunan Populasi, Tokyo akan Luncurkan Aplikasi Kencan yang Dikelola Pemerintah


 Atasi Penurunan Populasi, Tokyo akan Luncurkan Aplikasi Kencan yang Dikelola Pemerintah Foto ilustrasi kesibukan Tokyo. (pixabay.com)

JAKARTA, ARAHKITA.COM - Pusing dengan terjun bebasnya populasi, Tokyo akan meluncurkan aplikasi kencan pertama yang dikelola pemerintah untuk mencoba menghentikan penurunan angka kelahiran.

Aplikasi kencan itu diluncurkan dalam upaya untuk mempromosikan pernikahan dan meningkatkan angka kelahiran nasional yang terus menurun.

Aplikasi berbayar oleh pemerintah Metropolitan Tokyo akan diluncurkan paling cepat musim panas tahun ini, demikian pejabat Tokyo mengumumkan pada hari Selasa, dikutip dari Independent.

Untuk memanfaatkan aplikasi tersebut, pengguna harus menjalani proses pendaftaran menyeluruh yang mengharuskan mereka untuk menyerahkan dokumentasi untuk membuktikan bahwa mereka secara hukum lajang dan menandatangani surat yang mengonfirmasi kesediaan mereka untuk menikah.

Aplikasi ini juga mengharuskan pengguna untuk memberikan slip sertifikat pajak untuk membuktikan gaji tahunan mereka. Setiap pengguna akan diminta untuk memasukkan 15 item informasi pribadi, termasuk tinggi badan, latar belakang pendidikan, dan pekerjaan setelah wawancara wajib dengan operator aplikasi.

Aplikasi kencan yang diprakarsai pemerintah jarang ada tetapi pemerintah kota dilaporkan telah mengalokasikan 200 juta yen sekitar Rp21 miliar dalam anggaran fiskalnya pada tahun 2023 dan 300 juta atau sekitar Rp31,5 miliar tahun fiskal 2024 untuk mempromosikan pernikahan melalui aplikasi dan proyek lainnya.

"Jika banyak orang yang tertarik menikah tetapi tidak dapat menemukan pasangan, kami ingin memberikan dukungan," kata seorang pejabat Tokyo seperti dikutip The Asahi Shimbun.

"Kami berharap aplikasi yang ditangani langsung oleh pemerintah, akan memberikan rasa aman dan mendorong mereka yang ragu menggunakan aplikasi tradisional untuk mengambil langkah pertama dalam mencari pasangan."

Pejabat lain mengatakan bahwa aplikasi tersebut akan memberikan dorongan bagi hampir 70 persen orang yang ingin menikah tetapi tidak secara aktif mengikuti acara atau aplikasi untuk mencari pasangan.

Langkah tersebut dilakukan saat angka kelahiran di Jepang  turun selama delapan tahun berturut-turut.

Juru bicara pemerintah Jepang mengatakan pemerintah akan mengambil langkah-langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk mengatasi penurunan angka kelahiran, seperti memperluas perawatan anak dan mendorong kenaikan upah bagi pekerja yang lebih muda.

"Angka kelahiran yang menurun berada dalam situasi kritis," kata kepala sekretaris kabinet Yoshimasa Hayashi kepada wartawan. 

"Enam tahun ke depan atau lebih hingga 2030, ketika jumlah kaum muda akan menurun dengan cepat, akan menjadi kesempatan terakhir untuk membalikkan tren tersebut."

Angka kelahiran yang belum menikah di Tokyo untuk orang berusia 50 tahun adalah yang tertinggi di Jepang, yakni 32 persen untuk pria dan 24 persen untuk wanita.

Survei sebelumnya menemukan sejumlah besar pengguna aplikasi kencan melaporkan kesalahan penyajian status perkawinan dan profil palsu yang mengharuskan pengawasan menyeluruh terhadap pengguna aplikasi baru tersebut.

Sekitar 90.000 bayi lahir di Tokyo pada tahun 2022 – turun 15,2 persen dari satu dekade sebelumnya. Gubernur Tokyo Yuriko Koike mengaitkan penurunan kelahiran dengan rendahnya angka pernikahan.

Perdana Menteri Fumio Kishida menyebut penurunan angka kelahiran sebagai krisis paling parah yang dihadapi Jepang, dan meluncurkan berbagai langkah untuk mendukung rumah tangga yang memiliki anak akhir tahun lalu.

Editor : Lintang Rowe

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru