Loading
Ilmuwan Serukan Vaksinasi HPV pada Anak Laki-laki. (Freepik)
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Upaya memberantas kanker serviks dinilai perlu melibatkan vaksinasi human papillomavirus atau HPV tidak hanya pada anak perempuan, tetapi juga pada anak laki-laki. Seruan ini muncul dalam sebuah studi terbaru yang menyoroti pentingnya pendekatan vaksinasi yang lebih menyeluruh untuk menekan penyebaran virus penyebab kanker serviks.
HPV merupakan infeksi menular seksual paling umum di dunia. Meski sebagian besar infeksi bersifat tanpa gejala dan dapat sembuh secara alami dalam waktu dua tahun, infeksi yang menetap berisiko berkembang menjadi kanker. Kanker serviks akibat HPV saat ini menjadi kanker keempat paling umum pada perempuan, dengan hampir 660.000 kasus baru dan sekitar 350.000 kematian setiap tahun secara global.
Vaksin HPV telah terbukti efektif menurunkan risiko penularan dan kanker, serta direkomendasikan di 147 negara. Namun, sebagian besar program vaksinasi masih berfokus pada anak perempuan, sehingga efektivitas jangka panjang dalam mengeliminasi kanker serviks masih menjadi perdebatan di kalangan ilmuwan.
Dalam studi yang dipublikasikan di jurnal Bulletin of Mathematical Biology, para peneliti dilansir The Independent, mengembangkan model matematika baru untuk mengevaluasi efektivitas program vaksinasi HPV, khususnya di Korea Selatan. Model tersebut menggabungkan data demografi dan data kanker serviks dari periode 1999 hingga 2020 untuk memprediksi pola penyebaran HPV di masyarakat.
Program imunisasi nasional Korea Selatan yang dimulai pada 2016 telah berhasil memvaksinasi sekitar 80 persen anak perempuan berusia 12 hingga 17 tahun, serta memberikan vaksinasi susulan kepada sekitar 30.000 perempuan berusia 18 hingga 26 tahun setiap tahunnya. Meski kebijakan ini dinilai mampu menekan jumlah kasus kanker serviks, para peneliti menyimpulkan bahwa strategi tersebut belum cukup untuk menghilangkan HPV dan kanker terkait secara total.
“Kanker serviks adalah salah satu dari sedikit kanker yang dapat dicegah secara efektif dengan vaksin,” kata Soyoung Park, penulis utama studi dari Universitas Maryland. Ia menegaskan pentingnya mengevaluasi apakah program vaksinasi pemerintah cukup untuk benar-benar mengendalikan penyakit ini.
Salah satu penulis studi, Abba Gumel, menyebut bahwa eliminasi kanker serviks membutuhkan cakupan vaksinasi hingga 99 persen pada perempuan. Namun, target tersebut dinilai sulit dicapai tanpa melibatkan anak laki-laki dalam program imunisasi.
Studi tersebut merekomendasikan vaksinasi sekitar 65 persen anak laki-laki usia 12 hingga 17 tahun, dengan tetap mempertahankan cakupan vaksinasi perempuan sebesar 80 persen. Dengan pendekatan ini, para peneliti memperkirakan kanker terkait HPV di Korea Selatan dapat dieliminasi dalam kurun waktu 60 hingga 70 tahun.
“Cara melindungi masyarakat adalah dengan membangun kekebalan yang kuat di sekeliling mereka,” ujar Gumel. Ia menambahkan bahwa ratusan ribu kematian akibat kanker serviks setiap tahun sebenarnya dapat dicegah jika cakupan vaksinasi HPV diperluas secara global.