Loading
Kurang tidur tingkatkan risiko penyakit jantung Foto ilustrasi Freepikcom
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Kurang tidur dan stres berkepanjangan ternyata tidak hanya memengaruhi suasana hati, tetapi juga dapat mengacaukan ritme hormon kortisol yang berperan penting dalam berbagai fungsi tubuh. Jika kondisi ini terus berlangsung, risiko gangguan kesehatan fisik maupun mental dapat meningkat.
Dokter spesialis endokrin Maram Khalifa menjelaskan bahwa kortisol sering kali mendapat citra negatif karena dikaitkan dengan stres. Padahal, hormon ini memiliki fungsi vital dalam membantu tubuh merespons tekanan, mengatur metabolisme, serta menjaga siklus tidur dan bangun.
"Kortisol adalah sistem alarm alami tubuh. Kadarnya secara normal mencapai puncak pada pagi hari untuk membantu kita bangun dan menurun pada malam hari agar tubuh dapat beristirahat," ujar Khalifa.
Dalam kondisi normal, kadar kortisol mengikuti ritme harian yang teratur. Namun, pola tersebut bisa terganggu ketika seseorang mengalami stres kronis atau kurang tidur dalam jangka waktu lama.
Menurut Khalifa, stres yang berlangsung terus-menerus membuat tubuh mempertahankan kadar kortisol tetap tinggi lebih lama dari yang seharusnya. Akibatnya, hormon ini dapat meningkat pada malam hari ketika tubuh justru membutuhkan kondisi tenang untuk beristirahat dan melakukan pemulihan.
Gangguan ritme tersebut membuat tubuh kesulitan memasuki fase relaksasi yang penting bagi kesehatan secara keseluruhan. Jika dibiarkan, kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko resistensi insulin, penyakit jantung, gangguan kecemasan, hingga depresi.
Senada dengan itu, dokter Simran Malhotra mengatakan bahwa kebiasaan tidur yang buruk juga berkontribusi terhadap peningkatan kadar kortisol pada malam hari.
"Orang yang secara konsisten tidur lebih sedikit cenderung memiliki kadar kortisol yang lebih tinggi menjelang waktu tidur," kata Malhotra.
Ia menambahkan, kebiasaan begadang karena bermain gawai, menonton serial tanpa henti, atau menyelesaikan pekerjaan hingga larut malam dapat memperparah kondisi tersebut.
"Kualitas dan durasi tidur yang buruk dapat membuat kadar kortisol malam hari tetap tinggi," ujarnya.
Dampak dari terganggunya ritme kortisol tidak hanya memengaruhi kualitas tidur. Khalifa menjelaskan bahwa kondisi tersebut juga dapat mengurangi sensitivitas insulin, mengganggu toleransi glukosa, serta meningkatkan risiko penumpukan lemak di area perut yang berkaitan erat dengan sindrom metabolik.
Untuk menjaga keseimbangan hormon kortisol, para ahli menyarankan penerapan gaya hidup sehat yang berfokus pada pengelolaan stres dan perbaikan kualitas tidur. Beberapa cara yang dapat dilakukan antara lain meditasi, latihan pernapasan, yoga, hingga terapi perilaku kognitif.
Selain itu, aktivitas fisik secara rutin, jadwal tidur yang konsisten selama tujuh hingga sembilan jam setiap malam, serta rutinitas harian yang teratur dapat membantu menjaga ritme alami hormon tersebut.
Para ahli juga mengingatkan bahwa penggunaan suplemen penurun kortisol bukanlah solusi utama. Hingga saat ini, pendekatan yang paling didukung bukti ilmiah untuk menjaga kadar kortisol tetap normal adalah tidur yang cukup dan pengelolaan stres yang efektif.
Dengan menjaga keseimbangan kedua faktor tersebut, tubuh dapat menjalankan fungsi biologisnya secara optimal sekaligus menurunkan risiko berbagai penyakit kronis di masa depan.