Lima Langkah Kunci Kendalikan Dengue di Tengah Musim Hujan


 Lima Langkah Kunci Kendalikan Dengue di Tengah Musim Hujan Ilustrasi - Musim hujan selalu membawa cerita lama yang terus berulang: meningkatnya kasus demam berdarah dengue. (Net)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Musim hujan selalu membawa cerita lama yang terus berulang: meningkatnya kasus demam berdarah dengue. Situasi ini kembali menjadi sorotan setelah digelarnya Forum Regional Asia Tenggara untuk Pencegahan dan Pengendalian Dengue di Jakarta pada 9–10 Februari, yang dihadiri perwakilan negara-negara ASEAN.

Bagi Prof. Tjandra Yoga Aditama, momen tersebut mengingatkannya pada perjalanan panjang kawasan ini melawan dengue. Pada 2011, saat menjabat Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan, ia terlibat dalam penyelenggaraan ASEAN Dengue Conference yang melahirkan deklarasi penting bertajuk Jakarta Call for Action on Combating Dengue. Dari forum itulah kemudian lahir peringatan ASEAN Dengue Day setiap 15 Juni—pertama kali dicanangkan di Museum Nasional Jakarta.

Angka Kematian Masih Jadi PR

Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa sepanjang 2025 tercatat 161.752 kasus dengue dengan 673 kematian. Artinya, case fatality rate (CFR) Indonesia berada di angka 0,42 persen. Angka ini jauh lebih tinggi dibanding rata-rata global yang dilaporkan jurnal International Journal of Infectious Diseases edisi September 2025, yakni sekitar 0,07 persen.

“Kesenjangan ini menunjukkan bahwa kita masih punya pekerjaan rumah besar. Target Zero Dengue Deaths pada 2030 hanya bisa dicapai dengan upaya luar biasa,” ujar Prof. Tjandra yang kini menjabat Direktur Pascasarjana Universitas YARSI sekaligus Adjunct Professor di Griffith University Australia.

Lima Upaya yang Harus Berjalan Bersamaan

Menurut mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara ini, pengendalian dengue tidak bisa bertumpu pada satu cara saja. Setidaknya ada lima pilar utama yang perlu berjalan seiring.

Pertama, pengendalian vektor nyamuk. Kunci utamanya tetap pada gerakan 3M Plus—menguras, menutup, mendaur ulang, ditambah langkah pencegahan lain seperti penggunaan kelambu dan larvasida. Keberhasilan langkah ini sangat bergantung pada sinergi petugas kesehatan dan partisipasi aktif masyarakat.

Kedua, surveilans yang kuat. Pemantauan kasus harus mampu membaca pola penyebaran yang dipengaruhi perubahan iklim. Tanpa data real time, respons akan selalu terlambat.

Ketiga, penanganan kasus secara cepat dan tepat. Deteksi dini melalui ketersediaan alat diagnostik seperti rapid diagnostic test (RDT), sistem rujukan yang efektif, serta pelayanan rumah sakit yang siap menangani kasus berat menjadi penentu keselamatan pasien.

Keempat, perluasan inovasi pencegahan. Cakupan vaksinasi dengue perlu terus ditingkatkan, disertai pendekatan baru seperti pemanfaatan nyamuk ber-Wolbachia yang terbukti mampu menekan penularan.

Kelima, kesiapsiagaan menghadapi wabah. Ketika lonjakan kasus terjadi, mekanisme respons harus bergerak cepat—mulai dari penguatan fasilitas kesehatan hingga edukasi publik yang masif.

Semua langkah tersebut, tegas Prof. Tjandra, hanya akan efektif jika didukung komitmen politik yang kuat dan berkelanjutan.

Jangan Lengah di Musim Hujan

Saat ini sebagian besar wilayah Indonesia masih diguyur hujan. Genangan air mudah menjadi sarang nyamuk Aedes aegypti, pembawa virus dengue. Karena itu kewaspadaan tidak boleh mengendur.

“Dengue bukan sekadar urusan sektor kesehatan. Ini tanggung jawab bersama—pemerintah, tenaga medis, dan masyarakat. Keselamatan dimulai dari lingkungan rumah kita sendiri,” tutupnya.

 

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Kesehatan Terbaru