Loading
makanan olahan berperan pada penyakit insomnia Ilustrasi pixabaycom
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Dapatkah makanan olahan berenergi tinggi (UPF) menjadi penyebab insomnia? Para peneliti kini bisa mengatakan bahwa konsumsi makanan olahan berlebih ikut bertanggung jawab terhadap insomnia atau kesulitan tidur.
Menurut sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of the Academy of Nutrition and Dietetics, dan dilansir Medical Daily, konsumsi makanan olahan berenergi tinggi memiliki hubungan yang signifikan dengan insomnia kronis.
"Pada saat semakin banyak makanan yang diproses secara berlebihan, gangguan tidur makin merajalela. Karena itu penting untuk mengevaluasi apakah pola makan dapat menyebabkan kualitas tidur yang buruk atau baik," kata peneliti utama Marie-Pierre St-Onge.
"Tim peneliti kami sebelumnya telah melaporkan kaitan pola makan sehat, seperti diet Mediterania, dengan risiko insomnia yang lebih rendah dan kualitas tidur yang buruk (baik secara lintas sektoral maupun longitudinal), dan diet tinggi karbohidrat dengan risiko insomnia yang lebih tinggi. Konsumsi UPF meningkat di seluruh dunia, dan telah dikaitkan dengan berbagai kondisi kesehatan seperti diabetes, obesitas, dan kanker," tambah St-Onge.
Penelitian ini menganalisis lebih dari 39.000 orang dewasa di Prancis yang fokus pada berbagai aspek pola tidur mereka dan mendokumentasikan kebiasaan makan mereka.
Dari tahun 2013 hingga 2015, para peneliti mengumpulkan informasi terperinci tentang pola makan peserta melalui berbagai catatan diet 24 jam yang diambil setiap enam bulan.
Selama penelitian, peserta menunjukkan bahwa sekitar 16% dari asupan energi mereka bersumber dari makanan ultra-olahan, dan sekitar 20% melaporkan mengalami insomnia kronis.
"Individu yang melaporkan insomnia kronis mengonsumsi persentase asupan energi yang lebih tinggi dari UPF. Hubungan antara asupan UPF yang lebih tinggi dan insomnia terbukti pada pria dan wanita, tetapi risikonya sedikit lebih tinggi pada pria daripada wanita," demikian pernyataan yang ditulis para peneliti.
Penelitian ini didasarkan pada data yang dilaporkan sendiri, dan ada kemungkinan bahwa beberapa jenis makanan dapat salah diklasifikasikan. Para peneliti mengatakan bahwa kehati-hatian harus dilakukan saat menggeneralisasi temuan, karena populasi penelitian memiliki proporsi wanita dan peserta yang lebih tinggi dari status sosial ekonomi tinggi dibandingkan dengan populasi umum Prancis.
Makanan olahan berenergi tinggi dirancang untuk masa simpan yang lebih lama dan mengandung kadar lemak, gula, dan garam yang lebih tinggi. Makanan tersebut biasanya diproduksi secara massal dan diproses secara industri.