Jumat, 16 Januari 2026

Sanya, Hainan: ‘Hawaii‘-nya Tiongkok, Kota Tropis dengan Pohon Hotel dan Jejak Suku Hui


 Sanya, Hainan: ‘Hawaii‘-nya Tiongkok, Kota Tropis dengan Pohon Hotel dan Jejak Suku Hui Kunjungan ke Pulau Hainan dimulai dari Haikou, ibu kotanya, lalu berlanjut ke Sanya—sebuah kota pantai yang sering dijuluki sebagai Hawaii-nya Tiongkok. (Foto: Dok. Pribadi)

Catatan Perjalanan Prof Tjandra Yoga Aditama

KUNJUNGAN saya ke Pulau Hainan dimulai dari Haikou, ibu kotanya, lalu berlanjut ke Sanya—sebuah kota pantai yang sering dijuluki sebagai “Hawaii-nya Tiongkok”. Ada juga yang menyebutnya “Florida-nya Tiongkok”, karena suasananya tropis, banyak pantai cantik, dan menjadi tempat favorit untuk berlibur—terutama bagi para pensiunan yang ingin “kabur” dari musim dingin.

Begitu perjalanan keluar kota dimulai, ada perasaan familiar yang sulit dijelaskan. Sepanjang jalan, pemandangan kiri-kanannya seperti sedang melintas di Indonesia: pepohonan hijau, hamparan sawah dan ladang, sampai petani yang bekerja ditemani kerbau dan sapi. Rasanya dekat, seperti suasana kampung halaman.

Namun ada satu hal yang membuat saya terus memperhatikan: semuanya tampak sangat tertata. Sawah dan ladang rapi, saluran air jelas alirannya, bahkan tepian sungai pun seperti dirancang dengan serius. Pemandangan ini menyampaikan satu pesan menarik: kemajuan di Tiongkok tampaknya bukan hanya milik kota-kota besar, tapi juga sudah terasa rapi dan “matang” sampai ke pedesaan.

Sesampainya di Sanya, saya menginap di Sanya Gionee International Hotel, hotel yang desainnya langsung mencuri perhatian. Bangunannya berbentuk seperti pohon raksasa, sehingga banyak orang menyebutnya sebagai Grand Tree Hotel—atau sederhananya: “pohon hotel.” Bentuknya unik, ikonik, dan terasa seperti landmark. Ini tipe bangunan yang membuat orang otomatis ingin berhenti sebentar untuk memotret.

Menariknya lagi, masih di area kompleks hotel terdapat Crown of Beauty Theatre, bangunan pertunjukan yang dulu pernah dipakai untuk acara besar seperti kontes Miss World, yang kabarnya pernah beberapa kali digelar di sini. Jadi selain tempat menginap, kawasan ini juga punya “aura” destinasi wisata yang memang disiapkan untuk panggung internasional.

Sanya juga menyimpan sisi lain yang menambah warna perjalanan: di kota ini ada populasi muslim dari Suku Hui. Tersedia masjid dan jejak komunitasnya terlihat cukup jelas—membuktikan bahwa Sanya bukan hanya tentang pantai dan hotel unik, tetapi juga ruang pertemuan budaya yang hidup.

Perjalanan di Sanya memberi saya satu kesan kuat: Hainan bukan sekadar pulau wisata tropis, tapi juga contoh bagaimana tempat liburan bisa tetap tertata, modern, sekaligus menyimpan keberagaman yang menarik untuk disimak.

 

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Leisure Terbaru