Loading
Foto ilustrasi pixabaycom
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Penelitian terbaru menemukan kaitan antara kesuburan wanita dengan penggunaan vape dan rokok tembakau. Kedua produk itu terbukti berpengaruh besar pada tingkat kesuburan perempuan.
Penelitian pertama seperti dilansir The Guardian, menunjukkan hubungan antara prospek kesuburan dan rokok elektronik pada populasi besar. Analisis sampel darah dari 8.340 wanita mengungkapkan bahwa orang yang melakukan vape atau pun merokok tembakau memiliki tingkat hormon anti-Müllerian (AMH) yang lebih rendah, yang menunjukkan berapa banyak sel telur yang ditinggalkan wanita di indung telurnya.
Studi tersebut menemukan bahwa di semua kelompok umur, tingkat AMH lebih rendah pada orang yang menggunakan vape dibandingkan non-vaper.
Hampir seperempat dari mereka yang mencoba untuk hamil mengatakan bahwa mereka secara teratur atau kadang-kadang menggunakan vape. Data penelitian didapat dari perusahaan kesehatan wanita Hertility terhadap 325.000 perempuan, sebagian besar berusia 20 dan 30-an. Penelitian ini dilakukan di Inggris dan didasarkan pada analisis data yang dianonimkan.
Penulis studi Dr Helen O’Neill, dosen genetika reproduksi dan molekuler di University College London dan kepala eksekutif Hertility, mengatakan perempuan disarankan untuk menghentikan kebiasaan mengisap vape dan merokok tembakau jika ingin memiliki peluang hamil lebih besar.
“Ini adalah bukti pertama yang menunjukkan hubungan antara kesuburan dan vaping pada populasi besar. Hal ini menunjukkan bahwa AMH ditekan pada pengguna vape dibandingkan dengan non-vaper, serupa dengan apa yang telah ditunjukkan pada perokok. AMH adalah hormon yang digunakan untuk menilai cadangan ovarium, dan juga kesuburan,” terang O’Neil.
Laporan yang menganalisis kebiasaan gaya hidup wanita pada bulan-bulan sebelum hamil, juga menemukan bahwa 7% mengaku menggunakan narkoba dan 40% mengatakan mereka mengonsumsi alkohol setiap minggu.
Belakangan ini banyak negara mengungkapkan kekhawatiran terhadap peningkatan jumlah kecanduan nikotin pada anak-anak.
Awal pekan ini sebuah penelitian menunjukkan bahwa anak perempuan berusia 13 dan 15 tahun di Inggris lebih banyak minum, merokok, dan mengisa[ vape dibandingkan dengan anak laki-laki. Penelitian Organisasi Kesehatan Dunia di 44 negara menemukan bahwa dua perlima anak perempuan di Inggris dan Skotlandia telah menggunakan vape pada usia 15 tahun – proporsi yang lebih tinggi dibandingkan negara lain seperti Prancis, Jerman, dan Spanyol.
Para peneliti juga menemukan bahwa 30% anak perempuan berusia 15 tahun dan 17% anak laki-laki berusia 15 tahun di Inggris pernah menggunakan vape dalam 30 hari terakhir. Angka ini lebih tinggi dibandingkandengan anak-anak di beberapa negara lain termasuk Irlandia, Kanada, dan Spanyol.
Studi tersebut menemukan bahwa anak perempuan lebih mungkin menggunakan vape sebanyak 15 kali dibandingkan dengan rata-rata di 44 negara yang diteliti, dimana vaping kini telah melampaui jumlah perokok.
Pekan lalu sebuah laporan mengatakan anak-anak yang kecanduan vaping harus diberikan patch nikotin atau permen karet untuk membantu mereka menghentikan kebiasaan tersebut. Public Health Wales, salah satu organisasi yang tergabung dalam NHS Wales, mengatakan vaping harus dilihat sebagai masalah ketergantungan dan bukan tindakan pelanggaran yang disengaja, dimana generasi muda memerlukan dukungan untuk berhenti merokok.