Loading
Pengamat Ketenagakerjaan dan Pendidikan, Investor di Maluku dan NTT, Ir. Fransiskus Go, S.H tampil sebagai Keynote Speaker dengan paparan berjudul:Peluang dan Tantangan Investasi di Remote Area, Perbatasan/Daerah Kepulauan Maluku dan NTT dalam kegiatan SCU For Indonesia: Exploring The Potentials of Remote, Border Areas, and Islands at Eastern Indonesia (Maluku & NTT), pada Selasa, 30 April 2024 bertempat di Gedung Teater Thomas Aquinas, Soegijapranata Catholic University (SCU), Semarang, Jawa Tengah. (Foto: IG fransiscus_go)
SEMARANG, ARAHKITA.COM – Pengamat Ketenagakerjaan dan Pendidikan; Investor di Maluku dan NTT, Ir. Fransiskus Go, S.H mengungkap ada lima tantangan investasi bagi investor di dua Provinsi kepulauan, Maluku dan Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah: Pertama, tingkat pendidikan yang rendah dapat menurunkan kualitas sumber daya manusia di wilayah tersebut. “Pendidikan formal adalah kebutuhan dasar yang harus dipenuhi oleh pemerintah untuk masyarakat,”tegas Frans Go sebagai Keynote Speaker dengan paparan berjudul: “Peluang dan Tantangan Investasi di Remote Area, Perbatasan/Daerah Kepulauan Maluku dan NTT” dalam kegiatan SCU For Indonesia: Exploring The Potentials of Remote, Border Areas, and Islands at Eastern Indonesia (Maluku & NTT), pada Selasa, 30 April 2024 bertempat di Gedung Teater Thomas Aquinas, Soegijapranata Catholic University (SCU), Semarang, Jawa Tengah.
Tantangan kedua sambung Frans Go adalah Kemandirian ASN terbatas. “NTT adalah Provinsi ke-10 dengan jumlah PNS terbanyak di Indonesia. Secara total PNS NTT berjumlah 114.938. “Masih banyak ASN yang kualitasnya perlu ditingkatkan. Dengan minimnya peran swasta, maka tulang punggung pembangunan berada di tangan ASN yang memiliki ketahanan ekonomi yang pasti,”ungkap Frans Go.
Tantangan ketiga adalah: Kreatif berpikir SDM terbatas. Tantangan keempat, keengganan investor karena dihadang politikus daerah yang menyebabkan para investor kerap enggan berinvestasi di suatu daerah karena dihadang dan diperas oknum daerah, birokrasi yang berbelit dan panjang, serta kenyamanan dan keamanan yang kurang kondusif.
Tantangan keempat adalah: Keengganan investor karena dihadang politikus daerah sehingga membuat para investor kerap enggan berinvestasi di suatu daerah karena dihadang dan diperas oknum daerah, birokrasi yang berbelit dan panjang serta kenyamanan dan keamanan yang kurang kondusif.
Tantangan kelima adalah: Pemimpin daerah tidak menjadi tuan rumah yang baik. Banyak orang menjadi pemimpin daerah karena hanya bermodalkan uang tanpa kapasitas dan kualitas. “Iblis dan setan pun bisa menjadi pemimpin asal punya uang,”ungkap Benny K. Harman dilansir dari Poskupang.com.
Saat ini kata Frans Go, perekonomian Maluku terutama bergantung pada sektor pertanian seperti kelapa, cengkeh, pala, dan perikanan. Infrastruktur terutama di luar Ibukota Ambon, masih memerlukan peningkatan terutama akses transportasi dan ketersediaan listrik. Pariwisata mulai berkembang di Maluku terutama dengan potensi alamnya yang indah seperti pantai, pulau-pulau kecil dan keanekaragaman hayati bawah laut.
Sedangkan NTT memiliki potensi ekonomi yang besar dengan komoditas seperti kopi, cokelat, tebu, dan perikanan. Sektor pariwisata di NTT juga berkembang terutama dengan daya tarik seperti Pulau Komodo, Taman Nasional Kelimutu dan Pantai-Pantai yang indah. Namun demikian masih ada tantangan dalam infrastruktur dan aksesibilitas di beberapa daerah di NTT, terutama di daerah terpencil dan Pulau-Pulau Kecil.
Dalam paparannya, Frans Go menyebut permasalahan yang dihadapi saat ini baik Provinsi Maluku dan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah Pertama, Keterbatasan Infrastruktur dimana masih minimnya akses transportasi, dan minimnya ketersediaan listrik dan air minum. Kedua, Lingkungan dan Perubahan yang mencakup Kerusakan Lingkungan, Dampak Perubahan Lingkungan, Pengairan Sulit. Ketiga, Kesehatan dan Pendidikan yang mencakup akses layanan pendidikan dan angka partisipasi pendidikan yang masih rendah, kurangnya tenaga medis dan fasilitas kesehatan. Keempat, Ekonomi dan Lapangan Kerja yang mencakup tingginya tingkat pengangguran dan tantangan dalam pengembangan sektor ekonomi. Kelima, Sosial dan Budaya yang mencakup tanah ulayat/adat, kemiskinan dan ketimpangan sosial, human trafficking.