Loading
Arsip foto - Tenaga kesehatan melihat hasil skrining rontgen thorax seorang warga di Puskesmas Cibodasari, Kota Tangerang, Banten, Selasa (11/11/2025). ANTARA FOTO/Putra M. Akbar/tom/pri.
JAKARTA, ARAHKITA.COM — Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan menyiapkan langkah lebih agresif untuk mengejar target eliminasi tuberkulosis (TBC). Pada 2026, anggaran khusus untuk percepatan deteksi TBC akan ditambah, dengan fokus utama pada perluasan akses skrining dan diagnosis, terutama di wilayah yang angka kasusnya tinggi.
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, mengatakan bahwa Indonesia masih memiliki pekerjaan besar untuk mencapai eliminasi TBC. Ia menekankan ada tiga indikator penting yang harus dikejar: penemuan kasus, keberhasilan pengobatan, serta pemberian Terapi Pencegahan TB (TPT).
“Berdasarkan data Sistem Informasi TB, hingga 11 Januari 2025, penemuan kasus TB tahun 2025 baru mencapai 79 persen dari target nasional 90 persen. Artinya masih ada selisih sekitar 11 persen yang harus dikejar,” ujar Aji di Jakarta, Sabtu (17/1/2026).
Meski penemuan kasus masih tertinggal dari target, Aji menyebut sisi positifnya: inisiasi pengobatan sudah tergolong baik. Untuk TB Sensitif Obat, capaian sudah 93 persen dari target 95 persen. Sementara untuk TB Resistan Obat, capaian inisiasi pengobatan berada di angka 83 persen dari target 95 persen.
Namun persoalan lain muncul pada tahap berikutnya: keberhasilan pengobatan, khususnya pada TB resistan obat, yang baru mencapai 59 persen—masih jauh dari target. Menurut Aji, angka ini menandakan perlunya penguatan serius di lapangan, terutama dalam urusan kepatuhan minum obat, pendampingan pasien, dan dukungan sistem layanan kesehatan.
2026 Fokus TOSS TB: Temukan dan Obati Sampai SembuhKarena itulah pada 2026, Kemenkes akan mendorong prinsip TOSS TB (Temukan TB, Obati Sampai Sembuh) secara lebih masif. Strateginya mencakup:
Untuk mempercepat penemuan kasus, Kemenkes juga menyiapkan penguatan alat diagnosis. Intervensi utama akan diarahkan pada pemanfaatan teknologi yang lebih cepat dan akurat, seperti rontgen dada (X-ray) dan Near Point of Care Testing (NPOCT).
Dengan langkah ini, pemerintah berharap kasus-kasus TBC bisa ditemukan lebih awal, penularan dapat ditekan, dan target nasional penanggulangan TBC lebih realistis untuk dicapai.
TBC Bisa Dicegah dan Disembuhkan: Jangan Abaikan Gejala
Aji juga mengingatkan bahwa TBC bukan penyakit kutukan. TBC bisa dicegah dan disembuhkan, selama masyarakat peka terhadap gejala dan disiplin berobat.Ia mengimbau publik untuk menerapkan pola hidup bersih dan sehat, rutin berolahraga, serta menghindari rokok dan alkohol. Masyarakat juga diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan bila mengalami gejala seperti:
Kepada pasien yang sedang menjalani pengobatan TB, Aji menyampaikan pesan penting agar tidak menyerah di tengah jalan.
“Pengobatan yang teratur adalah kunci utama untuk sembuh dan mencegah penularan,” katanya dikutip Antara.
Tak kalah penting, ia mengajak masyarakat untuk menghentikan stigma terhadap pasien TB. Menjauhi pasien bukan solusi, justru dukungan sosial dan semangat dari orang sekitar bisa menjadi bagian penting agar pasien kuat menjalani pengobatan sampai tuntas.