Selasa, 20 Januari 2026

30 Pemimpin Muda RI–Singapura Belajar Merawat Keberagaman dalam Program BRIDGE


  • Selasa, 20 Januari 2026 | 17:30
  • | News
 30 Pemimpin Muda RI–Singapura Belajar Merawat Keberagaman dalam Program BRIDGE Sebagai bagian dari rangkaian pembelajaran kolaboratif Program BRIDGE, peserta dari Singapura dan Indonesia berkumpul di sekitar maket perencanaan kota untuk memahami pendekatan Singapura dalam tata kota dan desain komunitas, sekaligus bertukar pandangan tentang tantangan sosial yang dihadapi bersama serta pembangunan yang berorientasi pada masyarakat. (Foto: Dok. Golin Jakarta)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Keberagaman adalah kekuatan, tetapi juga bisa menjadi tantangan jika tidak dirawat dengan serius. Inilah yang menjadi fokus utama program BRIDGE, sebuah program pertukaran kepemimpinan pemuda yang mempertemukan pemimpin muda Singapura dan Indonesia untuk memperkuat kohesi sosial di masyarakat multikultural.

Program bertajuk Bilateral Relations and Intercultural Dialogue for Growth and Empowerment (BRIDGE) ini berlangsung selama sepekan dan digelar oleh Singapore International Foundation (SIF). Sebanyak 30 pemimpin muda terlibat, terdiri dari 16 peserta dari Singapura dan 14 peserta dari Indonesia.

Merawat Kebersamaan Lewat Pengalaman Langsung

Mengangkat tema “Fostering Social Cohesion in a Multicultural Society”, BRIDGE dirancang bukan sebagai program teori semata. Peserta diajak terlibat dalam pembelajaran yang “hidup”: diskusi panel, lokakarya penguatan kapasitas, serta kunjungan lapangan yang memberi gambaran nyata tentang praktik hidup berdampingan dalam perbedaan.

Selama kegiatan, peserta tidak hanya saling bertukar gagasan, tetapi juga membangun relasi lintas budaya yang diharapkan menjadi fondasi kolaborasi jangka panjang untuk perdamaian, inklusivitas, dan kemajuan komunitas.

4 Rangkaian Kegiatan Imersif yang Jadi Sorotan

Untuk memperdalam pemahaman tentang masyarakat yang kohesif dan inklusif, peserta mengikuti beberapa agenda pembelajaran lapangan, antara lain:

1. Kepedulian dan Inklusi Komunitas

Peserta mengikuti tur berjalan kaki bertema sosial yang dipandu social impact hub The Foundry. Mereka mengeksplorasi berbagai inisiatif akar rumput di kawasan Selegie–Prinsep, salah satu distrik sipil bersejarah di pusat Singapura, sekaligus melihat bagaimana komunitas mendorong empati dan keterlibatan sosial.

2. Perumahan Publik di Jantung Kota

Kunjungan ke Toa Payoh, kawasan pertama di Singapura yang dikembangkan sepenuhnya sebagai perumahan publik, menjadi ruang belajar penting. Dari sini peserta memahami bagaimana tata kota, institusi komunitas, dan kehidupan sehari-hari warga bisa membentuk ketahanan sosial sebuah negara.

3. Praktik Harmoni Antaragama

Peserta juga menyambangi Harmony in Diversity Gallery, galeri edukasi publik yang menampilkan pendekatan multiagama Singapura dalam membangun budaya saling memahami. Kegiatan ini memperlihatkan bahwa harmoni tidak lahir dari slogan, melainkan lewat desain kebijakan dan kultur dialog yang terus dijaga.

4. Bercerita untuk Dialog Inklusif

Dalam lokakarya yang difasilitasi perusahaan sosial kreatif The Black Sampan, peserta mempelajari kekuatan penceritaan. Cerita digital, makanan, dan budaya dipakai sebagai “jembatan” untuk membangun percakapan yang lebih inklusif—terutama ketika perbedaan seringkali memicu prasangka.

Dari Dialog ke Solusi Praktis

Selain kegiatan lapangan, peserta mengikuti panel diskusi yang membahas dasar-dasar kohesi sosial dari perspektif generasi muda, termasuk pentingnya kepemimpinan yang inklusif di masa depan.

Diskusi tidak berhenti pada gagasan besar. Dalam sesi terarah, peserta juga diajak mengidentifikasi tantangan sosial di ekosistem masing-masing—lalu mengeksplorasi solusi yang realistis dan bisa diterapkan.

Bagi peserta Singapura, BRIDGE menjadi momen refleksi sekaligus pengingat bahwa keberagaman membutuhkan kerja bersama.

“Berinteraksi langsung dengan berbagai inisiatif komunitas bersama rekan-rekan dari Indonesia membuat saya merenungkan makna membangun kepercayaan lintas perbedaan. Tantangan terkait inklusi dan saling memahami ternyata bersifat universal,” ujar Amalina Binte Abdul Nasir, Wakil Presiden MENDAKI Club.

Hal serupa juga dirasakan peserta dari Indonesia.

“Ini bukan proses pembelajaran satu arah. Program ini memberi kesempatan untuk saling belajar dan melihat bagaimana pendekatan berbeda dapat diterapkan dalam masyarakat yang beragam. Ini bukan sekadar dialog, tetapi membangun koneksi nyata,” kata Budy Sugandi, Direktur Buperta Pramuka.

Pengalaman Lintas Iman yang Terasa Nyata

Salah satu poin yang paling banyak meninggalkan kesan adalah pengalaman pembelajaran lintas budaya dan lintas agama. Peserta Indonesia, Ulfatun Hasanah dari INKLUSI Lakpesdam NU, menilai kunjungan ke Harmony in Diversity Gallery membuat praktik keberagaman lebih mudah dipahami karena bertemu langsung dengan konteks sosial warga Singapura.

Sementara itu, peserta Singapura Chua Hon Wei Marcus menilai rangkaian kegiatan lapangan membuatnya menyadari bahwa isu sosial ternyata lintas negara—dari kualitas hidup warga lanjut usia, integrasi masyarakat majemuk, hingga pelestarian warisan budaya. Namun, respons setiap negara tetap harus berpijak pada kondisi lokal dan kepekaan budaya.

Dihadiri KBRI Singapura dan dorongan mempererat hubungan bilateral

Jamuan makan malam pembukaan pada 12 Januari turut dihadiri Thomas Ardian Siregar, Chargé d’Affaires Kedutaan Besar Republik Indonesia di Singapura. Ia menegaskan bahwa Indonesia dan Singapura memang berbeda konteks, tetapi disatukan oleh nilai bersama seperti harmoni dan saling menghormati.

Menurutnya, program seperti BRIDGE menjadi ruang bagi pemimpin muda untuk membangun empati—yang pada akhirnya memperkuat kohesi sosial sekaligus mempererat hubungan bilateral kedua negara.

CEO SIF Corinna Chan juga menekankan bahwa di kawasan ASEAN, masyarakat kini semakin terhubung sekaligus makin beragam. Dalam kondisi itu, pemimpin muda punya peran penting untuk menjembatani perbedaan.

“BRIDGE bukan sekadar pertukaran, tetapi katalis kolaborasi yang mempertemukan pemuda Singapura dan Indonesia untuk berbagi gagasan, menantang perspektif, dan merumuskan solusi memperkuat fondasi kohesi sosial,” ujarnya.

Kiprah SIF di Indonesia sejak 1992

SIF telah bekerja di Indonesia sejak 1992, dengan fokus awal pada penguatan kapasitas di bidang kesehatan dan pendidikan. Dalam beberapa tahun terakhir, program SIF berkembang ke isu iklim serta pengembangan pemuda.

Secara global, BRIDGE juga berkaitan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama Tujuan 4 (pendidikan berkualitas dan inklusif) dan Tujuan 17 (kemitraan untuk pembangunan berkelanjutan).

Di tengah dunia yang makin beragam dan saling terhubung, BRIDGE mengingatkan satu hal penting: kohesi sosial bukan sesuatu yang hadir otomatis—ia dibangun lewat dialog, keberanian mendengar, dan kemauan untuk bertindak bersama.

 

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

News Terbaru