Guru Besar dan pakar kesehatan global Prof. Tjandra Yoga Aditama. (Foto: Dok. Pribadi)
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Wabah Ebola kembali menjadi perhatian dunia setelah Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menetapkannya sebagai Public Health Emergency of International Concern (PHEIC) atau Kedaruratan Kesehatan Masyarakat yang Meresahkan Dunia (KKMMD).
Perkembangan terbaru di sejumlah negara Afrika menunjukkan lonjakan kasus yang sangat cepat dan memicu kekhawatiran baru terhadap penyebaran lintas negara.
Guru Besar dan pakar kesehatan global Prof. Tjandra Yoga Aditama menjelaskan sedikitnya ada tujuh perkembangan penting yang perlu menjadi perhatian dunia terkait wabah Ebola saat ini.
Menurut Prof. Tjandra, wabah Ebola kali ini bermula di Republik Demokratik Kongo. Ini merupakan kejadian luar biasa (KLB) Ebola ke-17 yang dialami negara tersebut sejak virus Ebola pertama kali ditemukan pada 1976.
Situasi kemudian berkembang sangat cepat. Saat WHO menetapkan status PHEIC pada 17 Mei 2026, Uganda baru melaporkan delapan kasus terkonfirmasi Ebola. Namun hanya dalam waktu delapan hari, tepatnya hingga 25 Mei 2026, jumlah itu melonjak menjadi 101 kasus terkonfirmasi dengan 10 kematian.
Lonjakan yang sangat tajam ini menunjukkan bahwa penyebaran Ebola masih menjadi ancaman serius di kawasan Afrika.
Tidak hanya kasus terkonfirmasi, jumlah kasus suspek juga meningkat drastis. Dalam periode yang sama, kasus suspek naik dari 246 menjadi 900 kasus. Sementara jumlah kematian dengan status suspek Ebola meningkat dari 80 menjadi 220 orang.
Kondisi tersebut dinilai sangat mengkhawatirkan karena memperlihatkan potensi penularan yang masih terus berlangsung di masyarakat.
Di Republik Demokratik Kongo, situasi sosial juga mulai memanas. Dilaporkan terjadi kerusuhan ketika sekelompok warga menyerang Rumah Sakit Monbgwalu dan menuntut jenazah anggota keluarga mereka diserahkan tanpa prosedur penanganan penyakit menular.
Peristiwa itu mengingatkan pada berbagai penolakan prosedur pemakaman pasien COVID-19 yang pernah terjadi di berbagai negara beberapa tahun lalu.
Pada 22 Mei 2026, WHO bahkan menyatakan tingkat risiko Ebola di Kongo berada pada level “very high” atau sangat tinggi.
Sementara itu, Uganda juga mengalami peningkatan kasus. Saat status PHEIC diumumkan, negara tersebut memiliki dua kasus terkonfirmasi Ebola dengan satu kematian. Namun hingga 25 Mei 2026, jumlahnya meningkat menjadi tujuh kasus terkonfirmasi.
Selain Kongo dan Uganda, ancaman penyebaran Ebola kini mulai mengarah ke negara-negara lain di Afrika. Africa Centres for Disease Control and Prevention (Africa CDC) mengidentifikasi sedikitnya 10 negara yang masuk kategori sangat rentan tertular Ebola.
Negara-negara tersebut meliputi Angola, Burundi, Republik Afrika Tengah, Republik Kongo, Ethiopia, Kenya, Rwanda, Sudan Selatan, Tanzania, dan Zambia.
Kerentanan itu dipicu tingginya mobilitas lintas batas negara serta aktivitas perdagangan antarwilayah di Afrika.
Prof. Tjandra mengingatkan, bila wabah terus meluas di Afrika, maka peluang penyebaran ke kawasan lain di dunia juga akan semakin besar. Karena itu, pengawasan kesehatan global dan kesiapsiagaan internasional menjadi sangat penting untuk mencegah penyebaran lebih luas.