Paroki Renha Rosari Hale Hebing Menuju Usia 66 Tahun. (Dok. Tribun Flores)
HEBING, MAPITARA, ARAHKITA.COM - Paroki Renha Rosari Hale Hebing di Kecamatan Mapitara, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), akan memasuki usia ke-66 tahun pada 7 Oktober 2026. Perjalanan panjang paroki ini menjadi bagian penting dari sejarah pertumbuhan iman umat Katolik di wilayah tersebut.
Paroki yang berada dalam wilayah pelayanan Keuskupan Maumere ini resmi berdiri pada 7 Oktober 1960. Sebelumnya, wilayah Hale Hebing merupakan bagian dari Paroki Mater Boni Consili Watublapi yang secara berkala melayani kebutuhan rohani umat setempat.
Menjelang peringatan hari jadinya, sejumlah kegiatan rohani dan kemasyarakatan disebut menjadi bagian dari rencana untuk memeriahkan momentum tersebut. Kegiatan yang direncanakan meliputi lomba paduan suara antarkelompok umat, perayaan Ekaristi sebagai ungkapan syukur, serta pelayanan sakramen yang berkaitan dengan kehidupan keluarga dan administrasi gerejani.
Rangkaian kegiatan tersebut diharapkan tidak hanya menjadi perayaan seremonial, tetapi juga memperkuat kebersamaan umat serta semangat pelayanan di tengah masyarakat.
Berawal dari Pelayanan Misionaris SVD
Sejarah Paroki Renha Rosari Hale Hebing telah dimulai jauh sebelum paroki ini berdiri secara mandiri.
Berdasarkan catatan sejarah paroki yang dipublikasikan dalam tulisan Selayang Pandang Paroki Renha Rosari Hale Hebing, wilayah ini telah menerima pelayanan sakramen sejak sekitar 1920. Pada masa itu, umat merayakan Ekaristi, terutama pada hari raya Natal dan Paskah, melalui pelayanan dari Watublapi.
Kunjungan yang tercatat dilakukan oleh Pater S. Beyer, SVD, pada 1927. Setelah itu, pelayanan pastoral di wilayah Hale Hebing berlangsung secara bergiliran melalui para imam dari Serikat Sabda Allah atau Societas Verbi Divini (SVD).
Perjalanan tersebut menjadi fondasi bagi perkembangan kehidupan menggereja di Halehebing. Pelayanan yang awalnya bergantung pada kunjungan para misionaris kemudian berkembang hingga wilayah ini memiliki paroki sendiri.
Pada 7 Oktober 1960, Hale Hebing resmi dimekarkan dari Paroki Mater Boni Consili Watublapi. Pater Antonius Van Stiphout, SVD, tercatat sebagai pastor paroki pertama yang melayani umat di wilayah tersebut.
Renha Rosari, Warisan Iman dan Penghormatan kepada Maria
Nama Renha Rosari memiliki makna yang erat dengan tradisi devosi Katolik kepada Bunda Maria sebagai Ratu Rosario.
Dalam perjalanan kehidupan umat, penghormatan kepada Maria melalui doa Rosario menjadi salah satu tradisi yang memiliki tempat penting dalam spiritualitas Katolik.
Nama pelindung paroki tersebut sekaligus menjadi pengingat bagi umat untuk terus memelihara kehidupan doa, membangun persaudaraan, dan mewujudkan iman melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, peringatan ulang tahun paroki dapat menjadi kesempatan untuk melihat kembali sejauh mana nilai-nilai iman tersebut terus dihidupi, baik dalam keluarga maupun dalam kehidupan bermasyarakat.
Lomba Paduan Suara hingga Misa Syukur
Dalam menyambut HUT ke-66 pada 2027, kegiatan seni liturgi dan perayaan Ekaristi menjadi beberapa agenda yang disebut dalam bahan awal pemberitaan.
Lomba paduan suara tingkat paroki dapat menjadi ruang bagi umat dari berbagai stasi untuk mengembangkan bakat, memperkaya musik liturgi, sekaligus mempererat hubungan antarkomunitas.
Sementara itu, misa syukur menjadi bagian utama dalam perayaan ulang tahun paroki. Melalui perayaan Ekaristi, umat diajak mengenang perjalanan pelayanan gereja sekaligus mensyukuri penyertaan Tuhan sepanjang sejarah komunitas tersebut.
Selain kegiatan rohani, pelayanan sakramen yang berkaitan dengan kehidupan keluarga juga disebut sebagai salah satu bentuk perhatian terhadap kebutuhan umat.
Dalam catatan pemberitaan mengenai perayaan HUT ke-63, terdapat kegiatan pemberkatan atau pengesahan perkawinan bagi pasangan-pasangan yang mengikuti pelayanan tersebut. Pengalaman itu menunjukkan bahwa momentum ulang tahun paroki dapat dimanfaatkan untuk memperhatikan kehidupan keluarga dan kebutuhan pastoral umat.
Adapun rencana kegiatan untuk HUT ke-66, termasuk kemungkinan pelayanan administrasi kependudukan melalui kerja sama dengan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, masih perlu dikonfirmasi kepada panitia atau pengurus paroki sebelum ditetapkan sebagai agenda resmi.
Merawat Kebersamaan Umat di Mapitara
Paroki Renha Rosari Hale Hebing melayani umat Katolik yang tersebar di sejumlah stasi dan Komunitas Umat Basis (KUB) di wilayah Kecamatan Mapitara.
Kondisi geografis yang berbukit menjadi salah satu konteks kehidupan masyarakat setempat. Dalam situasi seperti ini, pelayanan pastoral tidak hanya berkaitan dengan penyelenggaraan ibadah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan umat dalam menjaga komunikasi, persaudaraan, dan kegiatan bersama.
Karena itu, peringatan HUT ke-66 dapat menjadi momentum untuk memperkuat peran komunitas umat dalam kehidupan menggereja. Kegiatan lintas stasi, pelayanan keluarga, pembinaan iman, dan partisipasi generasi muda dapat menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan kehidupan paroki.
Lebih dari enam dekade sejak berdiri, perjalanan Paroki Renha Rosari Hale Hebing mencerminkan proses panjang pertumbuhan komunitas iman di wilayah Mapitara.
Pada 7 Oktober 2026, peringatan hari jadi ini dapat menjadi kesempatan bagi umat untuk mengenang jasa para misionaris dan tokoh terdahulu, mensyukuri perjalanan yang telah dilalui, serta memperkuat komitmen untuk melanjutkan pelayanan bagi generasi berikutnya.