Selasa, 13 Oktober 2026

Alexander Zverev Kunci Peringkat No. 1 ATP Akhir Tahun 2026, Cetak Sejarah Baru


 Alexander Zverev Kunci Peringkat No. 1 ATP Akhir Tahun 2026, Cetak Sejarah Baru Petenis putra Jerman Alexander Zverev memeluk trofi dalam upacara penyerahan penghargaan setelah pertandingan final tunggal putra antara Alexander Zverev melawan Ben Shelton saat kejuaraan tenis US Open 2026 di New York, Amerika Serikat, Minggu (13/9/2026). (US Open)

JAKARTA, ARAHKITA.COM - Alexander Zverev akhirnya mencapai puncak yang selama ini menjadi impiannya. Petenis asal Jerman itu dipastikan mengakhiri musim 2026 sebagai petenis nomor satu dunia versi ATP untuk pertama kalinya dalam kariernya.

Kepastian tersebut datang pada Senin (12/10/2026), setelah Carlos Alcaraz tersingkir dari Shanghai Masters. Kekalahan Alcaraz membuat peluangnya untuk mengejar posisi Zverev tertutup. Situasi ini semakin menguntungkan petenis berusia 29 tahun tersebut setelah rival utamanya, Jannik Sinner, lebih dahulu mengumumkan akan mengakhiri musim akibat cedera lutut.

Bagi Zverev, pencapaian ini bukan sekadar soal angka dalam peringkat dunia. Gelar petenis nomor satu akhir tahun menjadi penegasan atas perjalanan panjangnya di tenis profesional, termasuk perjuangan melewati masa sulit dan upaya berulang kali untuk menembus dominasi para pemain terbaik dunia.

“Ini merupakan musim yang luar biasa bagi saya dengan kemenangan di Paris dan New York. Mengetahui bahwa saya akan mengakhiri tahun di puncak peringkat merupakan impian yang menjadi kenyataan,” kata Zverev, dikutip dari ATP Tour, Selasa (13/10/2026).

Dua Gelar Grand Slam Mengubah Perjalanan Karier Zverev

Musim 2026 menjadi titik balik penting bagi petenis kelahiran Hamburg, Jerman, tersebut. Setelah beberapa kali gagal meraih gelar Grand Slam, Zverev akhirnya berhasil mematahkan penantian panjangnya dengan menjuarai French Open di Roland Garros pada Juni.

Dalam partai final, ia mengalahkan petenis Italia Flavio Cobolli melalui pertarungan lima set dengan skor 6-1, 4-6, 6-4, 6-7(5), 6-1. Kemenangan itu memberinya gelar Grand Slam pertama sekaligus mengukuhkan posisinya sebagai salah satu kekuatan utama tenis putra dunia.

Keberhasilan tersebut tidak berhenti di lapangan tanah liat Paris. Zverev kembali menunjukkan kemampuannya di lapangan keras dengan menjuarai US Open pada September.

Menghadapi petenis tuan rumah Ben Shelton di final, Zverev menang dengan skor 6-3, 7-6(2), 5-7, 6-2. Gelar di New York itu menjadi trofi Grand Slam keduanya pada tahun yang sama.

Pencapaian tersebut memperlihatkan perubahan besar dalam perjalanan kariernya. Setelah bertahun-tahun berjuang mengejar gelar terbesar dalam tenis, Zverev akhirnya mampu mengubah konsistensi permainannya menjadi kemenangan di dua turnamen paling bergengsi.

Dari Semifinal Australian Open hingga Final Wimbledon

Perjalanan Zverev menuju posisi nomor satu dunia juga ditandai dengan performa konsisten di sepanjang musim.

Ia mengawali tahun dengan mencapai semifinal Australian Open pada Januari. Namun, langkahnya terhenti setelah kalah dari Carlos Alcaraz dalam pertandingan panjang yang berlangsung selama lima jam 27 menit.

Di rangkaian turnamen ATP Masters 1000 awal musim, Zverev juga menunjukkan stabilitas permainan. Ia mencapai setidaknya semifinal di Indian Wells, Miami, Monte-Carlo, dan Madrid. Di Madrid, ia melangkah hingga final sebelum dikalahkan Jannik Sinner.

Setelah menjuarai French Open, Zverev kembali membuktikan kemampuannya di lapangan rumput Wimbledon. Ia berhasil mencapai final, meskipun harus mengakui keunggulan Sinner dalam pertandingan empat set dengan skor 6-7(7), 7-6(2), 3-6, 4-6.

Hasil di Wimbledon itu menegaskan jangkauan prestasinya di berbagai jenis lapangan. Zverev juga menjadi petenis putra Jerman pertama yang berhasil mencapai final di keempat turnamen Grand Slam.

Di US Open, ia menyempurnakan musim Grand Slam yang luar biasa. Zverev mencatatkan 25 kemenangan dan hanya dua kekalahan di empat turnamen Grand Slam sepanjang 2026.

Zverev Cetak Sejarah Tenis Jerman

Keberhasilan mengakhiri musim sebagai petenis nomor satu dunia membuat Zverev menorehkan sejarah baru bagi tenis Jerman.

Ia menjadi petenis putra Jerman pertama yang meraih penghargaan ATP Year-End No. 1. Sebelumnya, Zverev pernah menutup musim 2024 di posisi kedua dunia, tetapi belum pernah mencapai puncak klasemen akhir tahun.

Pencapaian ini juga menghadirkan rekor usia. Pada penetapan peringkat akhir tahun, 23 November 2026, Zverev akan berusia 29 tahun 217 hari. Ia menjadi pemain tertua yang pertama kali mengakhiri musim di posisi nomor satu dunia, melampaui rekor Andre Agassi pada 1999 dan Andy Murray pada 2016.

Ketua ATP Andrea Gaudenzi menyampaikan apresiasi atas pencapaian tersebut. Menurutnya, menjadi petenis nomor satu dunia pada akhir musim merupakan salah satu prestasi tertinggi dalam olahraga tenis.

Ia juga menilai keberhasilan Zverev menunjukkan kegigihan dan tekad untuk terus berkembang setelah bertahun-tahun bersaing di level tertinggi.

Selama satu dekade terakhir, Zverev memang konsisten berada di antara pemain elite. Namun, keberhasilan pada 2026 menjadi pencapaian yang berbeda karena ia tidak hanya meraih gelar Grand Slam, tetapi juga memastikan diri sebagai pemain terbaik berdasarkan peringkat akhir musim.

Persaingan Menuju Puncak Peringkat ATP

Zverev menjadi petenis aktif keempat yang berhasil mengakhiri musim sebagai nomor satu dunia, mengikuti Novak Djokovic, Carlos Alcaraz, dan Jannik Sinner.

Djokovic tercatat sebagai pemain dengan koleksi penghargaan akhir tahun terbanyak, yakni delapan kali. Alcaraz telah meraihnya dua kali, sedangkan Sinner sekali.

Meski sudah dipastikan menjadi petenis nomor satu pada akhir musim, Zverev masih harus menjalani pertandingan yang tersisa. Ia tengah berlaga di Shanghai Masters dengan target menambah koleksi gelar ATP Masters 1000 dalam kariernya.

Selain itu, ATP Finals juga menjadi salah satu sasaran penting menjelang berakhirnya musim. Turnamen penutup tahun tersebut mempertemukan para pemain terbaik berdasarkan performa sepanjang musim.

Bagi Zverev, tahun 2026 kini menjadi musim yang mengubah perjalanan kariernya. Dua gelar Grand Slam dan kepastian menutup tahun di posisi teratas menjadi bukti bahwa penantian panjangnya akhirnya terbayar.

Puncak peringkat dunia yang selama ini dikejar kini berada dalam jangkauannya, sekaligus menempatkan nama Alexander Zverev dalam catatan sejarah tenis putra.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Olahraga Terbaru