Loading
Mendiang Aristides Katoppo, wartawan senior. (sinarharapan.co)
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Mendiang Aristides Katoppo, wartawan senior dan salah satu pendiri Aliansi Jurnalis Independen (AJI) di akhir hidupnya suka membincangkan soal keindonesiaan serta kondisi bangsa belakangan ini.
"Lebih banyak kalau yang terakhir-terakhir ini ngomongin mengenai keutuhan NKRI, Pancasila, sejarahnya, Sumpah Pemuda, dan sebagainya," kata Jura, sapaan akrab Judistira Katoppo.
Judistira, putra sulung Aristides ditemui di Rumah Duka Sentosa, Rumah Sakit Pusat Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, Jakarta, Minggu (29/9/2019).
Jura mengatakan ayahnya cukup perhatian dengan kondisi bangsa akhir-akhir ini dan mengharapkan masyarakat untuk mempertahankan keutuhan NKRI.
"Orang-orang Indonesia macam-macam tapi bisa bersatu. Kayaknya dia agak concern dengan keadaan sekarang. Kalau sama saya, selalu kalau ngomong mengenai kesatuan Indonesia," katanya sebagaimana diberitakan Antara.
Aristides merupakan wartawan senior kelahiran Tomohon, Sulawesi Utara, 14 Maret 1938.
Jurnalis yang dikenal berani pada era Orde Baru itu memiliki tiga anak dari perkawinan pertamanya. Istri dan dua anaknya sudah meninggal dunia. Aristides kemudian menikah lagi dan memiliki dua anak tiri.
Aristides meninggal pada usia 81 tahun, Minggu, 29 September 2019, pukul 12.05 WIB di RS Abdi Waluyo. Jenazahnya saat ini disemayamkan di Rumah Duka RSPAD Gatot Subroto, Jakarta.
Rencananya, jenazah Aristides dikremasi pada Selasa, 1 Oktober 2019, di Oasis Lestari, Tangerang, Banten.
50 Tahun Wafatnya Soe Hok Gie Di akhir hayatnya, wartawan senior Aristides Katoppo sempat ikut memperingati 50 tahun wafatnya Soe Hok Gie yang juga kawannya di Gunung Semeru, Jawa Timur.
"Ada temen-temen pecinta alam bikin kegiatan, bokap (bapak) diundang, sekaligus mengenang 50 tahun itu," kata Judistira Katoppo, putra sulung Aristides di Jakarta, Minggu (29/9/2019).
Tides berangkat pada Jumat (20/9/2019) untuk menghadiri acara itu dan sedianya Senin (23/9) dijadwalkan kembali ke Jakarta.
Namun, kata Jura, sapaan akrab Judistira, ayahandanya minta kepulangannya diundur hingga Selasa (24/9/2019) karena saking gembiranya bertemu kawan-kawannya.
"Dia seneng banget, ketemu Herman Lantang, Don Hasman dan temen-temen lain. Dia pulang seneng banget, bahagia," katanya.
Jura menganggap pertemuan itu menjadi semacam ucapan pamit Tides dengan kawan-kawannya. Awal tahun ini juga sempat juga berpamitan dengan keluarganya di Belanda.
"Awal tahun ini, saya anter dia ke Belanda mau ketemu saudara-saudaranya di Belanda. Sebenarnya, kata dokter dia sudah enggak boleh terbang lagi, tapi ya udahlah tetep terbang," katanya.
Bahkan, kata Jura, ayahandanya sampai harus dirawat di RS sepulang dari Belanda karena kondisi jantungnya yang sudah kurang bagus.
"Kayaknya penutup hidup sudah lengkap, di awal tahun sudah ketemu saudara-saudaranya di Belanda. Istilahnya pamit. Kemarin ini ke Semeru," katanya.
Jurnalis kelahiran Tomohon, Sulawesi Utara, 14 Maret 1938 yang dikenal berani pada era Orde Baru itu memiliki tiga anak dari perkawinan pertamanya.
Istri pertama dan dua anaknya sudah meninggal dunia. Aristides kemudian menikah lagi dan memiliki dua anak tiri.
Aristides meninggal pada usia 81 tahun, Minggu, 29 September 2019, pukul 12.05 WIB di RS Abdi Waluyo. Jenazahnya saat ini disemayamkan di Rumah Duka RSPAD Gatot Subroto.
Rencananya, jenazah Tides dikremasi pada Selasa, 1 Oktober 2019, di Oasis Lestari, Tangerang, Banten.