Loading
Bantingan Sahrul Sulaiman Getarkan Matras Thailand. (Antaranews/Antara/Donny Aditra)
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Matras judo di Convention Hall, The Mall Korat, Thailand, bergetar hebat pada Kamis saat bantingan Sahrul Sulaiman berbuah ippon. Dalam hitungan detik, kemenangan itu mengunci medali emas nomor J1/J2 kelas 81 kilogram di ajang ASEAN Para Games 2025 Thailand.
Atlet para judo asal Kota Medan, Sumatera Utara, tersebut kembali mengharumkan nama Indonesia. Namun, emas kali ini terasa jauh lebih istimewa bagi Sahrul. Di balik raihan prestasi, ada kisah personal tentang keluarga yang menjadi sumber tenaga dan alasan utama ia terus bertarung di atas matras.
Pada usia 35 tahun, Sahrul datang ke Thailand tidak hanya membawa ambisi juara. Ia membawa doa istri, tawa tiga anak, serta tanggung jawab sebagai anak tertua dari empat bersaudara. Setiap langkah di arena seolah menjadi perpanjangan dari harapan keluarga yang menanti di rumah.
Sahrul mengakui rasa gugup sudah menyapanya sejak dua hari sebelum pertandingan. Namun, perasaan itu tidak ia hindari. Baginya, gugup adalah tanda kepedulian dan keinginan kuat untuk memberikan yang terbaik. Pengalaman panjang di level internasional membantunya mengelola emosi, menahan tekanan, dan menyalakan keberanian di saat krusial.
Emas di APG 2025 menjadi medali emas kedua bagi Sahrul dari tiga kali keikutsertaannya di ajang tersebut. Sebelumnya, ia meraih emas perorangan di APG 2022 Indonesia di Solo, lalu harus puas dengan perak perorangan pada APG 2023 Kamboja, meski tetap membawa pulang emas beregu. Perjalanan naik turun itu menempa mentalnya, mengajarkan bahwa puncak prestasi selalu bisa diraih kembali dengan kerja keras dan kesabaran.
Bagi Sahrul, keluarga adalah poros kehidupan. Istri dan anak-anak menjadi pengingat tujuan, orang tua sumber restu, serta adik bungsu yang masih menimba ilmu di pesantren menambah tanggung jawab yang ia pikul. Kehadiran anak bungsunya yang belum genap setahun menjadi energi tambahan dalam setiap sesi latihan dan disiplin menjaga kondisi tubuh.
Ia ingin pulang membawa kabar baik, sebuah kado yang tak lekang oleh waktu. Ketika kabar emas itu sampai ke rumah, tangis bahagia pun pecah. Istrinya menangis haru, menutup penantian panjang dengan rasa syukur dan kebanggaan.
Persaingan di kelas J1/J2 81 kilogram berlangsung ketat dengan format round robin. Lima judoka tampil saling berhadapan untuk mengumpulkan kemenangan terbanyak. Namun, laga paling menguras emosi justru terjadi saat Sahrul berhadapan dengan rekan senegaranya sendiri, Azis Rizal Saepul, di pertandingan pembuka.
Sebagai sesama atlet yang kerap berlatih bersama, keduanya saling memahami kekuatan dan kelemahan masing-masing. Pertarungan itu lebih dari sekadar adu teknik, melainkan duel mental. Setelah melewati laga berat tersebut, Sahrul tampil semakin tenang.
Ia menundukkan Al Jaed Pacheco dari Filipina, kemudian tampil dominan melawan Phayaksa Adithep dari Thailand dengan ippon. Di laga terakhir, wakil tuan rumah Chaisin Kittikai kembali ditaklukkan dengan ippon, memastikan emas berada dalam genggamannya.
Kunci keberhasilan Sahrul terletak pada kontrol ritme pertandingan. Ia tahu kapan menunggu dan kapan menekan. Kekuatan fisik menjadi modal, sementara kesabaran membuat setiap serangan lebih efektif dan terukur.
Selepas APG 2025, Sahrul langsung menatap tantangan berikutnya, Asian Para Games 2026 Aichi-Nagoya, Jepang. Ia menyadari level persaingan akan jauh lebih berat. Persiapan intensif di pemusatan latihan nasional harus dijalani, termasuk peningkatan kekuatan dan pengaturan tempo agar mampu bersaing di level Asia.
Di balik euforia emas, Sahrul menyimpan satu harapan besar kepada pemerintah. Ia ingin atlet disabilitas yang telah mengharumkan nama bangsa bisa diberdayakan setelah masa aktif bertanding berakhir. Bukan soal jabatan atau pangkat, melainkan kesempatan bekerja untuk melanjutkan hidup dan menafkahi keluarga.
Bagi Sahrul, masa muda telah ia habiskan di atas matras dengan segenap pengabdian. Kini, emas APG 2025 menjadi penanda bahwa jalur yang ia pilih masih tepat. Selama keluarga menjadi alasan, Sahrul Sulaiman akan terus bertarung, menggetarkan matras, dan pulang dengan hati yang tenang serta tekad yang utuh.