Selasa, 27 Januari 2026

In Memoriam Pater Heinrich Bolen SVD


 In Memoriam Pater Heinrich Bolen SVD Pater Heinrich Bolen SVD. (Net)

Oleh: Gabriel Felipe Didinong Say

SATU lagi pelaku dan saksi sejarah perubahan di Maumere berpulang ke rumah Bapa...Selamat Jalan Bapa Bollen...upahmu besar di Surga...

Pater  Bollen hadir di Maumere 1960 ketika suhu politik lokal mulai memanas. Perseteruan politik antara Jan Jong cs dengan P. Samador da Cunha semakin meningkat setelah Jan Jong dilengser dari posisi sebagai Ketua DPRD Sikka. Perseteruan politik sengit berlatar sejarah sarat primordialisme dan cenderung menjadi personal.

Pater Bollen lantas bertugas sebagai Gembala di paroki Watublapi. Selain menjaga dan merawat iman umat, Pater Bollen juga mulai mendekati moat Jan Jong yang kala itu orientasi politiknya mulai bergeser kekiri kirian. Target Pater Bollen adalah penyelamatan umat dari kisruh politik lokal bahkan nasional berikut dampaknya. Umat di kawasan Iwang (Watublapi dan sekitar) yang masih sangat minim wawasan itu perlu dihindarkan dari berbagai  kesalahpahaman dan penyelewengan kekuasaan dan konflik politik.  Namun Jan Jong bergeming terhadap pendekatan Bollen. Resistensi Jan Jong bahkan tidak terpengaruh ketika dirinya dilarang menerima Sakramen.... "Pastor, saya rela bergabung dengan partai setan sekalipun...asal bisa untuk melawan dominasi dan nepotisme"....demikian sanggah Jan Jong kepada Bollen....

Bahwa kemudian akhirnya moat Jan Jong terjungkal setelah G30S 65... lalu sebagian keluarga berasumsi ada peran Bollen di situ, saya tidak berargumen.

Yang pasti, Bollen seperti pastor Groot, pastor Pede da Lopez, dr. Hillers dll sangat menentang pembantaian umat di tahun tahun gelap awal Orba, yang ditengarahi masuk dalam daftar penerima mata pacul atau pupuk dan bibit tanaman dari Jan Jong cs.

Watublapi dan Bollen itu seperti sekeping mata uang dengan dua sisi. Seluruh Maumere bahkan Flores lazim mengenang Watublapi dan Pater Bollen secara bersamaan. Selama bertugas, misionaris Jerman ini berhasil menanamkan iman katolik secara kukuh di sanubari umat, tanpa mencabut nilai kearifan lokal dan agama domestik setempat. Alhasil, bibit panggilan tumbuh bersemi menjadi tak sedikit awam tangguh, rohaniwan rohaniwati bahkan sampai setingkat uskup. Sementara itu, budaya setempat juga terawat dengan baik dalam berbagai bentuk. Sanggar kesenian dan budaya di paroki Watublapi selalu menampilkan penari dan tarian terbaik berikut kain tenun dan lain lain hasil budaya.

Namun 'karya' Bollen yang paling monumental adalah menginisiasi perubahan paradigma budidaya pertanian yang bermanfaat bagi ekonomi sosial. Ketergantungan masyarakat pada tanaman musiman dan hasil hutan dikonversi dengan pertanian budi daya komoditi jangka panjang bernilai tinggi.

Bermitra dengan Bupati L. Say yang didukung Viator Pareira dkk, ekstensifikasi kakao, cengkeh, kopi, alpokat, dll adalah pilot project di wilayah Watublapi dan sekitarnya yang sangat berhasil dan segera menjadi contoh bagi para petani di Maumere bahkan di seluruh Flores. Bupati Jan Jos Botha dari Ngadha, Gadi Jou dari Ense dan Sales Lega dari Manggarai datang belajar tentang pertanian  san mengambil bibit di Maumere. Gubernur Eltari yang bersemboyan "tanam tanam tanam", berkali kali di berbagai forum memuji Ikatan Petani Pancasila (IPP) yang digawangi oleh Bollen. Raja Don Thomas da Silva jauh jauh hari telah memiliki visi tentang kawasan Iwanggete sebagai sentra produksi komoditi jangka panjang. Tetapi baru di masa Bollen dan L. Say, visi itu mulai terwujud nyata. Ekonomi masyarakat mulai membaik. Tingkat pendapatan meningkat. Generasi ke generasi boleh makan dan berpakain lebih layak, pendidikan semakin tinggi, dan seterusnya.

Sayangnya, para petani  di rebis Watublapi san sekitarnya hanya dilatih Bollen untuk  berproduksi dan tidak dilatih berdagang. Sehingga, akhirnya yang paling beruntung secara ekonomis oleh ledakan komoditi jangka panjang tsb di tahun 70an dstnya adalah papalele dan pedagang perantara di Geliting dan Maumere.

Bollen juga sangat piawai dalam hal membangun pemberdayaan masyarakat melalui lembaga swadaya NGO. Ia mendirikan Yayasan Pembangunan (Yaspem) yang kini memiliki aset luar biasa. Bollen memang memiliki akses ke berbagai lembaga donor di Eropa dan Amerika.

Catatan penting dari upaya pemberdayaan masyarakat oleh Bollen ini adalah soal kaderisasi. Terlepas dari oknum aktivis busuk yang menjual proposal kemiskinan rakyat untuk memperkaya diri, pelatihan yang didorong oleh Bollen bagi tenaga pemberdayaan masyarakat  berhasil menciptakan kultur pelayanan publik dengan tenaga tenaga tangguh seperti  Donatus Hure, Yosef Doing di masa awal dan dilanjutkan oleh Trix Mali, Rafael Raga, Henny Doing, Silvester Nong Manies dll di masa kini....

Sekira tahun 75, sebuah resort  wisata di pantai Waiara yang dikelola oleh bule Italia mengalami masalah manajemen dan keuangan. Pemilik resort tersebut bertemu buoati L. Say untuk melepaskan sahamnya kepada pemerintah daerah. Karena Pemsa Sikka tidak boleh berbisnis maka L. Say mencoba menawarkan bisnis tersebut kelada beberapa pihak. Ternyata Bollen memiliki insting bisnis pariwisata luar biasa. Masa itu pariwisata di Maumere (piknik) masih merupakan barang baru dan mewah. Bahkan wisata Indonesia masih terbatas di Bali dan beberapa destinasi tertentu. Saat itu, Bollen bersedia take over resort tsb yang sekarang menjelma menjadi Sea World Club Waiara yang mendunia. Bollen adalah perintis pariwisata Sikka.

Mengenang Pater Bollen, pertama tama asalah mengingat ruang tamu di paroki Watublapi yang harum beraroma anggur dan coklat. Ketika kanak kanak, tahun 70 an, paroki Watublapi adalah tempat singgahan favorit saat pulang dari kampung di Bola. Karena di tempat itu, pasti dapat coklat dan permen dari Pater Bollen. Coklat dan permen yang dikirim oleh saudaranya di Jerman dan Swiss...

Bau harum dan wangi anggur itu juga masih terasa  tebal ketika mengunjungi ruangan pater Bollen  yang selalu resik dan tertata apik di Sea World Club.

Sekarang saya cukup percaya bawa harum mewangi seperti itu adalah aroma orang suci.

RIP.

Penulis adalah Pemerhati sejarah Flores di Jakarta.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Suara Kita Terbaru