Loading
Prof. Asep Saefuddin, Rektor Universitas Al Azhar Indonesia/Guru Besar Statistik. (Istimewa)
Oleh: Asep Saefuddin
PADA tanggal 12 - 15 Agustus 2018 saya mendapat undangan memberikan makalah tentang peranan Confusius Institut (CI) atau Pusat Bahasa Mandarin dalam meningkatkan hubungan Indonesia-Tiongkok termasuk dalam pariwisata. Pada saat saya memposting foto ke IG (instagram) sedang berdiri di depan Kampus Beijing Normal University (BNU) ada yang bertanya “Apa peranan pendidikan di Tiongkok sehingga mereka maju pesat? Bagaimana dengan peran pendidikan di Indonesia”.
Pertanyaan itu membawa saya ke masa lalu, yakni tahun 1983 ketika mendapat tugas belajar ke Perancis. Pada saat saya kursus bahasa Perancis di IAM (Institute d’Agronomie du Montpellier) kebetulan satu kampus dengan rombongan mahasiswa tugas belajar dari Tiongkok. Ciri luar saat itu yang nampak adalah mereka selalu berpakaian seragam (coklat lengan panjang), potongan rambut dan kacamata sama, serta mereka sangat rajin belajar terlihat hampir di setiap saat mereka baca buku (tentu buku berbahasa Perancis). Mereka selalu datang lebih awal dan pulang lebih akhir. Mereka sangat memanfaatkan perpustakaan.
Baca juga:
Virus PHKIntinya mereka rajin, disiplin, tekun, jalan cepat, memanfaatkan kesempatan dengan baik, dan kerja keras.
Ciri-ciri yang berkaitan dengan perilaku itu saya masih lihat saat ini. Walaupun ciri model rambut, kacamata, dan pakaian itu sudah tidak terlihat sama sekali. Gaya mereka saat ini layaknya masyarakat negara-negara maju dimana saja. Pakaian bebas, model rambut macam-macam, begitu juga kacamata mata berbeda-beda disesuaikan dengan bentuk wajah. Pada tahun 1983, bagaimanapun bentuk wajah, kacamata tetap kotak. Konon itu adalah pembagian dari pemerintah. Begitu juga baju.
Terlepas dari sistem pemerintahannya yang mulai berubah sejak akhir dekade 80, sepertinya karakter dasar mereka relatif sama. Kepribadian mereka yang berkaitan dengan kedisiplinan dan kerja keras merupakan karakter dasar mereka. Ditambah lagi dengan keinginan untuk selalu lebih baik dari masa ke masa, adalah wajar bila saat ini kita menyaksikan perkembangan Tiongkok yang sangat cepat.
Pembangunan fisik mereka sangat luar biasa. Kereta cepat, jalan bebas hambatan, fasilitas umum dan sarana prasarana untuk kemudahan masyarakat betul-betul disiapkan. Bila harus menembus gunung atau membuat jembatan antar beberapa bukit dan sungai, semua dilakukan. Dalam hal ini memang diperlukan teknologi yang terus digali melalui kesungguhan riset dan pengembangan.
Baca juga:
Survei PolitikTeknologi adalah akibat kesungguhan individu, kekuatan kerjasama, dan ekosistem yang dibangun oleh pemerintah. Jadi esensi kemajuan Tiongkok terletak pada manusianya. Teknologi modern yang dulu dianggap milik Barat, ternyata begitu berkembang di Negeri Tirai Bambu ini. Kesan bahwa kemajuan adalah milik Barat itu sama sekali tidak terbukti. Setidaknya Tiongkok serta Jepang dan Korea telah mematahkan anggapan itu.
Kembali ke pertanyaan awal tentang kemajuan dan pendidikan, saya tidak tahu banyak tentang sistem pendidikan Tiongkok. Yang saya tahu dari lapisan luar adalah modal sosial mereka yang mengedepankan kepercayaan dan kejujuran. Selain tentunya aspek kedisiplinan, ketaatan, dan kerja keras.
Tanpa sifat-sifat dasar itu, sebuah masyarakat dengan populasi besar itu akan sering kacau (chaos). Di lain pihak, pemerintah betul-betul memanfa’atkan teknologi. Dengan modal sistem, teknologi, dan kedisiplinan masyarakat maka kerumunan di tempat keramaian tetap berjalan lancar. Misalnya untuk masuk bandara, pintu hanya akan terbuka melalui KTP atau paspor. Paspor asing pun, bila sudah masuk ke wilayah Tiongkok bisa membuka pintu. Nomor identitas yang bersifat unik itu sudah direkam dan dikenal oleh semua alat di seluruh Tiongkok. Walaupun mereka menyiapkan juga pintu khusus yang dijaga petugas. Bila pintu tidak terbuka, petugas akan membantu dan mempersilakan masuk.
Masalah kepercayaan (trust) kepada orang lain juga mereka pegang penuh. Teman saya yang kehilangan tiket kereta api tetap bisa masuk stasiun hanya dengan mengatakan bahwa kami berdua satu grup. Kami diminta memperlihatkan paspor dan tiket. Kami mengatakan apa adanya bahwa kami kehilangan satu tiket. Petugas percaya bahwa kami tidak berdusta, sambil melubangi satu tiket, lalu mempersilakan masuk. Dengan model kepercayaan ini, sirkulasi arus tidak tersendat. Padahal kerumunan orang luar biasa padat. Hal ini sulit terjadi di Indonesia. Saat ini kita masih berpikir “untuk apa mempermudah, bilamana bisa dipersulit”. Inilah penyakit kronis kita.
Saya menduga sifat-sifat disiplin, kerjasama, kepercayaan dipelihara dalam pendidikan. Di Universitas selalu ada museum untuk menghormati leluhur. Mereka sadar bahwa bangsa besar adalah bangsa yang menghormati sejarahnya. Kehadiran museum di kampus juga membuat universitas tidak terlalu mekanistis. Tetapi ada garda nilai yang juga berlaku sebagai faktor penggerak imajinasi.
Dengan demikian, kehidupan kampus tidak monoton, kering, artifisial, tetapi lebih hidup dan tidak membosankan. Pada saat itulah inovasi dan riset berkembang. Yang pada ujungnya membuat Tiongkok maju.
Penulis adalah Rektor Universitas Al Azhar Indonesia/Guru Besar Statistika IPB