Loading
Prof. Asep Saefuddin, Rektor Universitas Al Azhar Indonesia/Guru Besar Statistika IPB. (Istimewa)
Oleh: Prof. Asep Saefuddin
KETIKA saya ditanya wartawan mengapa angka survei tentang pilpres atau pilkada itu berbeda-beda? Saya jawab angka survei berbeda-beda adalah wajar. Dalam statistika ada parameter dan penduga parameter. Parameter adalah angka tertentu yang ada di populasi adapun penduga parameter adalah angka yang dihasilkan melalui proses survei.
Parameter tentang pilpres atau pilkada hanya satu, sedangkan penduga parameter bisa bermacam-macam. Sejauh metodologi yang dipergunakan itu benar, maka semua angka dugaan itu benar.
Baca juga:
Virus PHKBasis survei adalah Teknik Penarikan Contoh (TPC) atau sampling technics. Secara umum, TPC ini ada dua pola yakni probabilistik dan non probabilistik. Dalam TPC probabilistik, semua anggota dalam sebuah populasi mempunyai peluang yang sama untuk terambil.
Secara teori TPC probabilistik akan menghasilkan angka tak berbias (unbias). Untuk hal-hal tertentu, bila pola probabilistik ini sulit dilakukan, maka ditempuh pola non probabilistik seperti convenient sampling. Dan ini tidak salah secara keilmuan. Dua-duanya bermanfaat.
Baca juga:
Survei PolitikUmumnya survei dilakukan dengan pola probabilistik, sehingga hasilnya tidak berbias (unbiased estimate). Artinya, nilai harapan dari angka survei itu akan sama dengan nilai parameter. Untuk itu, dalam TPC probabilistik ada beberapa prinsip yang harus dipegang, yakni keacakan (randomness) dan keterwakilan (representativeness). Selain itu tentu kuesioner harus valid dan reliabel atau handal dan bisa dipercaya.
Untuk menjawab prinsip-prinsip tersebut, sebelum dilakukan survei harus dibuat dulu kerangka contoh (sampling frame). Yakni suatu peta informasi titik individu yang akan disurvei dalam satu unit sampling. Jumlah contoh (sample size) yang akan diambil ditentukan berdasarkan selang kepercayaan (confident interval) dan margin error (batas galat) tertentu. Biasanya selang kepercayaan yang dipergunakan adalah 99% atau 95% serta batas galat sebesar 1 atau 2%. Kedua kriteria itu akan berkaitan erat dengan besaran jumlah contoh yang akan diambil.
Semakin besar selang kepercayaan semakin besar jumlah contoh. Serta semakin kecil batas galat semakin besar jumlah contoh. Kedua kriteria inilah yang dipergunakan surveyor dengan memperhatikan juga kendala waktu, uang, dan tenaga. Supaya hasilnya baik, yakni tidak bias dan sah, setelah kerangka contoh dan kuesioner dibuat harus dilakukan pelatihan bagi petugas lapangan (enumerator). Ketika di lapangan, enumerator tidak terlihat memakai pakaian yang akan mempengaruhi persepsi responden.
Begitu juga dalam hal bertanya, cara bicara tidak mengarahkan responden kepada jawaban tertentu. Semunya harus bebas sehingga tidak bepengaruh terhadap jawaban. Dalam statistika disebut enumerator effect yang bisa membuat jawaban jadi bias.
Bagaimana dengan kondisi lapangan seperti Indonesia yang cukup beragam? TPC menyodorkan berbagai metode, seperti cluster sampling (TPC Klaster atau Kelompok) dan stratified sampling (TPC berlapis). Cluster sampling dilakukan dengan mengelompokkan lokasi dahulu sebelum dilakukan penarikan contoh. Beberapa kelompok, unit sampling serta individu diambil secara sacara acak.
Adapun stratified sampling dibuat klasifikasi-klasifikasi tempat berdasarkan kriteria tertentu, misalnya kota-kabupaten, PAD, dan lain-lain berdasarkan kesempatan tim. Kedua metode ini dilakukan untuk menanggulangi persoalan keragaman yang relatif tidak homogen.
Selain kedua metoda itu, saat ini TPC semakin berkembang dengan mencampurkan tahap dan model. Misalnya multistage stratified random samping (TPC acak berlapis dan banyak tahap). Kerangka contohnya akan memperlihatkan propinsi, kabupaten/kota, kecamatan, desa, keluarga, dan individu. Pola-pola ini dilakukan untuk memperoleh hasil yang sah (valid), tidak berbias, dan bermanfaat.
Namun bila terjadi angka hasil survei yang berbeda-beda, sejauh metodologinya benar,maka angka-angka itu bisa dijadikan pendugaan kebenaran (predictive truth). Tapi kita harus melihatnya apa adanya, rasional, dan tenang. Tidak usah terlalu baper terhadap hasil. Apapun hasilnya sangat bermanfaat bagi para politisi dan masyarakat.
Penulis adalah Rektor Universitas Al Azhar Indonesia/Guru Besar Statistika IPB.