Selasa, 27 Januari 2026

‘Wake Unu‘, Ritual Pernikahan Don Jose da Silva dan Nita Faradina


 ‘Wake Unu‘, Ritual Pernikahan Don Jose da Silva dan Nita Faradina Don Jose da Silva dan Nita Faradina bersama kedua orang tua pada saat prosesi adat Sikka Krowe, Wake Unu di kediamannya, Kamis (24/10/2019) sore. (Foto-Foto: Istimewa)

SALAH satu prosesi pernikahan adat istiadat Sikka Krowe sebelum pemberkatan pernikahan di Gereja dan resepsi pernikahan adalah 'Wake Unu'.

Tahap 'Wake Unu' ini merupakan hari permulaan pesta dimana mulai hari itu semua keluarga jauh dan dekat masing-masing dengan tugasnya akan ke rumah pihak laki-laki atau ke rumah pihak wanita. 

Di rumah pihak laki-laki: ada yang membawa mas kawin, ada yang membawa labu sako, dan sebagainya. Ringkasnya malam itu pesta kekeluargaan (kumpul keluarga). Ada yang menghiasi rumah mempersiapkan kamar pengantin, tenda dan sebagainya. Kira-kira jam 10.00 malam pihak wanita pergi menjemput Aa Gete dari pihak laki-laki, untuk mempersiapkan  bilik pengantin yang telah disediakan.

Adalah putra dari Bapak Don Y.G.S da Silva & Ibu Floriana L.R. da Gama: Don Jose Marthadian Ximenes da Silva dan Nita Faradina yang merupakan putri dari Bapak Charles Sulasbono & Ibu Pudji Utami, pada Kamis, 24 Oktober 2019 sore di kediaman Bapak Roy da Silva tepatnya di Taman Manggu Indah, Jurang Mangu Barat, Pondok Aren, Tangerang, ritual prosesi adat itu berlangsung. Kedua keluarga besar dari da Silva Sikka, da Silva Nita, da Gama, Keluarga Pareira Soget berkumpul di kediaman calon mempelai pria di komplek perumahan Taman Mangu Indah.

Cucu Raja Muda Sikka-Mo'at Don Josephus Daniel Ximenes da Silva ini pada malam itu pun mendengar wejangan langsung dari ayah tercinta. "Di dalam suatu keluarga dimana komunikasi adalah porsi nya harus lebih besar dari Cinta. Kalian yang hadir di sin adalah saksi hidup dari perkawinan keluarga ini. Itu alasan mengapa kalian keluarga semua saya undang hadir menyaksikan acara ini,"ucap Roy da Silva penuh harapan.

Dalam masa pra-nikah, kedua calon pengantin tetap diperhatikan gerak gerik, tingkah laku dan kematangan sosial dan psikologis untuk memasuki rumah tangga baru. Apabila salah satu pihak ingin bepergian jauh dengan waktu lebih dari satu minggu harus dilaporkan. Agar hubungan semakin dekat dan juga semakin dikenal maka calon laki-laki di undang oleh mertua dengan tujuan mengenal lebih akrab. Demikian juga wanita diundang ke rumah mertua dengan maksud yang sama. Dalam kasus tertentu, banyak terjadi pertunangan dapat di batalkan karena ditemukan hal-hal yang tak dikehendaki oleh salah satu pihak. 'Wake Unu' adalah salah satu dari rangkaian prosesi setelah A Wija/A Bleba.

Prosesi Adat Sikka KroweSetiap pasangan apabila sudah waktunya untuk berumah tangga, maka proses yang akan dilalui antara lain:

Hakeng Kawit: (penentuan jadwal perkawinan)Sesuai jadwal yang disetujui bersama, maka juru bicara pihak me wai dengan membawa tuak dan ayam akan berunding seputar hari perkawinan di rumah pihak perempuan. Dalam perundingan itu juga akan dijadwalkan hari pembacaan nama di gereja. Selanjutnya kedua belah pihak melakukan persiapan dengan “wai-sea” (menumbuk padi) untuk acara perkawinan dan juga membuat kue-kue adat (bolo plagar, kolomoe).

A Wija/ A BlebaTahap A Wija/A Bleba dilakukan di mana pihak me wai (laki-laki) mengadakan perjamuan untuk mengumpulkan mas kawin. Dalam perjamuan ini yang diundang ada yang dari keluarga lurus, ada yang dari me wai, ada juga dari sahabat dan kenalan. Hal ini dilakukan sebagai bentuk solidaritas sekaligus meringankan tanggungan belis.

'Wake Unu' (Hari Permulaan Pesta)

Acara Wake UnuTahap Wake ‘Unu merupakan hari permulaan pesta dimana mulai hari itu semua keluarga jauh dan dekat masing-masing dengan tugasnya akan ke rumah pihak laki-laki atau ke rumah pihak wanita. Di rumah pihak laki-laki: ada yang membawa mas kawin, ada yang membawa labu sako, dan sebagainya. Ringkasnya malam itu pesta kekeluargaan (kumpul keluarga). Ada yang menghiasi rumah mempersiapkan kamar pengantin, tenda dan sebagainya. Kira-kira jam 10.00 malam pihak wanita pergi menjemput Aa Gete dari pihak laki-laki, untuk mempersiapkan bilik pengantin yang telah disediakan.

Hari KawinKawin, merujuk pada adat lama sebelum agama Katolik masuk dalam wilayah Sikka, diceritakan bahwa upacara kawin dibuat secara sederhana di mana orang tua laki-laki akan diserahkan kepada bibi untuk “olaha oha sorong loni” (bentangkan tikar bantal). Untuk keluarga dengan strata sosial dianggap keluarga terpandang, upacara perkawinan anaknya dilakukan oleh tua-tua adat. Sesuai waktu yang telah disepakati, pengantin laki-laki diiringi keluarganya menuju rumah pengantin wanita. Kedua pengantin duduk di atas tikar bantal dan dikelilingi keluarga dai kedua pihak. Tua adat dengan pembantunya yang membawa upacara berada di tengah-tengah. Di depannya telah disediakan sepiring hati babi, secangkir tuak, sepiring bunga dan sepiring beras kuning.

Tua adat memulai dengan ungkapan adat sbb : Miu dua baa giit, Miu mo’ang baa mangang, Giit baa meti lepo, Mangang baa plamang woga (Kamu berdua telah dewasa, Dewasalah kamu dalam membangun keluarga/ rumah tangga). Lalu diambilnya hati babi, di belah dua, lalu diserahkan kepada kedua pengantin masing-masing sebelah, dan disuruhnya saling menyuap hati babi itu, sambil berkata: Gea sai wawi ‘api ‘ara prangang, Dena jaji wai nora la’i (Makanlah perjamuan ini, Lambang janji suami istri). Kemudian tua adat menyerahkan secangkir tuak kepada pengantin laki-laki untuk diminum seteguk lalu diberikannya kepada pengantin wanita jugauntuk diminum seteguk, sambil tua adat berkata: Minu sai tua gahu supa, Dena supa ‘lihang nora lalang, (Minumlah tuak yang keras, Sumpah bersuami isteri). Setelah itu, tua adat menghambur bunga ke atas kepala kedua pengantin sambil berkata: Wuat naha baka lika, Puhut naha jiro-jaro. (Berbuahlah lebat, Berbungalah indah-indah).

Selanjutnya, beras kuning dihamburkan, sambil berkata: Bua buri ganu wetang, Gae teto ganu ‘atong, Teri le’u nete ‘eting, Era le’u nete ‘oang, Sape kang benu wuli, Sape wodong luu wa’I, Lena wero lopa lete ‘eting, Dena wawi lopa poar hoat (Beranak cuculah sebagai, Biji jewarut, Memenuhi segala wilayah, Sampai ke batas Tana Ai, Samapi ke batas Lio, Supaya kera jangan bertengger, babi jangan melompat batas).

Kemudian tua adat mempersilakan Aa Gete menuntun kedua pengantin ke dalam bilik yang telah disediakan, sambil berkata, daa blewut ko belung Sape boga ko loar (sampai mati baru bercerai). Sementara itu semua yang hadir dan tua-tua adat di hidangkan makanan secukupnya, pigang pitu makok walu (tujuh piring dan delapan mangkok) berarti tiap orang mendapat berjenis macam makanan dan sayur mayur. Hidangan memakan waktu lama, menanti kedua pengantin keluar dari kamar untuk makan.

Di dalam bilik Aa Gete masih memberi nasehat katanya: Au dua baa glit meti lepo, Naha tutur gepu ganu hejung, Ganu hepung tereng ‘uneng, Au moang baa mangang pramang woga, Naha harang blewo ganu hewong, Ganu hewong tua wutung, Lopa tutur deteng wawa leang blong, Tilu riwung wawa diri rena, Ita wae meang ganu mate, Lopa harang lasa wawa lasa lawing, Mata ngasung wawa nia ita, Odi mata berat ganu bunu. (Anda wanita dewasa, Berbicara halus-halus, Bagai bunyi nyamuk, Anda pria dewasa , Tegur halus-halus, Seperti bunyi kumbang, Jangan berbicara di luar rumah, akan didengar banyak telinga dan dilihat banyak mata, alangkah malunya.)

Kedua pengantin akan keluar bersama Aa Gete, untuk makan bersama sambil minum moke yang selanjutnya menari sampai malam. Sementara itu, ada waktu istirahat sejenak untuk memberikan kesempatan kepada tua adat yang lain dalam memberi nasihat bagi pengantin baru. Nasihat-nasihat tersebut juga dilantunkan dalam bahasa adat untuk pengantin pria dan untuk pengantin wanita.

Untuk pengantin pria:Gou lau lemang, mai saing waing, Bata reta marang, mai toma meng, Waing mutu ko laa, meng mutu ko lega, Niang poa lero ha’e, Reging sai taka, rema sai porong, Gopi sai roing, rodo sai kabor, Kare sai tua, dena bihing waing, Dena bekat meng, Luat rema rua, lopa diri ‘ata tutur, Sarang ga maeng-maeng, ganu hepung, Sepu papang ‘uneng, diri wi hulir, Besung leu waing, ibar leu meng, loar, ‘ata waing bait baa, Ganu plea ganu klegang, ‘ata meng belar baa, Ganu roho, ganu toleng  (Artinya: Mencari rejeki baik di laut pun di daratan, hantarlah kepada isteri, yang akan membukanya. Pagi matahari terbit sandanglah kapak serta parang, tebaslah hutan, panjatlah kelapa, menyadap tuak, untuk memelihara anak isterimu. Esok lusa, jangan dengar bisikan orang, untuk melepaskan anak isterimu, jangan sekali-kali. Anak isteri orang telah pahit seperti tuba, telah kesat bagai ubi hutan).

Sedangkan nasihat tua adat untuk pengantin wanita adalah:Niang ‘waung lero wawa‘api naha bara, damar naha nilo, Utang naha blaing, Wair naha gahu, La’ing gahu meng, Hang poa lero ha’e, Sunt sai buhar, Rema sai ehar, Jata sai kapa, Moru sai lorung, Dena sapu la’ing, lobe meng, Sapu beli jaur, lobe beli jewa, Luat rema ru’a, lopa diri, ‘ata tutur au kesi kelik berin, Tutur wi ketun blutuk, Ganu hewon blebon reta tua wutun, Diri wi hulir, belung le’u, la’ing, Loar le’u meng, etia loar golo, ‘ata la’ing bait baa, Ganu plea ganu klegang, ‘ata meng belar baa, Ganu roho ganu toleng. (Bila mentari telah masuk, Api dipasang damar menyala, daun pepaya telah masak, Air di masak untuk suami dan anak, Pagi menanti terbit, Ambilah alat pemintal, Pintallah benag, bertenunlah, Untuk suami dan anak, Memakai yang pantas dan baik, Besok lusa jangan dengar, Bisikan orang manis mulut, Mengganggu engkau melepaskan, Suamimu dan meninggalkan anakmu, janganlah sekali-kali. Suami orang telah pahit, Seperti tuba, Dan kesat bagaikan ondo. (M. Mandalangi Pareira, 1988:16).

4e9f5c19-ea78-40b9-b9ab-da1c67439df5

 

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Wedding Terbaru