Selasa, 27 Januari 2026

Dari Dapur ke Bisnis, IRT Ini Raup Cuan dari Sambal dan Abon Khas Bugis


 Dari Dapur ke Bisnis, IRT Ini Raup Cuan dari Sambal dan Abon Khas Bugis Produk olahan sambal dan abon Hayul Spicy. (Foto: Instagram @hayul_spicy)

TERINSPIRASI dari kegemaran sang suami terhadap sambal pedas, Yuliana seorang Ibu Rumah Tangga (IRT) asal Sulawesi Selatan membuktikan bahwa dapur bisa menjadi awal kesuksesan. Lewat brand Hayul Spicy, ia mengubah resep sambal dan abon khas Bugis menjadi bisnis rumahan yang kini digemari banyak orang. Inilah kisah inspiratif IRT yang berhasil menjadikan hobi memasak sebagai peluang usaha menjanjikan

Berawal dari Suami yang Suka Sambal

“Suami saya itu sangat menyukai sambal, bahkan beliau tidak bisa makan berat tanpa cabe atau sambal sehingga saya kalau bikin sambal itu pasti dalam jumlah banyak. Dari itulah akhirnya muncul ide untuk jualan aneka olahan sambal,” ungkap Yuliana,pendiri sekaligus pemilik Hayul Spicy dari Kalimantan Timur.

Oktober 2020, Yuliana memberanikan diri menjual produk-produk sambal olahannya dalam kemasan botol plastik berukuran 50 ml lantaran modal yang terbatas. Kala itu produk sambal yang dia jual untuk kali pertama adalah sambal ebi (udang berukuran kecil). Beberapa bulan berjalan, usaha kecil-kecilannya itu mendapat bantuan modal dari pemerintah sebesar Rp1,2 juta sehingga membuatnya menjual varian sambal lain yakni sambal ijo teri dan sambal cumi.

“Waktu itu paling banyak cuma bisa jual 15 botol untuk dua varian produk dalam satu bulan. Karena ada banyak sekali kebutuhan rumah tangga yang harus kami penuhi, usaha ini sempat berhenti sementara. Baru kemudian sekitar 2021, kami dapat bantuan modal lagi sebesar Rp1,2 juta dari pemerintah. Saat itu saya sudah mengenalkan produk sambal cakalang dan dikemas dalam botol plastik ukuran 100-150 ml,” kenang Yuliana dilansir dari laman Metro TV News.

Tidak hanya menjual sambal olahan, Hayul Spicy pun melirik produk lain yakni abon ikan khas Bugis alias bajabu dan abon ayam. Menariknya untuk bajabu, Yuliana mendapatkan inspirasi dari tetangga yang berkunjung. Lantaran tertarik dengan rasa bajabu, Yuliana pun mulai mempelajari proses pembuatan dan bahan baku bajabu sebelum akhirnya dia coba membuat sendiri dan dijual. Sukses dengan bajabu, Yuliana pun menawarkan produk abon ayam juga.

Jika olahan sambal miliknya lebih diminati konsumen di rentang usia remaja hingga dewasa, olahan bajabu lebih ditujukan pada pelanggan yang menyukai kuliner khas Sulawesi Selatan. Sedangkan untuk produk abon ayam, pangsa pasarnya lebih luas yakni dari semua kalangan.

Modal Terbatas, Cara Hayul Spicy Bertahan dan Selalu Bangkit

Memasuki tahun kelima dalam berbisnis, Yuliana tak menampik kalau Hayul Spicy memang memiliki perjalanan yang tak selamanya indah. Kepada UKM Indonesia, perempuan yang tinggal di Sangatta, ibukota Kabupaten Kutai Timur ini secara jujur mengakui bahwa mengelola modal usaha adalah kesulitan terbesar yang ia alami hingga saat ini.

“Kami tidak memiliki penghasilan tetap untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Suami hanya bekerja sebagai tukang dongkrak rumah yang kadang bekerja, kadang tidak, sedangkan ada banyak tanggungan yang harus kami penuhi seperti biaya kontrak rumah dan cicilan sepeda motor. Belum lagi saya sulit mengatasi penjualan sehingga kurang responsif dalam melayani pelanggan, karena memang ada yang harus saya urusi lainnya dan belum bisa rekrut karyawan,” ungkap Yuliana.

Meski begitu, Yuliana tidak pernah menyerah. Demi mengembangkan Hayul Spicy, dirinya terus belajar seperti bergabung di LPB (Lembaga Pengembangan Bisnis) di Kutai Timur yang dikelola PAMA (PT Pama Persada Nusantara), perusahaan kontraktor tambang batu bara. Berkat saran temannya, Yuliana pun mempelajari ilmu manajemen dan operasional usaha yang membuatnya memperoleh bantuan UMKM untuk warga kurang mampu dari Baznas (Bantuan Amil Zakat Nasional) Kutai Timur sebesar Rp5 juta.

Tak butuh waktu lama, bantuan modal tersebut digunakan Yuliana untuk membuat Hayul Spicy semakin berkembang dan berkualitas. Mulai dari merilis produk-produk baru, mendapat sertifikasi halal dari pemerintah, mendaftar dan memiliki NIB (Nomor Induk Berusaha) dan PIRT (Pangan Industri Rumah Tangga), berjualan di berbagai bazar yang digelar pemerintah atau LPB PAMA, sampai melirik peluang jualan secara online baik di marketplace, media sosial, konsinyasi hingga layanan transportasi online.

“Sejak mendapat bantuan dari Baznas di tahun 2024, Alhamdulilah Hayul Spicy terus bisa berproduksi sekitar 45 botol sambal dan masing-masing 15 pouch untuk bajabu dan abon ayam setiap bulannya. Meskipun penjualan belum stabil, saya terus berusaha membuat catatan laporan keuangan usaha mulai dari perhitungan HPP (Harga Pokok Penjualan) sampai laba rugi,” lanjut Yuliana.

Bagi Yuliana, perjalanan Hayul Spicy memang bukanlah sebuah kisah dongeng yang selamanya indah. Namun dia menikmati seluruh ceritanya termasuk bagaimana bisnis kecil-kecilannya ini begitu dia andalkan saat sang suami tidak punya penghasilan. Urusan modal yang selalu bermasalah pun tak dipungkiri terjadi karena terpaksa dipakai untuk kebutuhan sehari-hari, dan baru diganti ketika suami sudah dapat penghasilan.

Bahkan ada satu waktu dirinya terpaksa meminjam uang ke orangtuanya saat sang suami tak bekerja selama dua bulan lamanya. Beruntung, Yuliana memiliki keluarga yang sangat mendukung keputusannya dan Hayul Spicy berhasil membantunya melunasi tanggungan tersebut. Tak heran kalau Yuliana memilih orangtua dan suami sebagai pihak yang sangat mendukungnya dalam menjalankan usaha bisnis hingga saat ini.

5 Hal yang Bisa Dipelajari dari Hayul Spicy

Melihat perjuangan Yuliana dalam mengembangkan Hayul Spicy dalam kondisi kehidupan yang tidak mudah, tentu adalah bukti bahwa dia merupakan perempuan luar biasa yang bisa menjadi soko guru keluarga. Tak heran kalau Wamendag Jerry Sambuaga pada tahun 2022 silam pernah berkata bahwa perempuan akan diproyeksikan sebagai pengelola utama UMKM-UMKM di Indonesia pada tahun 2025, seperti dilansir website resmi Kemendag.

Tercatat pada tahun 2021 silam, ada 64,5% dari UMKM di Indonesia dikelola oleh perempuan sehingga pada 2025 ini bukan tak mungkin proyeksi usahanya mencapai US$135 miliar. Ketangguhan adalah kunci bagaimana perempuan-perempuan terbukti mampu bertahan dalam hal ekonomi dibandingkan laki-laki, seperti yang dilakukan oleh Yuliana.

“Saya senang saat tahu Hayul Spicy ini juga bisa membantu masyarakat yang sedang membutuhkan pekerjaan atau penghasilan, seperti ikut jadi reseller atau jadi kurir-kurir yang mengirimkan orderan kami. Buat saya saat ada pelanggan yang sedang butuh produk dan kami menyediakan, itu sangat membanggakan dan membuat bahagia,” lanjut Yuliana.

Meski belum memiliki omzet yang menembus ratusan juta Rupiah, menyerah jelas tak ada dalam kamus hidup Yuliana. Belajar dari apa yang sudah dia alami selama lima tahun terakhir, dirinya pun mengungkap lima hal yang sudah dia dapatkan selama menjalankan Hayul Spicy seperti:

1. Manajemen Keuangan yang Bijak: 

Supaya cash flow usaha semakin baik, Yuliana kini rutin menyisihkan sebagian laba bersih dari omset penjualan dan disiplin dalam menggunakannya demi mempersiapkan kondisi saat HPP meningkat karena harga bahan baku atau pajak melambung. Sehingga saat hal-hal itu terjadi, Hayul Spicy tinggal mengurangi stok bahan saja

2. Kemampuan Beradaptasi: 

Demi bertahan dalam kondisi ekonomi yang tak menentu, Yuliana memilih bijak dalam berjualan dengan tetap menawarkan produknya secara offline. Mulai dari menitipkan (konsinyasi) produk di dua toko oleh-oleh di Kutai Timur, di warung makan/restoran, hingga toko kelontong3. Pentingnya Networking: Meski belum ikut kompetisi UMKM, Yuliana tetap aktif terlibat dalam berbagai pelatihan upskilling untuk berjejaring dengan banyak pelaku bisnis lain

4. Terus Inovasi dan Tak Takut Gagal: 

Inovasi terus dilakukan Yuliana seperti berencana melakukan upgrade ponsel untuk memaksimalkan potensi jualan online lewat belajar membuat konten-konten kreatif dan estetik, melakukan sesi jualan live di TikTok atau Shopee, sampai berniat merekrut karyawan untuk jualan di media sosial seperti Instagram dan WhatsApp Bisnis

5. Utamakan Kualitas: 

Dengan kapasitas produksi yang terbatas, Yuliana berusaha menjaga kualitas Hayul Spicy lewat selektif pilih bahan baku, kemasan yang makin baik agar produk fresh dan higienis saat diterima konsumen, sampai konsisten berproduksi serta promosi

Dengan berbagai jatuh bangun yang sudah dia alami, produk Hayul Spicy kini pernah dinikmati oleh konsumen di berbagai wilayah seluruh Indonesia mulai dari kota-kota lain di Sulawesi Selatan, melintas hingga ke Palembang, Jakakarta, Yogyakarta, dan Jawa Timur.

Bahkan ada juga pelanggan yang membawa produknya sampai ke Singapura hingga Arab Saudi. Bukan tak mungkin ke depannya, Yuliana mampu membawa produk olahan sambalnya semakin dikenal di seluruh penjuru negeri dilansir dari laman ukmindonesia.id.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Arah Preneur Terbaru