Rupiah Masih Tertekan Isu Pelonggaran Moneter BI di Tengah Tekanan Global


 Rupiah Masih Tertekan Isu Pelonggaran Moneter BI di Tengah Tekanan Global Nilai tukar rupiah masih belum lepas dari tekanan. (Antaranews)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Nilai tukar rupiah masih belum lepas dari tekanan. Menurut pengamat pasar uang Ariston Tjendra, sentimen negatif dari dalam negeri—khususnya isu pelonggaran moneter atau kemungkinan pemangkasan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI)—masih membayangi pergerakan rupiah terhadap dolar AS.

“Isu pelonggaran ini masih akan menekan rupiah terhadap dolar AS selama beberapa waktu ke depan,” ujar Ariston di Jakarta, Jumat (24/10/2025).

Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Oktober 2025, bank sentral memutuskan untuk menahan suku bunga acuan (BI-Rate) di level 4,75 persen, dengan deposit facility tetap di 3,75 persen dan lending facility di 5,5 persen.

Meski begitu, tekanan terhadap rupiah tidak hanya datang dari dalam negeri. Di sisi lain, sentimen terhadap dolar AS juga sedang melemah karena situasi politik dan ekonomi yang tidak stabil di Amerika Serikat.

Faktor Global: Shutdown Pemerintah AS dan Ketegangan Dagang

Kondisi dolar AS tengah goyah akibat penutupan pemerintahan (government shutdown) yang sudah memasuki hari ke-23. Kebuntuan politik antara Partai Demokrat dan Republik membuat sejumlah layanan publik lumpuh dan ribuan pegawai federal dirumahkan tanpa gaji.

Shutdown ini menjadi yang terpanjang kedua dalam sejarah AS, dimulai sejak 1 Oktober 2025 setelah negosiasi anggaran gagal mencapai kesepakatan. Upaya Senat untuk meloloskan Shutdown Fairness Act juga kandas karena tak memenuhi jumlah suara minimum.

Selain itu, ketegangan dagang antara AS dan China juga masih berlangsung. Presiden Donald Trump dan Xi Jinping dijadwalkan bertemu pada KTT APEC 31 Oktober–1 November 2025 di Korea Selatan untuk membahas isu tarif dan perdagangan yang memanas.

Trump menyebut hubungan dengan Xi “sangat baik”, namun banyak pihak meragukan pertemuan itu akan menghasilkan kesepakatan konkret.

Prospek The Fed dan Prediksi Rupiah

Pasar juga menantikan langkah The Federal Reserve (The Fed) yang diprediksi akan memotong suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) pada akhir Oktober 2025. Berdasarkan data CME FedWatch, peluang pemangkasan tersebut mencapai 99 persen dikutip dari Antara.

Dengan kombinasi tekanan dari dalam negeri dan dinamika global, Ariston memperkirakan rupiah masih berpotensi melemah ke kisaran Rp16.700 per dolar AS, dengan level resisten di sekitar Rp16.580 per dolar AS.

Meski begitu, pada pembukaan perdagangan Jumat (24/10) di Jakarta, rupiah sempat menguat tipis 17 poin (0,10 persen) ke posisi Rp16.612 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp16.629 per dolar AS.

“Tekanan masih ada, tapi sentimen global terhadap dolar yang juga melemah bisa sedikit membantu menahan pelemahan rupiah,” tambah Ariston.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru