Selasa, 27 Januari 2026

Rupiah Dibuka Melemah ke Rp16.829 per Dolar AS, Defisit APBN Jadi Sorotan Pasar


 Rupiah Dibuka Melemah ke Rp16.829 per Dolar AS, Defisit APBN Jadi Sorotan Pasar Petugas menghitung mata uang rupiah dan dolar AS di Ayu Masagung Money Changer

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Nilai tukar rupiah mengawali perdagangan Jumat dengan tekanan. Mata uang Garuda dibuka melemah 31 poin atau 0,18 persen ke level Rp16.829 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp16.798 per dolar AS.

Pelemahan rupiah ini dipengaruhi oleh sentimen domestik, terutama laporan realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 yang menunjukkan pelebaran defisit fiskal.

Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai pasar merespons negatif meningkatnya defisit anggaran yang melampaui proyeksi awal pemerintah.

“Defisit fiskal melebar menjadi 2,92 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), lebih tinggi dari perkiraan resmi yang berada di kisaran 2,78 persen dari PDB,” ujar Josua Pardede kepada ANTARA di Jakarta, Jumat (9/1/2026).

Defisit APBN Hampir Sentuh Batas Undang-Undang

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya melaporkan bahwa realisasi sementara defisit APBN 2025 mencapai Rp695,1 triliun per 31 Desember 2025. Angka tersebut melampaui target awal defisit APBN 2025 sebesar 2,53 persen dari PDB, bahkan mendekati batas maksimal defisit 3 persen sebagaimana diatur dalam undang-undang.

Kondisi ini dinilai memicu kehati-hatian investor, terutama di pasar valuta asing, sehingga memberi tekanan tambahan pada pergerakan rupiah.

Sentimen Global Cenderung Campuran

Dari sisi eksternal, Josua menambahkan bahwa sejumlah data ekonomi Amerika Serikat (AS) memberikan sinyal yang beragam bagi pasar global.

Laporan Challenger, Gray & Christmas menunjukkan jumlah pemutusan hubungan kerja (PHK) di AS turun 8,3 persen secara tahunan (year on year) pada Desember 2025 menjadi 35.553, terendah sejak Juli 2024.

Namun, data initial jobless claims AS untuk pekan yang berakhir 3 Januari 2025 tercatat naik menjadi 208 ribu, dari sebelumnya 200 ribu, meski masih lebih rendah dari ekspektasi pasar di 212 ribu.

“Di sisi eksternal, neraca perdagangan AS pada Oktober 2025 mencatat defisit terkecil sejak 2009, menyempit ke 29,4 miliar dolar AS seiring melemahnya impor,” ungkap Josua, seperti yang dikutip dari Antara.

Kombinasi sentimen domestik dan global tersebut membuat pergerakan rupiah diperkirakan masih volatil dalam jangka pendek, sembari menunggu respons kebijakan lanjutan dari pemerintah dan arah kebijakan moneter global.

Editor : Patricia Aurelia

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru