Loading
Pengunjung melihat layar yang menampilkan pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (27/10/2025). ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/agr/am.
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan akan cenderung variatif pada perdagangan Selasa. Arah pasar belum sepenuhnya solid karena investor masih menimbang beragam katalis, mulai dari kondisi domestik hingga sentimen global.
Pada pembukaan perdagangan, IHSG sempat bergerak di zona hijau dengan kenaikan 46,52 poin atau 0,52% ke level 8.931,24. Sejalan dengan itu, indeks saham unggulan LQ45 ikut menguat 5,21 poin atau 0,60% ke posisi 871,76.
Financial Expert Ajaib Sekuritas, Ratih Mustikoningsih, memperkirakan IHSG hari ini bergerak fluktuatif dalam rentang 8.850–8.950.“IHSG hari ini diprediksi bervariasi dalam kisaran 8.850–8.950,” kata Ratih dalam kajiannya di Jakarta, Selasa (13/1/2026).
Rupiah Melemah Jadi Pemberat
Dari sisi dalam negeri, tekanan datang dari nilai tukar rupiah yang melemah. Menurut Ratih, kondisi ini kerap menjadi faktor yang “mengganggu kenyamanan” pasar, khususnya untuk saham-saham yang sensitif terhadap kurs.
Dampaknya bisa terasa pada sektor-sektor besar seperti konsumsi dan perbankan, karena pelemahan rupiah dapat memicu kekhawatiran terhadap inflasi impor, biaya operasional, hingga persepsi risiko pasar.
Komoditas Menguat, Sektor Basic Material Menarik Dicermati
Meski begitu, bukan berarti pasar sepenuhnya berada di bawah bayang-bayang negatif. Investor juga mulai melirik peluang dari sektor yang justru diuntungkan ketika harga komoditas menguat.
Ratih menilai sektor material dasar (basic material) patut dipantau karena harga komoditas melanjutkan reli. Pergerakan harga emas juga ikut menjadi perhatian. Secara intraday, emas sempat melemah terbatas setelah sebelumnya melonjak dan menyentuh level tertinggi sepanjang masa (ATH) di 4.630 dolar AS per troy ons.
Investor Menanti Data Inflasi AS
Dari luar negeri, pelaku pasar global menunggu rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) yang dijadwalkan keluar pada Selasa. Data ini krusial karena dapat memengaruhi ekspektasi suku bunga, pergerakan dolar AS, hingga arus modal masuk-keluar negara berkembang.
Di sisi lain, pasar terlihat belum banyak merespons secara negatif sejumlah risiko eksternal—mulai dari tensi geopolitik antara Iran dan Venezuela dengan AS, hingga isu yang menyeret Ketua The Fed Jerome Powell dilansir Antara.
AS disebut berencana menerapkan tarif 25% bagi negara yang masih bermitra dengan Iran, namun sentimen tersebut belum menjadi “pemicu utama” perubahan arah pasar.
Eropa, Wall Street, dan Asia Mengirim Sinyal Campuran
Pada perdagangan sebelumnya, bursa saham Eropa cenderung menguat terbatas. Euro Stoxx 50 naik 0,32%, FTSE 100 Inggris menguat 0,16%, dan DAX Jerman naik 0,57%. Sementara itu, CAC Prancis melemah tipis 0,04%.
Di Wall Street, tiga indeks utama juga ditutup kompak di zona hijau. Dow Jones menguat 0,17% ke 49.590,50, S&P 500 naik 0,16% ke 6.977,27, dan Nasdaq menguat 0,08% ke 25.787,66.
Sementara di Asia pada pagi hari, pergerakan indeks juga beragam. Nikkei melesat 3,44% ke 53.710,00, Hang Seng naik 1,35% ke 26.983,50, dan Straits Times menguat 0,62% ke 4.797,35. Namun Shanghai terkoreksi 0,13% ke 4.159,83.
Dengan kombinasi faktor tersebut, pasar diperkirakan bergerak dinamis. Investor cenderung mengambil posisi selektif sambil menunggu kepastian sentimen—terutama dari arah rupiah dan rilis data inflasi AS.