Selasa, 27 Januari 2026

Utang AS Menumpuk, DBS Sarankan Investor Lirik Aset Riil dan AI


 Utang AS Menumpuk, DBS Sarankan Investor Lirik Aset Riil dan AI Ilustrasi - Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Septian Hario Seto menyampaikan kata sambutan dalam acara DBS Metal and Mining Forum 2025 di Jakarta, Rabu (26/11/2025). (ANTARA/Rizka Khaerunnisa)

JAKARTA, ARAHKITA.COM - Ada pergeseran besar yang tengah terjadi di jantung ekonomi dunia. Chief Investment Officer Bank DBS, Hou Wey Fook, memperingatkan bahwa ekonomi Amerika Serikat (AS) kini memasuki era "Dominasi Fiskal" yang kian nyata. ​Singkatnya, defisit anggaran yang terus membengkak dan utang pemerintah yang melonjak mulai membayangi kebijakan moneter. Kondisi ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan tantangan nyata bagi para investor global.

​Risiko Inflasi dan Kemandirian The Fed

Menurut Hou, jika kemandirian bank sentral AS (The Fed) melemah akibat tekanan fiskal, kekhawatiran akan inflasi bisa meledak kembali. Pasar kemungkinan besar akan menuntut premi risiko yang lebih tinggi.

​“Pendorong utama inflasi saat ini bukan lagi sekadar tarif atau kendala pasokan, melainkan ketiadaan kerangka fiskal yang kuat untuk mengendalikan utang publik,” jelas Hou dalam keterangan resminya (14/1/2026).

Aset Riil: Tameng di Tengah Ketidakpastian

Lantas, bagaimana investor harus bersikap? Hou menekankan pentingnya memiliki aset riil. Sejarah membuktikan bahwa saat inflasi memanas, aset-aset fisik cenderung lebih perkasa dibandingkan aset keuangan biasa. Beberapa instrumen yang direkomendasikan antara lain:

  • Infrastruktur dan Properti
  • ​Komoditas
  • ​Logam Mulia (Emas & Perak)

​Antara Euforia AI dan Realita Ekonomi

Meski dibayangi inflasi, ada secercah harapan dari sektor teknologi. Investasi besar-besaran di bidang Kecerdasan Buatan (AI) dan pertahanan menjadi mesin pertumbuhan baru. Perusahaan layanan cloud (hyperscalers) diprediksi akan menyuntikkan dana hingga US$ 1,4 triliun ke infrastruktur AI hingga tahun 2027.

​Namun, Hou juga memberikan catatan penting. Lonjakan saham AI saat ini mulai menunjukkan ciri-ciri "pasar yang euforia" dengan valuasi yang sangat tinggi. Meski begitu, kondisinya dinilai lebih solid dibandingkan era dotcom tahun 2000-an karena didukung oleh belanja perusahaan besar yang nyata dikutip Antara.

​Rekomendasi Strategis: Fokus pada Kualitas

Saat The Fed mulai memangkas suku bunga tanpa adanya resesi, tekanan harga diprediksi tetap tinggi. Bank DBS melihat adanya peluang dalam diversifikasi, terutama membandingkan performa perak dengan indeks S&P 500.

​"Untuk kuartal-kuartal mendatang, ketahanan portofolio akan datang dari fokus pada kualitas," tutup Hou. DBS merekomendasikan investor untuk memprioritaskan saham-saham berkualitas tinggi dan obligasi dengan peringkat layak investasi (investment grade).

 

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru