Loading
Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Jumat (17/1/2025). ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/tom.
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Nilai tukar rupiah membuka perdagangan Kamis (15/1/2026) dengan langkah perlahan namun pasti. Mata uang Garuda tercatat menguat tipis 14 poin atau sekitar 0,08 persen ke level Rp16.851 per dolar AS. Meski menguat, suasana di pasar cenderung berhati-hati. Apa yang sebenarnya terjadi? Investor Pantau "Benteng" Bank Indonesia
Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menyebutkan bahwa para investor saat ini sedang dalam mode waspada. Perhatian tertuju pada komitmen Bank Indonesia (BI) yang berjanji akan terus "pasang badan" di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Senada dengan itu, Erwin G. Hutapea dari BI menegaskan bahwa bank sentral konsisten menjaga rupiah agar tidak liar. Tujuannya jelas: menjaga pertumbuhan ekonomi nasional tetap stabil di tengah gempuran ketidakpastian global.
Strategi "Gerilya" di Berbagai Pasar
BI tidak tinggal diam. Untuk membendung tekanan, mereka melakukan intervensi di berbagai lini:
Menariknya, Indonesia masih punya daya tarik di mata dunia. Aliran modal asing masih deras masuk, terutama ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan pasar saham dengan nilai bersih mencapai Rp11,11 triliun per Januari 2026. Angka ini membuktikan bahwa investor global masih percaya pada ketahanan ekonomi kita.
Sentimen AS: Konsumen yang Masih "Tangguh"
Mengapa rupiah sulit melesat lebih jauh? Jawabannya ada di Negeri Paman Sam. Data terbaru menunjukkan ekonomi AS masih cukup perkasa. Penjualan ritel mereka melonjak 0,6 persen, melampaui ekspektasi pasar. Begitu juga dengan penjualan rumah bekas yang meningkat tajam dikutip Antara.
Kondisi ini menunjukkan daya beli masyarakat AS masih kuat, yang secara tidak langsung memberikan tenaga ekstra bagi dolar AS untuk menekan mata uang lainnya, termasuk rupiah.
Cadangan Devisa: Modal Aman di Akhir Tahun
Kabar baiknya, Indonesia punya "tabungan" yang cukup tebal. Posisi cadangan devisa akhir Desember 2025 berada di angka 156,5 miliar dolar AS. Jumlah ini setara dengan 6,4 bulan impor—lebih dari cukup untuk menjadi bantalan menghadapi guncangan pasar keuangan global.
Untuk hari ini, rupiah diprediksi akan bergerak dinamis di kisaran Rp16.825 hingga Rp16.925 per dolar AS.