Selasa, 27 Januari 2026

Inflasi AS Stabil, Pasar Kripto Lebih Lega: Bitcoin Sempat Sentuh US$97.000


 Inflasi AS Stabil, Pasar Kripto Lebih Lega: Bitcoin Sempat Sentuh US$97.000 Vice President INDODAX, Antony Kusuma memberikan pemaparan terkait pasar kripto dalam sebuah diskusi di Jakarta (Antara/HO/Indodax)

JAKARTA, ARAHKITA.COM — Stabilnya data inflasi Amerika Serikat (AS) pada Desember 2025 menjadi angin segar bagi pasar kripto. Setelah melewati fase konsolidasi yang cukup panjang, ruang gerak aset digital kini terasa lebih lega karena kekhawatiran terhadap tekanan kebijakan moneter ikut mereda.

Vice President INDODAX, Antony Kusuma, menilai kondisi tersebut membuat pasar global mulai kembali tenang. Dampaknya terlihat pada harga Bitcoin (BTC) yang sempat menguat hingga menyentuh US$97.000, sebelum terkoreksi tipis ke kisaran US$95.000–US$96.000 pada Kamis (15/1), tak lama setelah rilis data inflasi AS.

“Angka inflasi Desember 2025 masih sesuai ekspektasi, sehingga pasar relatif lebih tenang. Dalam situasi seperti ini, investor biasanya mulai melirik kembali aset berisiko, termasuk kripto, karena ketidakpastian kebijakan moneter menurun dan likuiditas global berpotensi tetap terjaga,” ujar Antony dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (16/1/2026).

Menurut Antony, data dari Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) menunjukkan inflasi tercatat naik 0,3% secara bulanan dan 2,7% secara tahunan. Sementara itu, inflasi inti atau core inflation tetap terkendali di 0,2% (m/m) dan 2,6% (y/y).

Dengan kondisi tersebut, perhatian pelaku pasar pun kembali mengarah ke langkah berikutnya dari bank sentral AS.

“Untuk saat ini, pasar akan fokus menunggu arah kebijakan suku bunga The Fed sambil mencermati data ekonomi berikutnya,” kata Antony.

Institusi Ikut Dorong Sentimen

Selain faktor makroekonomi, penguatan Bitcoin juga terjadi di tengah meningkatnya aktivitas pembelian institusi besar. Antony menyinggung langkah Strategy Inc. yang mengumumkan penambahan kepemilikan Bitcoin senilai lebih dari US$1 miliar di awal 2026. Aksi ini bahkan disebut sebagai pembelian terbesar perusahaan tersebut sejak pertengahan 2025.

Langkah agresif institusi seperti itu, lanjut Antony, menjadi penguat sentimen karena mempertegas posisi Strategy sebagai pemegang Bitcoin korporasi terbesar. Walaupun, di sisi lain, permintaan ritel global masih cenderung belum sekuat sebelumnya.

Bagi pasar, konsistensi akumulasi institusi membawa pesan penting: Bitcoin makin dipandang sebagai aset yang tidak sekadar “ikut tren”.“Institusi tidak masuk karena momentum sesaat. Akumulasi berkelanjutan mencerminkan keyakinan jangka panjang terhadap Bitcoin, meski volatilitas jangka pendek tetap ada,” ujarnya dikutip Antara.

Altcoin Ikut Menggeliat

Tidak hanya Bitcoin, sejumlah aset kripto utama lain juga bergerak menguat dalam periode yang sama. Ethereum, Solana, hingga beberapa altcoin berkapitalisasi besar menunjukkan kenaikan yang lebih agresif. Ini mencerminkan meningkatnya minat investor terhadap aset berisiko, setelah tekanan dari faktor makro mulai mereda.

Meski begitu, Antony mengingatkan investor agar tetap disiplin dalam manajemen risiko. Ia juga menekankan pentingnya melakukan riset mandiri atau Do Your Own Research (DYOR) karena volatilitas tetap menjadi karakter utama pasar kripto.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru