Loading
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto hadir secara virtual dalam acara Musyawarah Nasional ke-XI Asosiasi Persepatuan Indonesia (APRISINDO), Jakarta, Rabu (21/1/2026) (ANTARA/HO-Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian)
JAKARTA, ARAHKITA.COM — Di tengah situasi ekonomi dunia yang penuh ketidakpastian, industri alas kaki Indonesia dinilai masih berdiri cukup kokoh. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, sektor ini menunjukkan ketahanan sekaligus daya saing yang tetap terjaga di pasar global.Hal itu disampaikan Airlangga saat hadir secara virtual dalam Musyawarah Nasional (Munas) ke-XI Asosiasi Persepatuan Indonesia (APRISINDO) di Jakarta, Rabu (22/1/2026).
Menurut Airlangga, performa industri alas kaki tercermin dari peningkatan nilai ekspor yang cukup signifikan. Pada tahun 2024, ekspor alas kaki nasional tercatat tumbuh 13,13 persen, dengan nilai mencapai 7,28 miliar dolar AS.
“Capaian ini mencerminkan daya saing yang kuat dan tetap terjaga di pasar global,” ujar Airlangga.
Baca juga:
Industri Alas Kaki Jadi Andalan Ekonomi Indonesia, DPR Desak Pemerintah Perkuat Daya SaingPilar Padat Karya yang Menyerap Ratusan Ribu Tenaga Kerja
Lebih jauh, ia menilai industri alas kaki bukan hanya soal ekspor, tapi juga menjadi salah satu pilar penting sektor padat karya nasional. Peran sektor ini dinilai strategis karena menopang ekonomi sekaligus menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.
Pada kuartal III 2025, industri alas kaki berkontribusi 1,2 persen terhadap PDB industri pengolahan. Sementara dari sisi ketenagakerjaan, sektor ini menyerap sekitar 921 ribu pekerja per Februari 2025.
Investor Makin Percaya: PMA Tinggi dan Utilisasi Stabil
Airlangga juga menyoroti meningkatnya kepercayaan investor. Pada 2024, realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) untuk industri alas kaki mencapai 859 juta dolar AS. Bahkan hingga semester I 2025, realisasi investasi telah menyentuh 803 juta dolar AS—atau meningkat hingga 93 persen hanya dalam 6 bulan.
Menurutnya, derasnya minat investasi ini selaras dengan kondisi produksi industri alas kaki yang masih terjaga. Tingkat utilisasi pabrik disebut konsisten di atas 80 persen, menandakan kapasitas produksi yang berjalan optimal dan prospek usaha yang positif.
Waspadai Tarif AS, Pemerintah Dorong Akses Pasar Lewat IEU-CEPA
Meski begitu, Airlangga mengingatkan bahwa sektor ini tetap perlu waspada terhadap tantangan global, termasuk kebijakan tarif yang dapat memengaruhi ekspor.Ia menyinggung adanya tarif resiprokal sebesar 19 persen di pasar Amerika Serikat. Karena itu, Indonesia berharap pembukaan pasar bisa lebih luas, termasuk melalui percepatan implementasi IEU-CEPA.
“Indonesia berharap dengan implementasi IEU-CEPA, pasar ini bisa terus dibuka. Dan tentunya di tahun ini kita persiapkan agar implementasi IEU-CEPA bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin,” kata Airlangga dikutip Antara.
Deretan Kebijakan untuk Menjaga Ketahanan Industri
Untuk memperkuat daya tahan industri alas kaki nasional, pemerintah telah menyiapkan sejumlah instrumen kebijakan yang lebih konkret. Di antaranya:
Pemerintah dan APRISINDO Dorong Ekosistem yang Lebih Siap Masa Depan
Airlangga menambahkan, pemerintah juga berkomitmen menciptakan iklim usaha yang lebih kondusif lewat sinergi bersama APRISINDO. Bentuknya meliputi reformasi regulasi ketenagakerjaan, peningkatan kualitas SDM industri, simplifikasi perizinan, standarisasi biaya K3 berbasis risiko, hingga percepatan logistik bahan baku.
Tak hanya itu, arah transformasi juga mulai menekankan agenda jangka panjang: penerapan ekonomi sirkular, peningkatan standar keberlanjutan industri, dan penguatan diplomasi perdagangan.
Menurutnya, Munas XI APRISINDO menjadi momentum penting untuk menyatukan langkah industri dalam menghadapi perubahan ekonomi global sekaligus mendorong transformasi berkelanjutan.
“Saya menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada APRISINDO atas dedikasi dan kontribusi selama 37 tahun sebagai mitra strategis pemerintah dalam memajukan industri alas kaki Indonesia,” tutup Airlangga.