Loading
Petugas menghitung uang pecahan dolar AS dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing VIP (Valuta Inti Prima) Money Changer, Jakarta, Jumat (1/3/2024). ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/rwa/pri.
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Nilai tukar rupiah memulai perdagangan Kamis dengan sentimen yang lebih positif. Pada pembukaan pasar di Jakarta, rupiah bergerak menguat 7 poin atau 0,04 persen ke level Rp16.929 per dolar AS, dibanding posisi sebelumnya Rp16.936 per dolar AS.
Penguatan tipis ini dinilai masih ditopang rasa lega pelaku pasar atas keputusan Bank Indonesia (BI) yang memilih menahan suku bunga acuan. Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, mengatakan pasar sedang menikmati “euforia” kebijakan BI yang dianggap stabil, terukur, dan memberi arah yang jelas untuk menjaga pergerakan rupiah.
“Rupiah hari ini diperkirakan menguat di kisaran Rp16.900 sampai Rp16.950. Sentimen domestik masih terkait kebijakan BI yang menahan suku bunga dan komitmen menjaga volatilitas rupiah,” ujar Rully kepada ANTARA, Kamis (22/1/2026).
Keputusan tersebut diambil dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Januari 2026, yang digelar pada Selasa (20/1/2026) dan Rabu (21/1/2026). Dalam rapat itu, BI menetapkan BI-Rate tetap di level 4,75 persen.
Sementara itu, suku bunga fasilitas simpanan (deposit facility) juga tidak berubah di 3,75 persen, dan suku bunga fasilitas pinjaman (lending facility) tetap di level 5,5 persen.
Bank Indonesia menjelaskan, langkah menahan suku bunga ini sejalan dengan fokus kebijakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global yang meningkat. Kebijakan ini juga diarahkan untuk mendukung target inflasi periode 2026–2027, sekaligus tetap menjaga ruang bagi pertumbuhan ekonomi.
Tidak hanya itu, BI menyampaikan akan terus memperkuat efektivitas transmisi pelonggaran kebijakan moneter serta memperkuat langkah makroprudensial yang selama ini telah ditempuh.
Menariknya, BI juga memberi sinyal bahwa peluang penurunan suku bunga tetap terbuka, selama inflasi terjaga pada kisaran target 2,5 persen ± 1 persen pada 2026–2027. Pelonggaran lanjutan ini diharapkan dapat membantu mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.
Rully menilai keputusan menahan bunga sekaligus mengirim pesan penting kepada pasar: BI memilih sikap hati-hati dan tidak gegabah.
“Dengan menahan bunga, BI meredakan ekspektasi negatif. Ada sinyal kehati-hatian—tidak tergesa-gesa menaikkan bunga—sehingga daya tarik aset domestik masih terjaga,” jelasnya dikutip Antara.
Dari faktor eksternal, tekanan global juga sedikit mereda setelah ketegangan geopolitik antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan pemerintah Denmark terkait isu Greenland dilaporkan menurun.
Trump disebut telah mencabut ancaman tarif terhadap negara-negara Eropa, menyusul kabar bahwa AS dan Greenland telah mencapai kerangka kesepakatan. Selain itu, Trump juga menegaskan tidak akan menggunakan kekuatan militer untuk mengambil alih wilayah tersebut.
Sebelumnya, pernyataan Trump sempat memicu gejolak pasar karena disertai ancaman tarif bertahap 10–25 persen terhadap delapan negara NATO, tarif 200 persen untuk anggur Prancis, hingga kritik terbuka terhadap Inggris—yang pada akhirnya membuat volatilitas global meningkat.