Loading
Pegawai menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di Bank Syariah Indonesia, Tangerang Selatan, Banten, Rabu (21/1/2026). ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/wsj.
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan Jumat (24/1/2026), bergerak menguat 49 poin atau 0,29 persen, menjadi Rp16.847 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.896 per dolar AS.
Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, Ariston Tjendra, menjelaskan bahwa penguatan rupiah dipicu sentimen positif dari Amerika Serikat, khususnya isyarat Presiden AS Donald Trump terkait Greenland.
“Pagi ini terlihat indeks saham Asia bergerak positif, begitu juga pasar saham AS semalam. Beberapa mata uang di negara berkembang juga menguat terhadap dolar Amerika Serikat,” ujar Ariston, Jakarta, Jumat (23/1/2026).
Trump sebelumnya menepis rencana menggunakan kekuatan militer untuk merebut Greenland, wilayah Arktik semi-otonom, serta mencabut ancaman tarif 10 persen terhadap barang dari delapan negara Eropa. Sentimen ini memberikan dorongan positif bagi pasar global, termasuk rupiah.
Meski demikian, Ariston menilai penguatan rupiah kemungkinan terbatas pada kisaran Rp16.780–Rp16.800 per dolar AS. “Tekanan terhadap rupiah masih ada karena kebijakan moneter Bank Indonesia yang longgar, stimulus besar dari pemerintah, serta kondisi bencana yang dapat menahan laju pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.
Baca juga:
Nilai Tukar versus KesejahteraanMengenai keputusan Bank Indonesia (BI) menahan suku bunga acuan di level 4,75 persen, Ariston menilai langkah tersebut tepat. “Jika BI memangkas suku bunga lagi atau memberi indikasi pelonggaran terus, mungkin bank sentral tidak cukup kuat menahan pelemahan rupiah,” tambahnya.