Selasa, 27 Januari 2026

WEF 2026: Kadin Soroti Elektrifikasi sebagai Jalan Cepat Menuju Ekonomi Inklusif


 WEF 2026: Kadin Soroti Elektrifikasi sebagai Jalan Cepat Menuju Ekonomi Inklusif Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie dalam diskusi panel bertajuk Rise of Electro States yang digelar di sela rangkaian WEF 2026, Davos, Swiss, Kamis (22/1/2026). ANTARA/HO-Kadin/aa.

JAKARTA, ARAHKITA.COM — Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menekankan bahwa elektrifikasi adalah fondasi penting untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional, mendorong inovasi industri, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Pesan itu disampaikan Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie saat menghadiri rangkaian World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos, Swiss.

“Bagi Indonesia, elektrifikasi benar-benar menjadi kunci bagi pertumbuhan, inovasi industri, dan juga kesejahteraan masyarakat,” ujar Anindya dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Jumat (23/1/2026).

Dalam panel diskusi bertajuk Rise of Electro States, yang berlangsung Kamis (22/1), ia menjelaskan bahwa elektrifikasi menjadi agenda strategis untuk Indonesia—terutama karena negara ini memiliki populasi sekitar 285 juta jiwa, didominasi usia produktif, serta catatan pertumbuhan ekonomi rata-rata sekitar 5 persen selama tiga dekade terakhir.

Kapasitas Besar, tapi Masih Ada “Kantong Gelap Listrik”

Anindya memaparkan, kapasitas listrik terpasang Indonesia saat ini mencapai sekitar 100 gigawatt. Jaringan listrik pun telah terkoneksi hingga sekitar 99 persen, menjangkau lebih dari 17.000 pulau.

Namun, tantangan pemerataan belum sepenuhnya selesai. Ia menyebut masih ada sekitar 1 persen wilayah Indonesia yang belum menikmati pasokan listrik andal—setara dengan kurang lebih 10.000 desa dan sekitar 1 juta rumah tangga.

“Kendala penyediaan jaringan menjadi isu krusial, seiring upaya Indonesia untuk meningkatkan kapasitas listrik sekaligus memastikan kualitas layanan bagi masyarakat,” ungkapnya.

Meski begitu, Anindya melihat tantangan ini justru membuka peluang besar. Indonesia punya nilai strategis, bukan hanya dari demografi, tetapi juga dari sisi sumber daya mineral yang sangat dibutuhkan dalam era elektrifikasi.

Ia menyinggung posisi Indonesia yang memiliki cadangan nikel terbesar di dunia, serta potensi tembaga dan silika yang signifikan. Menurutnya, kombinasi ini mendukung percepatan hilirisasi industri dan menjaga keterjangkauan energi—terutama karena pendapatan per kapita Indonesia masih sekitar 5.000 dolar AS, meskipun ekonomi nasional termasuk ke-16 terbesar di dunia.

Kerja Sama Global, tapi Harus Setara

Dalam forum global tersebut, Kadin juga menegaskan bahwa pengembangan elektrifikasi memerlukan ekosistem yang kuat—mulai dari teknologi hingga talenta. Karena itu, kolaborasi internasional dinilai penting.

Namun Anindya memberi catatan tegas: kolaborasi harus menghasilkan manfaat seimbang, bukan menciptakan ketergantungan.

“Indonesia adalah negara nonblok dan non-aligned, sehingga kami dapat bekerja sama dengan berbagai pihak. Namun kolaborasi tersebut harus saling menguntungkan dan tidak menimbulkan ketergantungan,” ujarnya.

PLN Siapkan Tambahan 75 GW, Mayoritas Energi Terbarukan

Dari sisi kebijakan, ia menyebut konsistensi pemerintah menjadi faktor penentu. Salah satu rencana besar datang dari PT PLN (Persero) yang menargetkan penambahan 75 gigawatt kapasitas listrik baru dalam 15 tahun ke depan, dengan 75 persen di antaranya bersumber dari energi terbarukan.

Sementara dari sisi permintaan, Kadin mendorong elektrifikasi meluas di berbagai sektor—mulai dari transportasi, industri, hingga digitalisasi. Elektrifikasi transportasi publik seperti bus dan truk dinilai efektif sebagai “pintu masuk” untuk memperkenalkan keuntungan kendaraan listrik, baik dari sisi efisiensi operasional maupun penurunan emisi.

Saat ini, sekitar 14 persen kendaraan baru di Indonesia sudah menggunakan teknologi listrik, dan angka ini diperkirakan terus naik seiring pembangunan ekosistem dan dukungan kebijakan.

 

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru