Kamis, 13 Agustus 2026

Kadin Sebut Industri Pengolahan Jadi Motor Utama Pertumbuhan Ekonomi 2025


 Kadin Sebut Industri Pengolahan Jadi Motor Utama Pertumbuhan Ekonomi 2025 Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Perencanaan Pembangunan Nasional Bayu Priawan Djokosoetono. (ANTARA/HO-Kadin)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menegaskan bahwa sektor industri pengolahan masih menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi nasional pada 2025. Ekonomi Indonesia tercatat tumbuh 5,11 persen, dengan kontribusi besar datang dari aktivitas manufaktur dan derasnya aliran investasi.

Data Kadin menunjukkan, pada kuartal IV 2025 ekonomi Indonesia tumbuh 5,39 persen secara tahunan. Di periode yang sama, industri pengolahan bahkan sedikit lebih tinggi dengan pertumbuhan 5,40 persen (yoy). Kinerja ini berjalan seiring kenaikan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang mencapai 6,12 persen.

Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Perencanaan Pembangunan Nasional, Bayu Priawan Djokosoetono, menilai angka tersebut membuktikan kepercayaan dunia usaha terhadap prospek ekonomi Indonesia.

“Pengusaha Indonesia siap bersaing dan terus berinvestasi. Terlihat dari PMTB yang tumbuh 6,12 persen pada kuartal IV 2025, sementara kontribusi investasi PMDN sepanjang tahun bahkan lebih besar dibandingkan PMA,” ujarnya di Jakarta, Sabtu (7/2/2026).

Kadin berharap tren positif ini berlanjut pada 2026. Targetnya, industri pengolahan bisa mendekati pertumbuhan 6 persen sehingga kapasitas pabrik dan aset tetap dapat dimanfaatkan lebih optimal.

Manufaktur Tetap Jadi Raja Kontributor

Sektor industri pengolahan saat ini menyumbang sekitar 19 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, menjadikannya kontributor terbesar bagi ekonomi Indonesia. Optimisme ini juga tercermin dari Indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur yang konsisten berada di zona ekspansi sejak Agustus 2025 dan mencapai level 52,6 pada Januari 2026.

Meski demikian, Kadin menyoroti masih adanya tantangan di sektor lain, khususnya pertanian. Pada kuartal IV 2025, sektor ini tumbuh 5,14 persen, namun produktivitasnya dinilai belum sebanding dengan besarnya tenaga kerja yang terserap.

Ketua Komite Tetap Perencanaan Pangan Kadin, Frans Tambunan, mengungkap sekitar 28 persen tenaga kerja nasional berada di sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan, tetapi hanya menyumbang 13 persen PDB.

“Modernisasi pertanian harus dipercepat lewat inovasi, teknologi tepat guna, pembukaan lahan baru, serta penguatan sektor perikanan,” tegasnya dikutip Antara.

Konstruksi Masih Perlu Akselerasi

Sektor konstruksi yang menyumbang hampir 10 persen ekonomi nasional hanya tumbuh 3,81 persen pada kuartal IV 2025. Pertumbuhan ini sejalan dengan belanja pemerintah yang naik 4,55 persen, namun melambat dibanding kuartal sebelumnya.

Ketua Komite Tetap Perencanaan Ekonomi dan Moneter Kadin, Ikhwan Primanda, melihat sejumlah program pemerintah berpotensi menjadi katalis kebangkitan konstruksi.“Program KUR perumahan, renovasi 70 ribu sekolah, dan pembangunan infrastruktur diharapkan mampu menggerakkan sektor konstruksi dan real estat,” katanya.

Konsumsi Rumah Tangga Masih Penyelamat

Dari sisi permintaan, konsumsi rumah tangga tetap menjadi penopang utama ekonomi dengan kontribusi 53,88 persen terhadap PDB dan tumbuh 5,11 persen pada kuartal IV 2025. Stimulus pemerintah serta momentum Natal dan Tahun Baru disebut ikut menjaga daya beli masyarakat.

Kadin mengapresiasi paket stimulus ekonomi 8+4+5, termasuk program magang bagi lulusan baru yang telah menyerap lebih dari 80 ribu peserta pada akhir 2025. Program ini diharapkan berlanjut hingga 2026, terutama untuk menopang konsumsi saat Ramadhan dan Idul Fitri.

Namun, ada catatan penting pada kinerja ekspor. Pertumbuhan ekspor kuartal IV 2025 melambat menjadi 3,25 persen, jauh di bawah kuartal sebelumnya yang mencapai 9,14 persen. Kondisi ini berpotensi memicu penumpukan persediaan barang jadi.

Ikhwan menekankan, Indonesia tak bisa lagi hanya mengandalkan penambahan modal dan tenaga kerja.

“Kontribusi produktivitas total terhadap pertumbuhan kita masih rendah dibanding Vietnam dan China. Peningkatan produktivitas harus jadi fokus utama jika ingin mengejar target pertumbuhan delapan persen,” tutupnya.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru