Konflik Iran–Israel Memanas, Harga Minyak Dunia Terancam Melonjak


 Konflik Iran–Israel Memanas, Harga Minyak Dunia Terancam Melonjak Ilustrasi - Petugas melakukan proses pemuatan BBM jenis Avtur ke kapal tanker PIS Cinta di dermaga Kilang Pertamina Balongan, Indramayu, Jawa Barat, Kamis (29/1/2026). (ANTARA FOTO/Dedhez Anggara/bar)

JAKARTA, ARAHKITA.COM — Ketegangan bersenjata antara Iran dan Israel kembali menjadi sorotan global. Bukan hanya karena dampak militernya, konflik ini juga dinilai bisa mengguncang pasar energi dunia, terutama harga minyak mentah.

Ekonom sekaligus Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal, menilai eskalasi konflik yang ditandai serangan Israel ke Iran pada Sabtu (28/2/2026) berpotensi mendorong kenaikan tajam harga minyak global.

Saat dihubungi di Jakarta, Minggu (1/3/2026), Faisal menjelaskan bahwa harga minyak saat ini masih berada di kisaran USD 70 per barel. Namun, jika konflik terus berlanjut dan meluas, harga berpeluang naik ke USD 80 per barel, bahkan bisa menembus USD 100 per barel dalam skenario terburuk.

Selat Hormuz Jadi Titik Paling Krusial

Menurut Faisal, lonjakan ekstrem harga minyak sangat mungkin terjadi apabila jalur distribusi energi global terganggu, khususnya di Selat Hormuz. Kawasan ini menjadi jalur sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia.

“Kalau distribusi di Selat Hormuz terganggu, harga bisa langsung melonjak. Menembus USD 100 per barel itu sudah masuk zona tinggi dan jarang terjadi, terakhir saat awal perang Rusia–Ukraina,” ujarnya.

Gangguan di jalur ini bukan hanya berdampak jangka pendek, tetapi juga bisa memicu kepanikan pasar dan spekulasi berlebihan di bursa energi global.

Ancaman Konflik Regional Lebih Luas

Faisal juga mengingatkan bahwa konflik Iran–Israel berpotensi berkembang menjadi konflik regional yang lebih besar. Keterlibatan Amerika Serikat, serta dukungan dari negara-negara sekutu Iran seperti China, dinilai dapat memperpanjang eskalasi.

“Ada kemungkinan konflik ini tidak selesai cepat dan berlangsung lebih lama dari perkiraan pasar,” kata Faisal.

Situasi geopolitik yang tidak pasti ini membuat pelaku pasar cenderung menaikkan harga sebagai langkah antisipasi risiko.

Dampak Langsung ke Harga BBM dan Inflasi

Di dalam negeri, lonjakan harga minyak dunia hampir pasti berdampak pada harga bahan bakar minyak (BBM). Faisal menilai BBM nonsubsidi akan menyesuaikan harga mengikuti pasar internasional.

Namun yang lebih mengkhawatirkan, menurutnya, adalah potensi penyesuaian pada BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar yang banyak digunakan masyarakat menengah ke bawah.

“Kenaikan harga BBM bersubsidi bisa memicu inflasi dan menekan daya beli masyarakat secara luas,” ujarnya dikutip Antara.

Situasi Terbaru di Lapangan

Pada Sabtu lalu, Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan ke sejumlah target strategis di Iran, termasuk wilayah ibu kota Teheran. Serangan tersebut dilaporkan menimbulkan kerusakan besar dan korban sipil.

Sebagai respons, Iran meluncurkan serangan balasan berupa rudal ke wilayah Israel serta fasilitas militer Amerika Serikat di Timur Tengah.

Media resmi Iran mengabarkan bahwa Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan gabungan tersebut. Menyusul kabar itu, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan dimulainya operasi ofensif besar-besaran yang mereka sebut sebagai “yang paling brutal dalam sejarah angkatan bersenjata Iran”.

 

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru