Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Ateng Hartono menyampaikan Rilis Resmi Berita Statistik di Jakarta, Senin (2/3/2026). ANTARA/HO-BPS.
JAKARTA, ARAHKITA.COM — Laju inflasi Indonesia kembali bergerak naik pada Februari 2026. Setelah sempat mengalami deflasi pada Januari, Badan Pusat Statistik (Badan Pusat Statistik) mencatat inflasi bulanan (month-to-month/mtm) sebesar 0,68 persen.Lonjakan ini terutama dipicu oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau, yang menjadi penyumbang inflasi terbesar sepanjang Februari.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa kelompok tersebut memberikan andil inflasi sebesar 0,45 persen secara bulanan.
“Penyumbang utama inflasi Februari 2026 secara month-to-month adalah kelompok makanan, minuman, dan tembakau,” ujar Ateng di Jakarta, Senin (2/3/2026).
Harga Ayam, Cabai, hingga Beras Dorong Inflasi
Secara rinci, kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi 1,54 persen mtm. Beberapa komoditas yang paling berkontribusi antara lain daging ayam ras, cabai rawit, ikan segar, cabai merah, tomat, beras, dan telur ayam ras.
Tak hanya pangan, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga turut menyumbang inflasi cukup signifikan. Kelompok ini mencatat inflasi 2,55 persen mtm dengan andil 0,19 persen, yang terutama dipengaruhi oleh kenaikan harga emas perhiasan.
Volatile Food dan Inflasi Inti Ikut Menekan
Berdasarkan komponen inflasi, komponen bergejolak (volatile food) mengalami inflasi 2,50 persen mtm dengan andil 0,41 persen. Komoditas seperti daging ayam ras serta cabai rawit dan cabai merah kembali menjadi faktor utama.
Sementara itu, komponen inti mencatat inflasi 0,42 persen mtm dengan kontribusi 0,27 persen. Komoditas yang mendorong kenaikan ini antara lain emas perhiasan, minyak goreng, mobil, serta nasi dengan lauk.
Transportasi Jadi Satu-satunya Penahan Inflasi
Di tengah tekanan inflasi, terdapat satu kelompok pengeluaran yang justru mengalami deflasi, yakni transportasi. Kelompok ini mencatat deflasi 0,11 persen mtm dengan andil 0,01 persen.
Selain itu, komponen harga yang diatur pemerintah juga mengalami deflasi tipis sebesar 0,03 persen mtm. Meski secara agregat nyaris tidak berdampak, penurunan harga bensin tercatat sebagai faktor utama penahan inflasi pada komponen ini.