Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memberikan keterangan kepada wartawan di Jakarta, Selasa (9/6/2026). (ANTARA/Aria Ananda)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Pemerintah mulai menyiapkan berbagai langkah antisipasi untuk memastikan laju inflasi tetap terkendali di tengah tekanan harga sejumlah komoditas. Fokus utama diarahkan pada harga pangan yang masih bergejolak, kenaikan biaya kemasan produk, hingga biaya produksi yang berpotensi mendorong kenaikan harga di tingkat konsumen.
Upaya tersebut dilakukan agar daya beli masyarakat tetap terjaga sekaligus menjaga stabilitas ekonomi nasional. Pemerintah juga mempercepat penerbitan sejumlah regulasi yang dinilai dapat membantu menekan biaya produksi di berbagai sektor.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah terus memantau komoditas yang berpotensi memengaruhi pergerakan inflasi.
Baca juga:
Airlangga Pastikan Pertalite dan Biodiesel Aman hingga Akhir 2026 di Tengah Gejolak GlobalMenurut Airlangga, kenaikan harga emas yang sempat menjadi perhatian kini mulai mereda. Namun, tekanan dari kelompok volatile food atau harga pangan bergejolak masih menjadi tantangan utama.
"Kalau di periode yang lalu kita lihat emas naik, sekarang sudah mulai turun. Yang masih meningkat adalah volatile food," ujar Airlangga di Jakarta, Selasa.
Baca juga:
Airlangga Pastikan Pertalite dan Biodiesel Aman hingga Akhir 2026 di Tengah Gejolak GlobalSalah satu komoditas yang menjadi perhatian adalah bawang putih. Pemerintah akan melakukan berbagai langkah agar kenaikan harga pangan tersebut tidak semakin menekan inflasi nasional.
Selain pangan, pemerintah juga menyoroti meningkatnya biaya packaging atau kemasan yang berdampak langsung terhadap harga berbagai produk makanan. Karena hampir seluruh produk pangan menggunakan kemasan plastik, kenaikan biaya ini dinilai memberikan kontribusi cukup besar terhadap inflasi.
Untuk mengurangi tekanan tersebut, pemerintah mendorong percepatan penerbitan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) yang berkaitan dengan kebijakan fiskal bagi sektor terkait.
Di sisi lain, pemerintah telah menerbitkan kebijakan pembebasan bea masuk untuk LPG dan suku cadang (spare parts). Langkah ini diharapkan dapat membantu menekan biaya produksi sekaligus menjaga stabilitas harga di sektor transportasi.
Airlangga menjelaskan bahwa biaya transportasi, khususnya transportasi udara, turut memberikan pengaruh terhadap inflasi. Oleh karena itu, kebijakan bea masuk nol persen untuk LPG dan spare parts diharapkan dapat membantu menurunkan biaya operasional.
Pemerintah optimistis kombinasi berbagai kebijakan tersebut dapat meredam tekanan harga dalam beberapa waktu ke depan sehingga inflasi tetap berada pada level yang terkendali.
"Dengan berbagai langkah tersebut, kami berharap tekanan inflasi ke depan dapat semakin landai," kata Airlangga.