Loading
Presiden Amerika Serikat Donald Trump ANTARAAnadolu Ajansi
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali mengguncang pasar energi dunia. Harga minyak mentah global melonjak tajam hingga menembus level US$100 per barel, setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan menyerang fasilitas ekspor minyak utama Iran.
Lonjakan harga ini terjadi di tengah kekhawatiran investor terhadap keamanan jalur distribusi energi global, khususnya di Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran minyak paling strategis di dunia.
Harga Minyak Melonjak Tajam
Pada perdagangan Senin pagi, harga Brent crude untuk pengiriman Mei melonjak sekitar 3% menjadi US$106,18 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat untuk kontrak April naik sekitar 2% ke level US$100,66 per barel.
Kenaikan ini memperpanjang tren lonjakan harga dalam sebulan terakhir yang sudah mencapai lebih dari 50%, sekaligus membawa Brent menembus angka US$100 untuk pertama kalinya dalam empat tahun.
Kenaikan harga tersebut dipicu oleh meningkatnya ketegangan militer di kawasan Teluk dan terganggunya lalu lintas kapal tanker yang melewati Selat Hormuz.
Ancaman Trump terhadap Fasilitas Minyak Iran
Presiden AS Donald Trump pada akhir pekan menyatakan bahwa Amerika Serikat mempertimbangkan serangan lanjutan terhadap Pulau Kharg, pusat ekspor minyak utama Iran.
Dalam wawancara yang dipublikasikan NBC News, Trump bahkan menyebut kemungkinan serangan tambahan terhadap pulau tersebut.
Ia mengatakan serangan militer sebelumnya telah “menghancurkan sebagian besar pulau itu,” dan menyebut Amerika Serikat mungkin akan kembali menyerangnya.
Pernyataan tersebut langsung memicu kekhawatiran pasar energi global karena Pulau Kharg merupakan titik vital dalam ekspor minyak Iran.
Pulau Kharg, Jantung Ekspor Minyak Iran
Pulau Kharg memiliki peran strategis bagi industri energi Iran. Sekitar 90% ekspor minyak Iran dikirim dari pulau ini, menurut analis JPMorgan.
Iran sendiri memproduksi sekitar 3,2 juta barel minyak per hari, dengan ekspor sekitar 1,5 juta barel per hari.
Serangan langsung terhadap terminal ekspor minyak di pulau tersebut dinilai dapat menghentikan sebagian besar ekspor minyak Iran ke pasar global.
Menurut analis energi global, eskalasi ini berpotensi memicu reaksi keras dari Iran terhadap infrastruktur energi regional.
Risiko Pembalasan dan Krisis Energi Global
Natasha Kaneva, kepala strategi komoditas global di JPMorgan, menyebut bahwa serangan terhadap fasilitas ekspor Iran bisa memicu pembalasan besar dari Teheran, terutama di kawasan Selat Hormuz.
Selat yang sempit ini merupakan jalur vital yang biasanya dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia.
Jika jalur tersebut terganggu atau bahkan ditutup, pasar energi global berpotensi menghadapi krisis pasokan terbesar dalam sejarah modern.
Dalam laporan yang dikutip dari CNBC, para analis memperingatkan bahwa konflik di kawasan ini dapat memperburuk ketidakpastian pasokan energi global dan mendorong harga minyak terus naik.
Negara-negara Dunia Mulai Melepas Cadangan Minyak
Untuk meredam lonjakan harga dan mengatasi potensi krisis pasokan, lebih dari 30 negara telah sepakat melepaskan cadangan minyak darurat.
Total sekitar 400 juta barel minyak akan dilepas ke pasar global. Amerika Serikat sendiri akan mengeluarkan sekitar 172 juta barel dari Cadangan Minyak Strategis (Strategic Petroleum Reserve).
Badan Energi Internasional (IEA) yang berbasis di Paris mengatakan negara-negara Asia akan mulai melepas cadangan minyak dalam waktu dekat, sementara negara-negara Amerika dan Eropa diperkirakan melakukannya pada akhir Maret.Namun demikian, pemerintah AS memperingatkan bahwa langkah tersebut belum tentu mampu segera menurunkan harga minyak.
Harga Minyak Masih Berpotensi Naik
Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan situasi pasar energi masih sangat tidak pasti karena konflik militer yang sedang berlangsung.
“Tidak ada jaminan sama sekali dalam perang,” ujarnya dalam wawancara dengan ABC News.
Ia menambahkan bahwa situasi bisa menjadi jauh lebih buruk jika operasi militer terhadap Iran tidak dilakukan.
Dengan meningkatnya ketegangan geopolitik dan ancaman terhadap jalur distribusi energi global, pasar minyak diperkirakan masih akan mengalami volatilitas tinggi dalam beberapa pekan ke depan.