Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian. (Antaranews)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Di tengah memanasnya konflik di Timur Tengah, China mengambil langkah strategis dengan mengajak negara-negara Asia Tenggara untuk memperkuat kerja sama dalam menjaga keamanan energi.
Pernyataan ini disampaikan langsung oleh juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, pada Kamis (19/3/2026). Ia menegaskan bahwa situasi global saat ini telah memberikan tekanan besar terhadap stabilitas pasokan energi dunia.
Menurut Lin, konflik yang terus berlangsung di Timur Tengah bukan hanya berdampak pada kawasan tersebut, tetapi juga berpotensi mengganggu pertumbuhan ekonomi global. Karena itu, ia mendorong semua pihak untuk segera meredakan ketegangan dan menghentikan operasi militer.
“China siap memperkuat koordinasi dan kolaborasi dengan negara-negara Asia Tenggara untuk bersama-sama mengatasi tantangan keamanan energi,” ujarnya.
Dampak Nyata ke Asia
Krisis ini mulai dirasakan langsung oleh negara-negara Asia, termasuk di kawasan Asia Tenggara. Sejumlah negara kini bersiap menghadapi potensi gangguan pasokan energi, terutama dari kawasan Teluk yang selama ini menjadi sumber utama minyak dan gas.
Tak hanya energi, sektor lain juga ikut terdampak. Harga pupuk, khususnya urea, mengalami kenaikan signifikan hingga menembus lebih dari 610 dolar AS—level tertinggi sejak Oktober 2022. Kondisi ini berpotensi memicu tekanan tambahan pada sektor pertanian dan pangan.
Selat Hormuz Jadi Titik Kritis
Salah satu faktor utama yang memperburuk situasi adalah terganggunya jalur distribusi energi global di Selat Hormuz. Jalur ini selama ini menjadi urat nadi perdagangan energi dunia, dengan sekitar 20 juta barel minyak melintas setiap hari, serta menyumbang sekitar 20 persen perdagangan gas alam cair global.
Namun, meningkatnya konflik membuat jalur ini praktis terhambat, memicu kekhawatiran akan krisis energi yang lebih luas.
Peran China di Pasar Global
Di tengah situasi tersebut, China menegaskan posisinya sebagai pemain penting dalam rantai pasok global, termasuk di sektor pupuk. Selain menjadi produsen dan konsumen utama, China juga tetap mengekspor pupuk ke pasar internasional setelah memastikan kebutuhan dalam negeri terpenuhi.
Langkah ini dinilai penting untuk menjaga stabilitas pasar, terutama bagi negara-negara berkembang yang sangat bergantung pada impor dikutip Antara.
Momentum Kolaborasi Regional
Ajakan China kepada negara-negara Asia Tenggara dinilai sebagai momentum penting untuk memperkuat ketahanan energi kawasan. Dengan kerja sama yang lebih erat, negara-negara di kawasan diharapkan mampu mengurangi dampak gejolak global dan menjaga stabilitas ekonomi masing-masing.
Ke depan, kolaborasi lintas negara bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan dalam menghadapi ketidakpastian global yang semakin kompleks.