Menteri Agama Nasaruddin Umar bersama pimpinan Forum bisnis B57+ Asia Pacific Regional Chapter berfoto bersama usai Halal Bihalal di Masjid Istiqlal, Jakarta, Rabu (22/4/2026). ANTARA/HO-Forum B57+
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Indonesia semakin serius menempatkan diri sebagai pemain utama dalam industri halal global. Pemerintah bersama Forum B57+ Asia Pacific Regional Chapter kini membidik langkah strategis untuk menjadikan Indonesia sebagai motor penggerak ekonomi halal dunia.
Upaya ini ditandai dengan pertemuan dalam suasana Halal Bihalal yang mempertemukan sejumlah tokoh penting, mulai dari Menteri Agama Nasaruddin Umar, Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya, hingga Ketua Umum B57+ Asia Pacific Regional Chapter Arsjad Rasjid. Hadir pula perwakilan duta besar negara-negara anggota Organisation of Islamic Cooperation (OKI), ekonom, serta organisasi masyarakat Islam.
Dalam pertemuan tersebut, pemerintah menegaskan optimismenya terhadap masa depan ekonomi halal. Menurut Nasaruddin Umar, kehadiran B57+ Asia Pacific Regional Chapter menjadi tonggak penting dalam memperkuat kerja sama lintas negara.
“Platform ini diharapkan mampu menjawab tantangan global dengan memanfaatkan pengalaman menghadapi berbagai krisis sebelumnya,” ujarnya di Jakarta, Rabu (23/4/2026).
Ekonomi Halal: Dari Religi ke Industri Global
Ekonomi halal kini tak lagi dipandang semata sebagai bagian dari praktik ibadah. Lebih dari itu, sektor ini telah berkembang menjadi industri raksasa dunia.
Nilainya pun terus melonjak. Pada 2026, ekonomi halal global diperkirakan menembus lebih dari 3 triliun dolar AS, mencakup berbagai sektor seperti makanan halal, keuangan syariah, kosmetik, hingga gaya hidup halal.
Bahkan, proyeksi jangka panjang menunjukkan angka yang jauh lebih besar. Pada 2030, potensi ekonomi halal global diperkirakan mencapai 9,5 triliun dolar AS, menjadikannya salah satu kekuatan ekonomi baru lintas negara, budaya, dan agama.
Peran Strategis B57+ di Tengah Ketidakpastian Dunia
Ketua B57+ Asia Pacific Regional Chapter, Arsjad Rasjid, menilai bahwa di tengah kondisi global yang penuh ketidakpastian, dunia membutuhkan platform yang mampu membangun kepercayaan dan konektivitas ekonomi.
Menurutnya, ekonomi halal menjadi salah satu sektor yang paling siap berkembang karena memiliki fondasi nilai berupa kualitas, integritas, dan kepercayaan.
“Halal kini bukan hanya soal makanan, tetapi juga mencakup gaya hidup—mulai dari fesyen, kesehatan, hingga logistik dan keuangan syariah,” jelas Arsjad.
Melalui B57+, kerja sama lintas negara diharapkan dapat diterjemahkan menjadi peluang nyata melalui perdagangan, investasi, dan konektivitas bisnis yang lebih kuat.
Indonesia Punya Modal Besar
Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia dinilai memiliki posisi strategis untuk memimpin industri halal global.
Sekretaris Jenderal B57+ Indonesia, Eka Sastra, menegaskan bahwa potensi tersebut harus dioptimalkan melalui kolaborasi yang solid.
“Indonesia seharusnya bisa menjadi motor utama ekonomi halal dunia. Namun, ini tidak bisa dilakukan sendiri—dibutuhkan kerja sama yang luas,” ujarnya.
Ekspansi ke Negara Non-OKI
Tak hanya fokus pada negara anggota OKI, B57+ juga berencana memperluas jaringan ke negara-negara non-OKI. Kawasan Asia Pasifik menjadi target utama, termasuk negara-negara ASEAN seperti Vietnam, hingga Australia dan Selandia Baru.
Langkah ini dinilai penting untuk memperluas pasar sekaligus memperkuat posisi ekonomi halal sebagai ekosistem global yang inklusif dikutip Antara.
Menuju Ekosistem Halal yang Terhubung
Ke depan, tantangan terbesar bukan lagi pada potensi, melainkan bagaimana membangun sistem yang terintegrasi dan terpercaya.
Kolaborasi lintas negara, dukungan kebijakan pemerintah, serta keterlibatan sektor swasta menjadi kunci untuk memastikan ekonomi halal benar-benar memberikan dampak nyata bagi pertumbuhan global.
Dengan langkah yang semakin terarah, Indonesia kini berada di jalur strategis untuk tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga pusat penggerak industri halal dunia.