Loading
Ilustrasi Petugas menghitung mata uang Rupiah dan Dolar AS di Ayu Masagung Mon
JAKARTA, ARAHKITA.COM — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dibuka menguat pada perdagangan Rabu (13/5/2026) pagi. Mata uang Garuda naik 14 poin atau sekitar 0,08 persen ke posisi Rp17.515 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.529 per dolar AS.
Meski mengawali perdagangan dengan penguatan, analis Bank Woori Saudara Rully Nova memperkirakan rupiah masih berpeluang melemah sepanjang hari akibat meningkatnya tekanan global.
“Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan melemah dengan kisaran di Rp17.525 - Rp17.575, dipengaruhi oleh global kembali naiknya harga minyak, indeks dolar dan yield obligasi pemerintah AS akibat risiko geopolitik dan tren kenaikan inflasi,” ujar Rully di Jakarta, Rabu (13/5/2025)
Ia menilai ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor utama yang memicu kekhawatiran pasar global.
Mengutip laporan Sputnik, Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut tengah mempertimbangkan secara serius untuk melanjutkan operasi militer di kawasan Timur Tengah.
Sementara itu, Fox News melaporkan Gedung Putih sedang mengkaji kelanjutan Operation Project Freedom untuk membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz dengan keterlibatan militer yang lebih luas.
Laporan tersebut menyebut Trump semakin frustrasi terhadap sikap Iran dalam proses negosiasi konflik. Bahkan, sejumlah sumber mengatakan pemerintah AS mulai mempertimbangkan kembali operasi militer skala besar karena Selat Hormuz masih ditutup.
Di sisi lain, terdapat perbedaan pandangan di internal pemerintahan Amerika Serikat. Sebagian pihak mendukung pendekatan militer dengan serangan terarah terhadap Iran, sementara kelompok lain masih mengedepankan jalur diplomasi.
Selain isu geopolitik, pasar juga dibayangi ancaman kenaikan inflasi global. International Monetary Fund (IMF) memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia pada 2026 hanya mencapai 2,5 persen, sementara inflasi global diprediksi naik menjadi 5,4 persen jika konflik berlangsung berkepanjangan.
Dari dalam negeri, pelaku pasar turut mencermati kondisi fiskal pemerintah yang dinilai semakin sempit. Situasi itu membuat pemerintah dihadapkan pada pilihan antara memangkas prioritas anggaran atau memperlebar defisit fiskal di atas 3 persen.
Kombinasi faktor global dan domestik tersebut diperkirakan masih akan memengaruhi pergerakan rupiah dalam jangka pendek.