Loading
Karyawan memperlihatkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Selasa (12/5/2026). ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/kye
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (19/5/2026). Hingga pukul 11.02 WIB, rupiah tercatat melemah 60 poin atau sekitar 0,34 persen ke level Rp17.728 per dolar AS, dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di Rp17.668 per dolar AS.
Pelemahan rupiah kali ini dipengaruhi sentimen global yang masih dibayangi konflik di kawasan Timur Tengah. Ketegangan geopolitik tersebut memicu kenaikan harga minyak mentah dunia dan meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi di Amerika Serikat.
Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, Ariston Tjendra, menilai pasar masih berada dalam fase euforia akibat konflik Timur Tengah yang berdampak luas ke sektor ekonomi global.
Baca juga:
Gejolak dan Mengawal Rupiah“Ini masih euforia konflik Timur Tengah yang merembet ke mana-mana seperti kenaikan harga minyak mentah dan inflasi,” ujarnya di Jakarta, Selasa (19/5/2026).
Kenaikan ekspektasi inflasi di AS turut mendorong naiknya imbal hasil atau yield obligasi pemerintah Negeri Paman Sam. Kondisi ini membuat dolar AS semakin menarik bagi investor global.
Tercatat, yield obligasi pemerintah AS tenor dua tahun berada di level 4,105 persen, tenor 10 tahun di 4,631 persen, dan tenor 30 tahun mencapai 5,159 persen. Angka tersebut menjadi salah satu level tertinggi sepanjang tahun 2026.
Menurut Ariston, tingginya yield obligasi AS mendorong penguatan dolar terhadap berbagai mata uang dunia, termasuk rupiah. Investor cenderung mengalihkan dana ke aset berbasis dolar yang dianggap lebih aman di tengah ketidakpastian global.
Dari sisi domestik, tekanan terhadap rupiah juga datang dari kenaikan harga minyak mentah dunia yang sudah berada di atas 100 dolar AS per barel. Situasi ini membuat kebutuhan impor energi Indonesia meningkat dan otomatis memperbesar permintaan dolar AS di dalam negeri.
Tak hanya itu, momentum pembagian dividen perusahaan juga ikut memengaruhi pergerakan rupiah. Repatriasi dividen ke luar negeri menyebabkan kebutuhan dolar AS meningkat dalam jumlah besar.
“Selain itu, ini lagi bulan dividen, repatriasi dividen keluar negeri yang meningkatkan permintaan dolar AS juga menekan rupiah,” kata Ariston dikutip Antara.
Kondisi ini membuat pasar keuangan domestik masih berpotensi bergerak fluktuatif dalam beberapa waktu ke depan, terutama jika tensi geopolitik global belum mereda dan harga minyak dunia tetap tinggi.