Loading
Pengunjung melintas di depan layar yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (24/4/2026). ANTARA FOTO/Putra M. Akbar/bar
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Selasa (19/5/2026) berakhir di zona merah. Pelemahan tajam ini dipicu kekhawatiran investor terhadap rumor pembentukan badan khusus ekspor komoditas strategis oleh pemerintah.
IHSG ditutup turun 228,56 poin atau 3,46 persen ke level 6.370,68. Sementara indeks LQ45 yang berisi saham-saham unggulan ikut melemah 16,27 poin atau 2,50 persen ke posisi 634,82.
Tekanan jual mulai terlihat sejak awal perdagangan dan terus berlangsung hingga penutupan sesi kedua. Pelaku pasar memilih bersikap hati-hati di tengah ketidakpastian arah kebijakan ekonomi pemerintah.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, mengatakan pasar merespons negatif kabar mengenai rencana pemerintah membentuk badan khusus yang akan mengatur ekspor sejumlah komoditas strategis nasional.
Komoditas yang disebut-sebut masuk dalam skema pengaturan tersebut antara lain batu bara, Crude Palm Oil (CPO), hingga mineral logam.
Menurut Ratna, rumor itu memunculkan kekhawatiran bahwa pemerintah berpotensi melakukan pengendalian harga jual ekspor. Jika hal tersebut terjadi, margin keuntungan perusahaan dinilai bisa tertekan, terutama bagi emiten sektor energi dan bahan baku.
“Kekhawatiran investor muncul karena ada potensi penurunan profitabilitas perusahaan apabila mekanisme harga diatur melalui badan khusus,” ujarnya dalam kajian pasar di Jakarta.
Sentimen pasar juga diperkuat oleh rencana Presiden Prabowo Subianto yang dijadwalkan hadir dalam Rapat Paripurna DPR pada Rabu (20/5/2026). Dalam agenda tersebut, Presiden akan menyampaikan pidato terkait Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) RAPBN 2027.
Agenda ini menjadi perhatian pasar karena merupakan kali pertama dokumen KEM-PPKF disampaikan langsung oleh kepala negara di hadapan DPR. Sebelumnya, penyampaian dokumen tersebut umumnya dilakukan oleh Menteri Keuangan.
Selain itu, investor juga menanti hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang akan diumumkan pada Rabu. Konsensus pasar memperkirakan Bank Indonesia akan menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5 persen guna menahan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Di tengah tekanan pasar, data pertumbuhan kredit April 2026 diperkirakan masih menunjukkan tren positif. Kredit perbankan diproyeksikan tumbuh 9,7 persen secara tahunan atau year on year (yoy), sedikit lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Maret 2026 sebesar 9,49 persen yoy.
Semua Sektor Terkoreksi
Berdasarkan indeks sektoral IDX-IC, seluruh sektor saham mengalami pelemahan. Sektor barang baku menjadi yang paling tertekan dengan penurunan mencapai 7,54 persen.
Sementara itu, sektor energi turun 6,89 persen dan sektor transportasi & logistik melemah 6,60 persen.
Di sisi lain, beberapa saham masih mampu mencatat penguatan, di antaranya LCKM, RELI, ASPR, UDNG, dan CINT.
Sedangkan saham dengan penurunan terdalam ditempati oleh DSNG, ELPI, TAPG, ICON, dan DFAM.
Aktivitas perdagangan saham tercatat cukup tinggi dengan frekuensi transaksi mencapai 2,8 juta kali. Total volume perdagangan mencapai 46,07 miliar lembar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp25,80 triliun.
Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, sebanyak 112 saham menguat, 612 saham melemah, dan 94 saham stagnan dikutip Antara.
Bursa Asia Bergerak Variatif
Pergerakan bursa saham Asia pada Selasa sore menunjukkan hasil yang beragam. Indeks Nikkei tercatat melemah 0,12 persen, sementara indeks Hang Seng menguat 0,48 persen.
Adapun indeks Shanghai naik 0,92 persen dan Straits Times menguat 1,51 persen.
Pelaku pasar global saat ini masih mencermati arah kebijakan ekonomi, dinamika suku bunga, serta potensi intervensi pemerintah di sektor komoditas yang dinilai dapat memengaruhi iklim investasi ke depan.