Evaluasi MSCI Jadi Alarm Sekaligus Peluang, Ekonom Dorong Perbaikan Tata Kelola Pasar Indonesia


 Evaluasi MSCI Jadi Alarm Sekaligus Peluang, Ekonom Dorong Perbaikan Tata Kelola Pasar Indonesia Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian. (ANTARA/Maria Cicilia Galuh)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) untuk tetap menempatkan Indonesia dalam kategori Emerging Market disambut positif oleh pelaku pasar. Namun di balik kabar baik tersebut, terdapat sejumlah catatan yang dinilai penting untuk segera dibenahi agar daya saing pasar keuangan Indonesia semakin kuat di mata investor global.

Chief Economist Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menilai hasil evaluasi MSCI seharusnya tidak hanya dipandang sebagai pengakuan terhadap kekuatan fundamental ekonomi Indonesia, tetapi juga sebagai momentum untuk memperbaiki tata kelola pasar.

Menurutnya, keputusan MSCI mempertahankan Indonesia dalam kelompok Emerging Market menunjukkan bahwa perekonomian nasional masih memenuhi standar utama yang menjadi acuan investor internasional.

"Keputusan MSCI tetap mempertahankan Indonesia dalam kelompok Emerging Market tentu merupakan kabar positif karena menunjukkan secara fundamental Indonesia masih memenuhi kriteria utama sebagai bagian dari indeks yang menjadi acuan investor global,"ujar Fakhrul di Jakarta, Senin (22/6/2026).

Transparansi Jadi Sorotan Utama

Meski status Indonesia tetap aman, Fakhrul menilai perhatian terbesar justru harus diarahkan pada sejumlah catatan MSCI terkait transparansi dan aksesibilitas pasar.

Dalam dunia investasi modern, investor tidak hanya melihat potensi pertumbuhan ekonomi atau murah-mahalnya valuasi aset. Mereka juga mempertimbangkan kualitas institusi, kepastian regulasi, konsistensi kebijakan, hingga kemudahan memperoleh informasi yang setara.

Karena itu, catatan yang diberikan MSCI menjadi pengingat bahwa kepercayaan investor dibangun melalui tata kelola pasar yang kredibel dan transparan.

"Pasar modern bekerja berdasarkan ekspektasi. Ketika investor merasa terdapat ketidakpastian mengenai aturan, mekanisme pasar, atau proses pengambilan kebijakan, mereka akan meminta premi risiko yang lebih tinggi atau bahkan menunda investasi," jelasnya dikutip Antara.

Fakhrul menambahkan, isu transparansi selama ini memang menjadi perhatian investor asing. Beberapa hal yang sering disoroti antara lain konsistensi komunikasi kebijakan pemerintah, kejelasan arah reformasi ekonomi, serta mekanisme pasar yang mendukung pembentukan harga secara sehat dan efisien.

Modal Indonesia Masih Sangat Kuat

Di sisi lain, Fakhrul melihat evaluasi MSCI sebagai peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan daya tarik investasi jangka panjang.

Indonesia memiliki sejumlah keunggulan yang sulit diabaikan, mulai dari ukuran ekonomi yang besar, jumlah investor domestik yang terus bertambah, hingga prospek pertumbuhan yang relatif lebih baik dibandingkan banyak negara lain.

Apabila pemerintah dan regulator mampu terus meningkatkan transparansi, memperkuat kepastian regulasi, serta menjaga kualitas komunikasi kebijakan, maka posisi Indonesia di pasar global akan semakin kompetitif.

"Status Emerging Market memang penting. Namun yang lebih penting adalah memastikan Indonesia menjadi pasar yang dipercaya. Dalam jangka panjang, kepercayaan akan menentukan apakah modal global datang, bertahan, dan terus berkembang di Indonesia," kata Fakhrul.

Pemerintah dan OJK Percepat Reformasi Pasar Modal

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa catatan MSCI sejalan dengan berbagai reformasi yang saat ini sedang dipercepat oleh pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Bursa Efek Indonesia (BEI).

Beberapa langkah yang telah dan sedang dijalankan antara lain:

  • Peningkatan batas free float saham dari 7,5 persen menjadi 15 persen guna memperkuat likuiditas pasar.
  • Penguatan transparansi pemilik manfaat akhir atau Ultimate Beneficial Owner (UBO).
  • Keterbukaan informasi pemegang saham dengan kepemilikan di atas 1 persen.
  • Percepatan proses demutualisasi Bursa Efek Indonesia.
  • Pendalaman pasar melalui peningkatan batas investasi saham bagi dana pensiun dan perusahaan asuransi hingga 20 persen dengan fokus pada saham-saham LQ45.
  • Penguatan penegakan aturan dan sanksi.
  • Peningkatan kualitas tata kelola perusahaan emiten.
  • Penguatan sinergi antar pemangku kepentingan di pasar modal.

Dua Indikator Indonesia Mengalami Penurunan

Dalam laporan Global Market Accessibility Review 2026 yang dirilis MSCI pada 19 Juni 2026, penilaian terhadap pasar modal Indonesia secara umum relatif stabil.

Namun, MSCI mencatat penurunan pada dua indikator penting, yakni Information Flow (arus informasi) dan Foreign Exchange Market Liberalization Level (tingkat liberalisasi pasar valuta asing) yang berubah dari tanda positif ("+") menjadi negatif ("-").

Meski belum mengubah status Indonesia sebagai Emerging Market, penurunan tersebut menjadi sinyal bahwa upaya peningkatan transparansi, keterbukaan informasi, dan efisiensi pasar masih perlu terus diperkuat.

Bagi Indonesia, evaluasi MSCI kali ini bukan sekadar rapor tahunan, melainkan kesempatan untuk memperkuat fondasi pasar keuangan agar semakin dipercaya investor global dan mampu menarik arus modal yang lebih besar di masa depan.

 

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru