Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjawab pertanyaan awak media usai menghadiri Musyawarah Anggota Asosiasi Emiten Indonesia 2026 di Jakarta, Selasa (11/8/2026). ANTARA/Harianto/pri.
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Gejolak geopolitik global masih menjadi perhatian pemerintah, terutama karena konflik di Ukraina dan Timur Tengah berpotensi memengaruhi harga energi dunia. Namun, pemerintah memastikan kondisi tersebut belum mengganggu pasokan energi di dalam negeri.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pasokan Pertalite dan biodiesel di Indonesia masih aman hingga akhir 2026. Pemerintah juga masih mampu menjaga kebutuhan energi nasional di tengah pergerakan harga minyak dunia.
“Indonesia sekarang pembelian minyaknya masih rata-rata di angka 91 dolar Amerika Serikat per barel. Itu relatif sampai akhir tahun, at least Pertalite dan biodiesel aman,” kata Airlangga di Jakarta, Selasa (11/8/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan Airlangga saat menghadiri Musyawarah Anggota Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) 2026 bertajuk Regaining Investor Trust: Navigating the Future of Indonesian Listed Companies.
Harga Minyak Dunia Masih Menjadi Perhatian
Menurut Airlangga, perekonomian global pada semester kedua 2026 masih menghadapi sejumlah tantangan. Konflik Rusia-Ukraina dan ketegangan di Timur Tengah belum sepenuhnya berakhir. Kondisi tersebut ditambah dengan meningkatnya perhatian terhadap situasi di kawasan Selat Hormuz.
Harga minyak dunia, kata dia, menjadi salah satu indikator penting untuk melihat seberapa besar dampak konflik geopolitik terhadap perekonomian.
Baca juga:
Airlangga: Hilirisasi, Manufaktur, dan Sektor Makanan-Minuman Jadi Mesin Pencipta Lapangan KerjaAirlangga menilai pergerakan harga minyak dapat berubah cukup cepat mengikuti perkembangan geopolitik dan kebijakan negara-negara yang terlibat.
“Kita selalu melihat bahwa kalau harga minyak di atas 110 dolar Amerika Serikat per barel, itu biasanya ada ceasefire atau ada tweet,” ujarnya.
Meski demikian, pemerintah saat ini masih melakukan pembelian minyak dengan harga rata-rata sekitar 91 dolar AS per barel. Kondisi tersebut dinilai masih cukup mendukung upaya pemerintah menjaga ketersediaan bahan bakar di dalam negeri.
“Jadi bagi Indonesia relatif, Indonesia masih melihat dengan situasi harga minyak yang tidak di atas 100 dolar Amerika Serikat per barel. Artinya Indonesia sekarang pembelian minyaknya masih rata-rata di angka 91 dolar Amerika Serikat per barel,” kata Airlangga dikutip Antara.
Dengan kondisi tersebut, pemerintah memastikan pasokan Pertalite dan biodiesel relatif aman hingga akhir tahun.
Pasokan Listrik Juga Dinilai Relatif Aman
Selain BBM, pemerintah juga melihat kondisi pasokan listrik nasional masih cukup baik.
Airlangga menjelaskan, sebagian besar pembangkit listrik Indonesia masih menggunakan sumber energi domestik, terutama batu bara. Penggunaan energi domestik tersebut menjadi salah satu faktor yang membantu Indonesia mengurangi dampak langsung dari gejolak harga energi global.
“Dan yang lain, tentu kalau masalah listrik, itu kita kebanyakan dibiayai oleh indigenous energy, yaitu batu bara. Sehingga juga tidak ada lonjakan harga dari batu bara,” jelasnya.
Menurutnya, struktur energi tersebut memberikan ruang bagi Indonesia untuk menjaga biaya energi sekaligus mempertahankan stabilitas pasokan listrik ketika harga energi internasional bergerak naik turun.
Pasokan Gasoline tidak Bergantung pada Selat Hormuz
Airlangga juga menjelaskan mengenai pasokan gasoline untuk kebutuhan sektor hilir. Menurut dia, pasokan Indonesia berasal dari Singapura melalui jalur Selat Malaka.
Artinya, jalur pasokan tersebut tidak secara langsung bergantung pada lintasan pengiriman melalui Selat Hormuz yang saat ini menjadi salah satu kawasan yang mendapat perhatian karena ketegangan geopolitik.
Struktur pasokan tersebut dinilai menjadi salah satu faktor yang membantu Indonesia memitigasi risiko dari gejolak geopolitik global.
Pemerintah pun masih melihat aktivitas ekonomi nasional dapat berjalan relatif baik di tengah ketidakpastian tersebut.
Ekonomi Indonesia Tetap Tumbuh
Stabilitas energi juga menjadi salah satu faktor pendukung ketahanan ekonomi nasional. Airlangga menyebut ekonomi Indonesia tumbuh 5,45 persen pada semester pertama 2026.
Menurut dia, capaian tersebut menempatkan Indonesia di antara negara dengan pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi di kawasan ASEAN maupun kelompok negara G20.
“Jadi ini relatif (baik) dibandingkan berbagai negara ASEAN ataupun G20, Indonesia masih top three atau top two,” ucapnya.
Di sisi lain, inflasi Indonesia juga disebut masih terkendali pada level 2,88 persen.
Airlangga mengatakan kondisi tersebut patut diapresiasi karena sejumlah negara menghadapi tekanan inflasi akibat kenaikan harga minyak dan transmisi biaya energi ke berbagai sektor ekonomi.
“Jadi berbagai negara tentu dengan transmisi daripada harga minyak, inflasinya tinggi, tapi Indonesia alhamdulillah kita masih bisa menjaga angka inflasi yang ada,” kata Airlangga.
Menjaga Energi, Menjaga Ekonomi
Bagi Indonesia, stabilitas pasokan energi menjadi bagian penting dalam menjaga daya tahan ekonomi menghadapi ketidakpastian global.
Selama harga minyak dunia masih berada dalam kisaran yang dapat dikelola dan jalur pasokan energi tetap berjalan, pemerintah optimistis kebutuhan BBM dan listrik nasional dapat dipenuhi.
Pemerintah pun terus memantau perkembangan konflik global, harga minyak, serta jalur perdagangan energi internasional. Perkembangan faktor-faktor tersebut akan menjadi penentu penting bagi kondisi energi dan ekonomi Indonesia hingga akhir 2026.